POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Dampak Globalisasi Pada Kondisi Psikologis Masyarakat Aceh

RedaksiOleh Redaksi
June 12, 2017
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Maghfirah Belangi

Mahasiswa Semester 2 Psikologi, Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Darussalam, Banda Aceh

Di zaman sekarang, kita tidak lagi asing dengan kata “Globalisasi”. Globalisasi yang sesuai dengan namanya, memang sudah membawa pengaruh yang mendunia dalam berbagai lapisan dan aspek kehidupan. Kata globalisasi sendiri berasal dari bahasa Inggris yaitu Globalization (gabungan dari kata global yang berarti mendunia dan lization yang berarti proses). Globalisasi diartikan sebagai suatu proses yang menyeluruh atau mendunia dimana setiap orang tidak terikat oleh negara atau batas-batas wilayah. Artinya, setiap individu dapat terhubung dan saling bertukar informasi di manapun dan kapanpun melalui media elektronik maupun cetak.

Aceh pun tidak luput dari proses yang mendunia tersebut. Globalisasi telah membawa berbagai dampak, baik itu positif maupun negative dalam masyarakat Aceh. Di sini, saya tidak mendukung maupun menyalahkan globalisasi, akan tetapi saya hanya ingin memberi sedikit gambaran bagaimana globalisasi dalam masyarakat Aceh dewasa ini. Salah satu proses mendunia yang dibawa globalisasi adalah perubahan. Perubahan dalam hal apa saja, mulai dari perubahan gaya hidup, pola pikir, sampai pada kebudayaan.

Saya akan ceritakan satu persatu, dimulai dari perubahan gaya hidup masyarakat yang saat ini kesemuanya ingin serba praktis, karena sudah didukung oleh teknologi dan industri. Misalnya, Ibu-ibu yang dulunya harus memeras santan dengan menggunakan tangan, sekarang sudah dimudahkan dengan dijualnya santan-santan kemasan. Bumbu-bumbu masakan tidak lagi susah digiling dengan ulekan sejak munculnya penggiling otomatis yaitu blender, atau bahkan ibu-ibu saat ini sudah tidak mau repot-repot membuat bumbu sendiri karena sudah tersedianya bumbu-bumbu siap saji yang dijual di pasar tradisional maupun pasar modern. Contoh lainnya dalam hal memasak nasi tidak lagi menggunakan periuk, karena sudah adanya Magic com, tinggal pencet, maka selesai. Sampai dalam hal mencuci baju. Sekarang ini tidak lagi harus repot-repot dengan tangan sampai pegal, mesin pencuci baju dan laundry sudah tersedia di mana-mana.

📚 Artikel Terkait

Magang Yuk

RENUNGAN DI UJUNG TAHUN

Jelajah Literasi di Pulau Aceh

SMAN 1 Lhokseumawe Galang Dana untuk Palestina

Selanjutnya, tidak hanya dalam hal perubahan gaya hidup, globalisasi juga membawa perubahan dalam hal pola pikir. Kini masyarakat Aceh lebih senang duduk berjam-jam di warung kopi daripada menghabiskan waktunya di masjid. Apalagi setelah kota Banda Aceh menjadi kota sejuta warung kopi, keramaian di warung-warung kopi semakin terlihat dan bahkan panggilan adzan pun sudah tidak teralu dihiraukan. Pola pikir dalam hal pergaulan pun mulai berubah, dulu masyarakat Aceh kental dan berpegang erat pada nilai-nila moral. Tapi apa yang kita lihat sekarang? Pergaulan bebas marak terjadi, berpacaran sudah menjadi hal yang lumrah, bahkan tersedianya tempat-tempat khusus sejoli yang sebenarnya belum sah dalam ikatan pernikahan.

Globalisasi memang tidak hanya membawa dampak negative, kita tidak bisa memungkiri bahwa pembangunan fisik saat ini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun silam. Tapi bagaimana jika globalisasi itu justru memudarkan kebudayaan-kebudayaan masyarakat Aceh sendiri? Budaya adalah hasil dari manusia. Manusia tanpa budaya tidak lagi bisa disebut manusia yang utuh. Perubahan kebudayaan yang terjadi bisa kita lihat dengan munculnya trend-trend pengantin modern. Linto dan dara baro tidak lagi menggunakan baju pengantin khas Aceh, tetapi sudah lebih bangga menggunakan baju-baju pengantin yang kebarat-baratan. Begitupun dengan pelaminannya yang saat ini mulai dibuat di gedung-gedung, ‘tidak elite jika membuatnya di rumah’, begitupun pemikiran beberapa masyarakat Aceh sekarang ini. Perubahan budaya lainnya muncul saat menjelang lebaran, kue-kue lebaran yang biasanya sangat khas Aceh seperti timphan, sekarang digantikan dengan kue-kue kering konvensional, nastar juaranya.

Itu hanya sebagian kecil dari perubahan yang terjadi akibat globalisasi. Belum lagi jika dilihat dari anak-anak yang kini semakin cepat dewasa sebelum waktunya, diakibatkan sejak kecil sudah terikat dengan gadget dan melupakan permainan anak-anak seperti petak umpet dan pecah piring. Jika sudah demikian, apa perubahan-perubahan itu tidak membawa efek psikologis bagi masyarakat Aceh? Tentu saja perubahan gaya hidup, pola pikir, dan kebudayaan secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada kondisi psikis seseorang. Seperti yang dilansir di HabaDaily.com, jumlah pasien sakit jiwa di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dari sini bisa dilihat bahwa kondisi psikis masyarakat Aceh makin memburuk meskipun pembangunan fisik di Aceh terus meningkat.

Mengapa demikian? Daerah Aceh adalah daerah yang mayoritasnya muslim, akan tetapi nilai-nilai keislaman itu semakin memudar digantikan dengan perubahan-perubahan yang bersifat mencari kesenangan duniawi. Padahal, seseorang yang berpegang teguh pada agamanya dan lebih mementingkan kehidupan akhirat hidupnya akan lebih tenang. Dalam Islam diajarkan salat, yang mana secara psikologis salat itu merupakan sarana pengobatan jiwa atau mempunyai fungsi kuratif terhadap penyakit dan gangguan kejiwaan.

Dalam pandangan ahli jiwa, ampunan terhadap dosa dan kesalahan merupakan obat bagi gangguan kejiwaan, karena salah satu penyebab gangguan kejiwaan adalah merasa bersalah atau berdosa. Lantas bagaimana jika nilai-nilai keislaman masyarakat Aceh sudah luntur digilas arus globalisasi? Jangan salahkan globalisasinya karena itu pasti terjadi, tapi salahkan individu yang tidak bisa memilah-milah perubahan yang dibawa oleh globalisasi itu sendiri sehingga menghilangan nilai-nilai kebudayaan luhur. Disini saya tidak mencoba untuk menutup diri dan menghilangkan globalisasi, akan tetapi saya mencoba membuka mata dan pikiran masyarakat Aceh bahwa kebudayaannya bisa saja hilang ditelan globalisasi jika itu tidak dilestarikan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Mahasiswa, Apa yang Mereka Lakukan di Warung Kopi?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00