• Latest

Mentari Terakhir Untuk Purnama

April 3, 2018
Solitary man in cold prison cell

Tianjin: 72 Jam Sunyi

April 3, 2026
IMG_0599

Sejarah Gampong Ujong Batee, Dari Rimba Raya Ke Gampong Bersejarah

April 3, 2026
2d062166-bba3-4188-9a5d-f24020a5c375

Menakar Progres Gerakan Perempuan Indonesia: Dari Kongres 1928 hingga Era Reformasi

April 3, 2026
IMG_0597

Peringatan Hari Autism Sedunia, Apakah Sekolah Inklusi Masih Sekadar Label?

April 3, 2026
de887664-5703-4ea3-b536-ece938504d8e

Semua Guru itu Teladan

April 3, 2026
IMG_0596

Jendela Istana Hamatisa

April 3, 2026
IMG_0588

PASIE RAJA: Jejak Darah, Dakwah dan Martabat Perempuan dalam Sejarah Aceh Selatan

April 3, 2026
6eeb5594-d7a8-483c-adaf-a6783306152a

Gambaran Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timteng Usai Diserang Iran

April 3, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Jumat, April 3, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Mentari Terakhir Untuk Purnama

Redaksi by Redaksi
April 3, 2018
in Cerpen, Sastra
Reading Time: 5 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Baca Juga

di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
ADVERTISEMENT

By Lina Zulaini
Mahasiswi Jurusan Pendidikan Geografi FKIP Unsyiah
            Aku seorang pendosa, ini kata-kata yang tepat untukku. Jangankan ibadah, aku bahkan membenci orang-orang beribadah. Sok alim. Sok suci. Itu cercaku pada orang-orang yang menasehatiku. Aku seorang gadis yang suka bergonta-ganti kekasih, suka memakai jeans meski siap diomelin oleh ibu, kelayapan hampir setiap malam, kurasa itu pengaruh aku tinggal di kota.
            Namun itu semua telah menjadi kisah lamaku. Semenjak aku mengenal dan dekat dengan seorang bidadari bernama Purnama Ratnasari. Ia seorang yang awalnya aku benci karena sering berkomentar tentang penampilanku yang tak sesuai sikap seorang muslimah.
“Perempuan itu lebih cantik ketika berhijab”. 
Kata ajaib itu membuatku terhipnotis hingga aku memutuskan berhijrah.
            Masa kelam, kubiarkan ia tenggelam. Kini aku sedang mengukir sejarah baru bersama orang-orang yang kusayang, satu di antaranya Purnama, sahabat dunia akhiratku. Aku mengenalnya ketika kami masuk kuliah. Semakin lama aku mengamatinya, semakin kagum aku terhadap sudut pandangnya pada alam semesta ini.
“Aku suka menunggu matahari terbit”.
Ya, menanti sang fajar adalah satu hal favorit yang dia lihat hampir setiap pagi. Ia berkata memandang matahari terbit membuatnya tambah bersyukur karena ia masih bisa bernapas, dan ia tak sabar menunggu hari esok.
“insya Allah besok pagi aku pulang ke kampung, kamu baik-baik di sini ya. Still istiqamah cantik”.
Dia hampir selalu membuatku bahagia dengan pujian-pujiannya. Namun, pesan singkat itu adalah komunikasi terakhir kami yang hampir dua bulan. Berulang kali aku mencoba menghubunginya tapi tak pernah tersambung. Mungkin koneksi jaringan di kampungnya sangat buruk, aku mencoba menghibur hati pilu ini.
“Aku sedang menunggu terbit fajar nih, kata kakakku mentari di sini lebih indah”.
            Usai shalat subuh aku membaca pesan singkat Purnama. Aku tersenyum. Rasanya aneh tiba-tiba dia mengirimku pesan soal matahari terbit tanpa kabar apapun hampir dua bulan lebih. Purnama, kamu memang penuh misteri.
            Aku menekan tombol memanggil pada telepon genggamku. Tidak ada jawaban dari seberang, kurasa Purnama masih menikmati mentarinya.
            Menjelang pukul 07.15 WIB, aku telah siap untuk berangkat ke workshop yang kudaftar minggu lalu. Namun sanubari ini masih memikirkan Purnama. Kucoba menghubunginya lagi, lama aku menunggu hingga,…
“Assalamualaikum Dek Rahma,…”
Rasanya ada biji rambutan yang tersekat di kerongkonganku. Tubuhku tiba-tiba terjatuh dan hanphoneku terlepas dari genggaman. Purnama, mengapa kamu begitu cepat pergi? Bukankah kamu berjanji akan menanti mentari terindahmu bersamaku?
            Kabar kepergian Purnama kudapat dari kakaknya. Purnama mengidap kanker otak stadium akhir dan mustahil untuk disembuhkan. Impossible,selama dua tahun kami berteman ia baik-baik saja, batinku tak percaya.
            Purnama, maaf tak bisa menyaksikan mentari terakhirmu bersamaku. Kini, setiap hari aku duduk di jendela dan menunggu terbitnya fajar. Kamu benar Purnama, mentari itu sangat cantik. Secantik dirimu.   
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

Solitary man in cold prison cell
Catatan Perjalanan

Tianjin: 72 Jam Sunyi

April 3, 2026
IMG_0599
Artikel

Sejarah Gampong Ujong Batee, Dari Rimba Raya Ke Gampong Bersejarah

April 3, 2026
2d062166-bba3-4188-9a5d-f24020a5c375
Artikel

Menakar Progres Gerakan Perempuan Indonesia: Dari Kongres 1928 hingga Era Reformasi

April 3, 2026
IMG_0597
Artikel

Peringatan Hari Autism Sedunia, Apakah Sekolah Inklusi Masih Sekadar Label?

April 3, 2026
Next Post

Rumah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com