POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tradisi Arak-Arakan Pengantin Dengan Iringan Rebana Dalam Pernikahan Adat Jawa Di Gampong Lengkong

RedaksiOleh Redaksi
April 15, 2021
🔊

Dengarkan Artikel



Sumber foto: Google

Penulis: Nevilia Agustryanti, (Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Prodi Perbankan Syariah IAIN Langsa)

Rebana biasanya dikenal sebagai instrument khas pengiring musik atau syair-syair Arab dan rebana ini pertama kali ditemukan pada abad ke-6 M saat Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah pada saat mereka menyambut Rasulullah SAW. Pertama kali rebana masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Hijriyah, dimana rebana ini diperkenalkan oleh ulama besar dari negeri Yaman yang bernama Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi.

 Habib Ali menggunakan rebana tersebut ke Indonesia dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam. Di samping itu juga Ali Habsyi mendirikan majelis shalawat sebagai sarana kecintaan terhadap Rasulullah SAW dan kemudian majelis tersebut menyebar ke daerah Kalimantan dan Jawa. Beliau juga sempat mengarang sebuah buku yang berjudul “Simthu Al-Durar” yang di dalamnya berisi bacaan-bacaan salawat dan pujian kepada Rasulullah SAW. Bahkan sering kali dalam memperingati acara maulid Nabi Muhammad SAW. Kitab inilah yang sering dibaca dan diiringi dengan alat musik rebana tersebut.

📚 Artikel Terkait

Ironi Literasi Numerasi Anak Negeri

Pidie Jaya Semakin Bergelora Menyiapkan Penulis Andal Sejak Dini

Legenda Sungai Indung

Teungku H. Mahyiddin Yusuf:

Rebana ini sendiri memiliki arti sebagai salah satu alat musik tradisional seperti yang kita ketahui berasal dari daerah Timur Tengah dan biasanya rebana ini digunakan pada saat acara kesenian. Kini alat musik rebana tersebut sudah menyebar dan berkembang di Indonesia dan digunakan oleh masyarakat pedesaan contohnya seperti di Gampong Lengkong. Rebana ini sendiri memiliki bentuk yang khas yakni berbentuk bundar dan pipih yang terbuat dari kulit kambing dengan bingkai berbentuk lingkaran yang terbuat dari kayu yang dibubut. Pada masyarakat Aceh rebana ini lebih dikenal dengan sebutan Rebana Kompang yang sejak lama sudah menjadi bagian dari alat musik tradisional masyarakat Aceh, bahkan rebana ini juga dimainkan dan digunakan di Kota Langsa khususnya di masyarakat Gampong Lengkong.. 

Namun, di Gampong Lengkong biasanya rebana ini digunakan sebagai iringan untuk sambutan salawat, kasidahan, Israj Miraj, tasyakuran, peringatan hari besar Islam dan aktivitas kesenian yang bertujuan untuk menjadi pengiring nyanyian vocal. Biasanya nyanyian ini dibawakan oleh sekelompok perempuan ataupun laki-laki yang dinyanyikan dalam bentuk salawat. Cara memainkan alat musik rebana ini yaitu dengan cara dipukul dengan menggunakan telapak tangan dan tidak menggunakan alat pukul seperti stik dan alat pukul lainnya. Demikian juga dengan posisi pemain alat musik rebana ini biasanya duduk atau berdiri saat memainkannya. Tidak jarang pula ketika mereka memainkan rebana ini mereka menambahkan sedikit gerakan gerakan kecil yang serentak dan kompak sebagai pemanis agar tidak terlalu monoton, yang bertujuan untuk membuat masyarakat yang melihatnya menjadi tertarik dengan acara-acara kesenian tersebut.

