Dengarkan Artikel

Oleh Ahmad Rizali
Berdomisili di Depok
Awan hitam di langit arah selatan dari stasiun KRL Pondok Cina membuatku bergegas menjeberangi jalan Margonda dan dengan cepat memasuki Gramedia (niatnya neduh sembari sight seeing). Sebelum Toko Buku (d/h) ini ada, kami sekeluarga sering berkunjung ke Gramedia Bogor, di depan masjid besar samping terminal Baranangsiang.
Berkunjung ke Gramedia selalu menyenangkan anak anakku, karena mereka pasti membawa buku yang mereka senangi saat pulang dan sebelum pulang. Biasanya kami mengudap makanan yang kami sukai. Seringkali sekadar pecel lele di warung tenda emperan toko. Hasil dari Gramedia masih terlihat selemari, penuh buku komik serial Dragon Ball, Kungfu Boy, Detektif Conan dan entah komik apalagi, termasuk teenlit jaman itu.
Buku di rak di depan ujung eskalator berisi buku-buku terlaris, salah satunya Homo Sapiens dan saya masih kenal pengarangnya, Yuval Noah Harari, diterjemahkan. Yang mengejutkan, terjemahan buku karya Dale Carnegy “How To Win Friends and Influence Peoples” juga masuk terlaris. Ini buku terjemahan yang kubaca di tahun 1970an.
📚 Artikel Terkait
Yang juga mengagumkan adalah, Tere Liye. Pengarang ini karyanya puluhan dan dipajang memenuhi 1 rak tersendiri. Dahsyat, sangat produktif dan era Asma Nadia, teenlit book bernuansa agama sudah lewat masanya. Jujur, aku tak pernah membaca karya Asma Nadia dan Tere Liye, namun pasti hebat karena mampu memukau ribuan pembacanya.
Puluhan rak berjudul “Novel” aku tengok satu demi satu. Luar biasa. Banyak sekali pengarang Novel baru yang tak kukenal tersebar di antara sedikit buku karya Leila Chudori, Dee Lestari dan Ahmad Tohari serta Pram. Aku juga tak faham, baguskah isinya ? Yang pasti, berani diterbitkan, pasti ada sesuatu yang dicium oleh penerbit, ada “Cuan” di sana.
Aku pun klayapan ke rak lain. Kesanku, penerbit membaca kesan “desperado” dari manusia calon pembeli, karena selain novel, “penguasa” lapak tetaplah buku bernuansa agama baik Islam, Kristen dan yang lain termasuk buku “motivasi”. Bahkan novel dan buku anak serta motivasipun, beraroma agama. Calon pembaca Indonesia nampaknya semakin religius.
Elexmedia Komputindo, jawara penerbitan komik, buku-bukunya juga mulai menguasai lapak. Komik manga entah terjemahan atau karya penggambar lokal memenuhi beberapa rak di dekat “Children’s Book” yang tak juga berkembang, meski sedikit ada kemajuan dari beberapa karya khusus.
Apakah aku membeli buku? Tidak. Karena di rumah, masih puluhan buku menunggu kubaca dan rasanya uang 50.000 saat usia seperti ini menjadi semakin berarti untuk dibelanjakan selain untuk buku, meskipun kepingin juga aku membaca karya Tere Liye, agar faham dan punya dasar untuk berkomentar.
Di Gramedia tadi, saya juga masih melihat karya pengarang tua, Alm Sapardi, Yudistira Adi Nugraha, bahkan cerpenis remaja di majalah populer Gadis, Emji Alif. Yang menarik, dipajang pula karya-karya sastra ringkasan peraih Nobel seperti buku (ukuran) “saku baju” beneran dan tipis, karya terjemahan Ernest Hemingway “The Old Man and The Sea” dan beberapa karya lain seperti “Dracula” Stoker.
Saat pulang sembari jalan kaki aku merenung, luar biasa “blooding” Gramedia itu, pasti sebelum pandemipun mereka menerima “infus darah” dari bisnis lain. Jika yang dipikirkan hanya “profit” pasti sudah sejak beberapa tahun yang lalu Gramedia akan ditutup oleh pemiliknya, my feeling it is more than a business but merely a committment on educating nation, GBU.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





