POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

RedaksiOleh Redaksi
July 1, 2022
SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU
🔊

Dengarkan Artikel

Bagian 3

Bussairi D. Nyak Diwa

Tahun pertama aku menjadi siswa SMP adalah tahun tersulit dalam hidupku. Bayangkan, sekolah yang terletak di ibukota kecamatan itu jauhnya kurang lebih 12 kilometer dari kampung tempat kelahiranku. Waktu itu jalan-jalan masih sangat jelek, karena jangankan beraspal, aspal pun belum dikenal. Jika musim hujan jalan-jalan becek seperti berjalan di dalam lumpur. Sedangkan apabila di musim kemarau, maka tanah-tanah mengeras dan jalan-jalan bergelombang serta berlubang-lubang. Jika menaiki sepeda sama-sama susah, baik di musim hujan maupun di musim kemarau.

Memang, untuk memudahkan aku ke sekolah, ayah membelikan aku sebuah sepeda. Sepeda perempuan, sebut teman-temanku. Dikatakan sepeda perempuan karena sepeda seperti itu sering digunakan oleh kaum perempuan. Teman-temanku memberinya gelar ‘sepeda unta’. Tapi dengan keadaan jalan seperti itu, sepeda itu seperti tidak berfungsi.

📚 Artikel Terkait

PENDARATAN DARURAT

Praktik Baik Kontribusi Sekolah Perempuan Untuk Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

PESTA ITU TELAH USAI

Konsekuensi Hukum Bila Ijazah Jokowi Terbukti Palsu

Agar jangan terlambat sampai di sekolah aku harus bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat ke sekolah. Biasanya setiap malam sebelum tidur, ibu menyiapkan nasi untuk sarapan pagi sebelum aku berangkat. Jadi setiap pagi perutku diganjal oleh nasi dingin sebelum berangkat menembus pagi yang dingin. Sebagai kawan nasi, ibu cukup merebus telur ayam kampung sebutir setiap pagi.

Ada keasyikan tersendiri ketika kami bergerombol menembus pagi berangkat ke sekolah. Di pagi yang masih remang-remang, aku dan teman-teman berangkat bersama-sama. Demikian juga sorenya ketika sekolah bubar, kami pulang juga bersama-sama. Jika ada teman yang tertinggal atau ketelatan, kami pasti menuggunya hingga bersama-sama memasuki pintu gerbang sekolah atau bersama-sama pulang meninggalkan pekarangan sekolah hingga sampai di rumah masing-masing. Kecuali jika ada di antara kami yang berhalangan atau dalam keadaan sakit.

Dari kampungku ke sekolah ada dua sungai yang harus kami seberangi dengan rakit bambu karena belum ada jembatan. Jika rakitnya di seberang, maka di pagi yang dingin itu di antara kami siap berjibaku berenang ke seberang sungai untuk mengambil rakit agar semua teman-teman dapat menyeberang dengan selamat. Tidak pernah kami berdebat, siapa yang akan terjun ke sungai berenang menyeberang mengambil rakit. Yang pasti, khususnya bagi kami anak laki-laki adalah merupakan kebanggaan jika dapat mengambil rakit dan menyebarangkan teman-teman. Begitu tingginya rasa sosial dan kesetiakawanan kami di masa itu.

Teman-teman yang perempuan selalu penuh perhatian. Mereka sering mentraktir kami di jalan pulang dengan sepotong ‘tebu betung’ yang manis seperti gula atau dengan sebuah ‘pisang brat’ yang besarnya sebesar lengan orang dewasa. Anak-anak perempuan tahu bahwa kami anak laki-laki senantiasa melindungi mereka. Itulah sebabnya mereka, anak-anak perempuan itu dengan sukarela berbagi dengan sedikit rezeki yang mereka punya. Mereka sering menyisihkan sedikit jajan mereka untuk kami anak laki-laki, terutama bagi kami yang terkadang tidak memiliki uang jajan. Tidak hanya berbagi uang jajan, para cewek-cewek itu juga sering berbagi jawaban ‘pe-er’ terutama diantara kami yang satu kelas. Mereka tahu bahwa di antara kami ada yang malas atau tidak sempat mengerjakan ‘pe-er’ karena sibuk membantu orang tua di sawah atau di kebun. Atau kelupaan mengerjakannya karena hal-hal lain. Begitulah keseharian kami kala itu dalam berjuang untuk meraih cita-cita.

(bersambung)  

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Angkara

Angkara

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00