Dalam masyarakat Gampong Lengkong kesenian rebana ini selain digunakan di acara-acara hari besar Islam dan lainnya, rebana ini juga digunakan dalam acara tradisi adat, salah satunya dalam tradisi adat pesta pernikahan. Tradisi ini merupakan adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang, dimana tradisi adat ini masih dijalankan dan digunakan di tengah-tengah masyarakat Gampong Lengkong hingga saat ini. Tradisi pernikahan adat Jawa ini juga merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang yang harus kita jaga dan kita lestarikan bersama-sama agar tidak hilang. Jika tidak, maka tradisi pernikahan secara adat tersebut akan terasa kurang dan tidak lengkap apabila salah satu tradisi dari proses pernikahan tersebut tidak dilaksanakan. Tradisi ini sendiri memiliki nilai serta tujuan bagi yang melaksanakan. 

“Tradisi arak-arakan pengantin yang menggunakan iringan rebana ini memang sudah ada dari zaman dulu, karena ini tradisi turun temurun dari nenek moyang.  Sebagai masyarakat saya merasa bangga tentunya karena dengan dijalankannya tradisi ini kita berarti sudah menjaga dan melestarikannya, waktu acara pernikahan anak saya pun saya juga menggunakan tradisi arak-arakan menggunakan iringan rebana ini“,ujarIbu Widya yang merupakan salah satu masyarakat Gampong Lengkong.

Meskipun tradisi arak-arakan pengantin ini kian luntur dikarenakan zaman semakin modern dan maju, namun oleh warga Gampong Lengkong tradisi arak-arakan pengantin diiringi rebana ini masih dilestarikan. Hal ini dilakukan dikarenakan sebagian masyarakat sudah jarang terlihat memakai rebana sebagai iringan arak-arakan dalam tradisi pernikahan adat Jawa tersebut. Dengan demikian, masyarakat Gampong Lengkong melestarikan kembali tradisi ini, karena ini merupakan salah satu adat budaya Indonesia yang wajib dijaga dan dikembangkan agar kelak generasi muda yang akan datang tidak hanya sebatas mengetahui namanya saja, tetapi juga harus mengetahui bentuk-bentuknya serta cara memainkannya seperti apa. 

Tradisi arak-arakan pernikahan di Gampong Lengkong ini juga mempunyai maksud dan tujuan tertentu, disamping untuk melestarikan dan menjalankan tradisi yang sudah turun temurun dari nenek moyang bagi masyarakat, ini juga bermaksud untuk memberitahukan dan menginformasikan kepada seluruh masyarakat di Gampong Lengkong bahwa telah dilaksanakannya acara pernikaha,n sehingga tidak menimbulkan fitnah bagi masyarakat itu sendiri. Arak-arakan ini biasanya dilakukan satu hari setelah akad nikah atau dihari H pernikahan itu sendiri.

Dalam tradisi arak-arakan pernikahan adat Jawa ini biasanya pengantin laki-laki berjalan kaki dengan seluruh rombongan menuju ke kediaman pengantin perempuan, serta diiringi dengan alat musik tradisional rebana yang biasa digunakan sebagai alat musik arak-arakan pernikahan, dan rombongan biasanya akan berhenti memainkan rebana ini ketika mereka sudah sampai dimana acara pesta pernikahan itu berlangsung. Rebana yang dipakai ini juga biasanya mempunyai berbagai ukuran yakni mulai dari yang berukuran besar, sedang, sampai yang berukuran kecil. Oleh karena itu, saat arak-arakan pengantin adat Jawa ini dilaksanakan pada hari pernikahan maka kesenian ini pun menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat sekitar yang melihatnya karena dinilai memiliki keunikan tersendiri dan ini juga menjadi salah satu adat budaya dalam pernikahan masyarakat adat Jawa tersebut. Maka dari itu tradisi arak-arakan pengantin menggunakan iringan rebana dalam pernikahan adat Jawa di Gampong Lengkong ini harus tetap dilestarikan dan jangan sampai tradisi ini hilang begitu saja.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Mencari Jalan Keluar Ketika Tersesat di Belantara Kampus

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00