Sekumpulan Puisi Agus Sanjaya

Juli 2022
Oleh: Redaksi

Candi di Atas Sawah Padi

Oleh Agus Sanjaya

 

Di atas gunung penanggungan, aku dan putriku bersarang. Setiap hari kami memupuk kesaktian.

Satu pintaku pada Bathara, putriku segera dipinang orang.

 Tinggi pohon lekas berbuah, harapanku telah ada di depan mata. Pemuda gagah datang dengan mimpinya. “izinkan saya menimba ilmu dari panjenengan, Kyai.”

 “tentu saja, tapi kau harus menikahi putriku,” kataku memberi syarat. Dia mau menerima. Pesta pernikahan terlaksana dengan bahagia.

 “bawa dan tanamlah padi ini, jika ada yang butuh. kalian wajib memberinya!” kataku mengikat janji. Sepasang pengantin itu, meninggalkan keremangan gunung. Aku melepasnya dengan tetes haru.

 Sudah lama aku tak melihat putri dan menantu. Aku memutuskan untuk bertamu. tapi pemandangan yang kulihat membuat malu. Keduanya menghantam janji.

 “jika kau ingin beras, kau harus bekerja keras!” kata menantuku angkuh. Aku menyapa dari jauh, tak ada yang mau menjawab. Termasuk putriku sendiri.

 “Walangangin, Jaka Pandelegan. Kalian tak bisa menjawabku, persis sebuah candi.” Setelah kutuk kulempar, sebuah candi besar berdiri di sawah padi.

6 Juni 2022

Berdasarkan cerita rakyat dari daerah Sidoarjo, Jawa Timur.

 

Kolam Itu Seperti Terpanggang

 

Sunan Margi memang seperti surya

yang perlahan mengusir gulita

tetapi saat perjalanan ke barat

dan ingin rehat sejenak

banyak orang yang menolak kehadirannya

 

Mungkin mereka itu mencintai kegelapan

hingga menanam benih-benih benci

untuk menentang kebenaran

 

Saat sang sunan bertanya dengan halus, “permisi, apa saya boleh meminta sedikit air kolam untuk berwudu?”

Tatapan orang-orang tak bersahabat.

“enak saja kau, pergi sana! kami tak ingin melihatmu.”

 

Perkataan tajam bagai belati

sukses menyayat hati

sunan memutuskan pergi

tanpa mengambil air seujung jari

 

Tuhan melaknat kekikiran mereka

perlahan kolam surut,

lalu habis tanpa sisa

tanahnya kering seperti terpanggang bara

 7 Juni 2022

Kolam dalam bahasa setempat disebut ‘Balong’

Berdasarkan cerita rakyat dari daerah Gresik, Jawa Timur.

 

Berakhirnya Kehausan Desa

 

kemarau mencekik daun-daun sampai sekarat

juga membuat Dewi Laras yang tengah bunting

ikut gelisah kehausan

 

dia berusaha menerjang bukit tinggi

saat tak ditemukan air

Dewi Laras turun kembali dengan kerengkelan*

 

di saat yang tepat

perempuan itu bertemu Ki Kumbang Jaya dan Ki Jala Ijo

yang mencari ketenangan dari dalam mulut gua

 

keduanya menusuk perut tanah dengan tongkat yang dimiliki

dengan kuasa Tuhan yang maha baik

air memancar tanpa henti

muncul bulus dan ikan-ikan bergembira

 

saat pancarannya berakhir

tanah desa menjadi basah

tiada lagi yang berdahaga

dan orang-orang mulai berdatangan

 

10 Juni 2022

 

*artinya bersusah payah, lama-lama istilahnya berubah menjadi rengel. cikal bakal nama daerah tersebut

Berdasarkan cerita rakyat dari daerah Tuban, Jawa Timur.

Mendapatkan Hati Kemuning Raja

 Raja memiliki sekuntum kemuning kesayangan

Harumnya bagai taman di kayangan

Tetapi secara tiba-tiba, bunga kehilangan wanginya

Berganti aroma bangkai yang menguat

 

Raja diliputi murung dan bingung

Entah takdir apa yang menimpa bunganya?

Ia lalu menyempurnakan tapa

Untuk meminta jalan terang dari Sang Kuasa

 

Sebuah suara berkata,

“Ambil daun sirna ganda di Gunung Arga Dumadi, maka penyakit bungamu akan terobati!”

 Sayembara besar tercipta

Jika pemenang adalah lelaki, maka berhak mencuri hati

Jika seorang perempuan, maka menjadi saudara

Semua orang berbondong mengikutinya

 

Seorang lelaki berkudis dan miskin datang pada raja

Menyanggupi ikut sayembara

Tentu semua orang meragukan kemampuannya

 

Lelaki berkudis mendaki gunung, menelanjangi hutan

Hingga menemukan gua; tempat daun sirna ganda berehat

Sekaligus kediaman sosok besar yang menyemburkan api

Lelaki berkudis takkan mau melangkah pergi

 

Ia menghunjamkan keris pada perut naga

Darah segar menjadi rintik hujan

Membasahi tubuh lelaki berkudis

Hingga keajaiban tercipta, kulit lelaki itu bersih sempurna

 Pria tampan itu memetik daun sirna ganda

Kembali ke istana dengan bersuka ria

Semua orang memandangnya dengan beribu tanya

Siapa orang asing yang berhasil memenangkan sayembara?

 11 Juni 2022

 

Berdasarkan cerita rakyat dari daerah Ngawi, Jawa Timur.

 

Tentang Penulis

 Agus Sanjayalahir di Jombang, 27 Agustus 2000. Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Nasional (Komunitas Sekolah Seru, 2019), Juara 3 Event Menulis Puisi Nasional (Arras Media, 2021), serta Juara 2 Lomba Menulis Puisi Ramadan COMPETER Indonesia. Buku pertamanya berjudul Akar Kuning Nenek, serta keduanya berjudul Lima Sekawan terbit di Guepedia tahun 2020. Saat ini ia tengah sibuk kuliah, menimba ilmu di COMPETER Indonesia dan Kelas Puisi Bekasi (KPB). Karya-karyanya banyak terangkum di antologi bersama, juga di media online seperti: Riau Sastra, Kosana.id, Cerano.id, Sastra Indonesia.org, Nolesa.com, Metamorfosa.co.id, Suku Sastra.com, Dermaga Sastra, Pahatan Sastra, Tirastime, Mbludus, Negeri Kertas.com, Inside Lombok, Suara Krajan.Com, serta Ngewiyak.Com.

 

Contact

Nama lengkap             : Agus Sanjaya

Nomor Telepon/Wa   : 081934787527

Alamat lengkap          : Dusun Mancar Barat, RT 009 RW 003, Desa Mancar, Kecamatan Peterongan,

                                      Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 61481

Email                          : agussanjaya270800@gmail.com

Instagram          : @agussanjay27

 

 

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist