POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Masa Depan Aceh

Program 1000 sepeda

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
December 6, 2016
🔊

Dengarkan Artikel

Tak adil memang menilai atau memprediksi masa depan dari satu daerah atau kabupaten. Apalagi kecamatan, namun tak salah pula bisa itu dilakukan sebagai saran.

Tulisan ini tidak bermuatan politis, hanya sebagai curahan seorang anak negeri atas apa yang terjadi pada negerinya sendiri, dalam hal ini Aceh dan terutama Kabupaten Aceh Utara.

Kita ketahui bersama bahwa daerah ini memiliki sumber energi yang menjadi rebutan korporat. Sayang penduduk di sekitarnya hanya sedikit yang merasakan manfaat dari SDA dimiliki negeri ini.

Konflik vertikal yang berlangsung puluhan tahun telah usai sejak 2005, namun bagi sebagian masyarakat tidak ada perbedaan signifikan selain aktifitas sehari-hari yang normal, kemiskinan dan pembodohan masih berlangsung.

Tak wajar rasanya bila negeri penyumbang gedung mewah di Jakarta ini masih memprihatinkan. Nyaris di segala bidang sangat tertinggal dengan daerah lain. Tidak jauh beda seperti nasib saudara kita di Papua.

Perjalanan singkat bersama teman-teman POTRET, setidaknya mampu memotret kehidupan masyarakat Aceh Utara, terutama di Kecamatan Nisam Antara. Sebuah kehidupan yang sangat jauh dari apa yang dibayangkan selama ini, sebuah potret masyarakat yang jauh dari kata sejahtera.

Perjalanan kami ke Nisam Antara melewati simpang berdarah, simpang penuh kekejaman di masa lalu yang merenggut nyawa rakyat Aceh akibat konflik vertikal Jakarta dan Aceh. Simpang KKA memang menyimpan sejarah kelam Aceh, para pelakunya bebas dan hukum kita lemah di hadapan penguasa.

Berakhirnya konflik vertikal diharapkan memberi harapan baru bagi mereka. Namun faktanya itu hanya dongeng jelang Pilkada, hanya nyanyian para penguasa yang tak mampu membuat mereka benar-benar damai di rumah.

Semua konflik dan kepalsuan di dalamnya, akan selalu memakan korban, namun korban yang paling dahsyat dan berdampak panjang akan lebih dirasakan anak-anak. Anak-anak lah yang paling merasa merasakan dampak pembodohan yang dilakukan elit penguasa kepada orang tua mereka.

Saat anak para penguasa menangisi liburan ke luar negeri yang tak kunjung dipenuhi karena sibuknya orang tua mereka mengurusi proyek APBN atau APBA, anak-anak di Nisam Antara hanya bisa bermimpi merasakan fasilitas anak-anak pejabat di negerinya.

📚 Artikel Terkait

Seni, Kerukunan, dan Tanggung Jawab Pekerja Kreatif

KEPEDULIAN UNTUK MEMBERIKAN PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK

SUDAH 76 TAHUN KITA BERPUTAR-PUTAR SAJA DI SEKITAR PINTU GERBANG

Floods and Landslides in Sumatra as Man-Made Disasters: The Affective State, Corruption, and Ecological Ruin

Tim POTRET melalui Program 1000 Sepeda dan kursi roda untuk Yatim, Piatu, Fakir Miskin dan anak disabilitas yang menyalurkan sepeda sebagai alat transportasi ke sekolah merupakan upaya sebuah kelompok masyarakat terhadap masyarakat lainnya.

Upaya tersebut patut diapresiasi walaupun mereka tak membutuhkan apresiasi dari pihak manapun, sepeda dengan kualitas terbaik dan merupakan sumbangan pihak masyarakat itu memang memberi warna kehidupan bagi penerimanya.

Tak bisa dipungkiri wajah merona penuh cinta terpancar dari anak-anak penerima sepeda. Layaknya pertemuan seorang kekasih yang sudah menggunung rasa rindunya, hari itu mereka dipertemukan.

Kemiskinan yang melanda mereka seakan hilang sejenak, mereka lupa sejenak bagaimana negeri mereka yang kaya SDA menghidupi negeri Eropa dan Amerika serta China, sementara mereka hanya mendapat polusi, limbah dan bencana alam.

Anak-anak di Nisam Antara dan sekitar merupakan calon korban dari banjir bandang. Ya, hutan dan sungai mereka direbut korporat. Masa depan mereka secara otomatis direbut pula tanpa ampun.

Saat ini mereka sebenarnya sudah menjadi korban. Kemiskinan dan pembodohan yang dilakukan elit penguasa secara sistematis dan kontinyu, orang tua mereka hanya dijadikan objek saat Pemilu dan Pilkada. Orang tua mereka dijadikan raja dan ratu saat suara mereka dibutuhkan di bilik mungil itu.

Melihat realitas dan fenomena itu, melihat bagaimana anak-anak menjadi korban manusia dewasa, dan kita coba meraba masa depan Aceh akan kita temukan relevansinya. Omong kosong visi Aceh begini dan begitu. Omong kosong Aceh akan begini dan begitu, bila anak-anak tak dimasukan dalam perencanaan jangka panjang.

Apakah para penguasa hari ini pernah membayangkan masa depan anak-anak negeri yang terancam hilang karena tingkah polah mereka? Pemberian HPH dan HGU yang tanpa pertimbangan, sekolah-sekolah yang tak lebih baik dari (maaf) WC mereka ataupun rumah anak-anak yang selalu kebocoran saat musim hujan tiba.

Dasar itu pula barangkali yang melatarbelakangi Tim POTRET melakukan gerakan sosial. Bila hanya mengandalkan elit yang lupa daratan, tentu saja masa depan anak-anak Aceh akan berakhir tanpa beda dengan orang tua mereka.

Gerakan sosial sejenis walaupun tak sama, bisa kita lakukan bagi yang ingin melakukan. Kita bisa melakukan pendidikan di rumah pada anak-anak kita dengan tabungan sosial, ajarkan kesederhanaan dan ajak mereka wisata sosial dengan mengunjungi sekolah terpencil.

Pernah suatu ketika seorang teman melalui program pembagian buku tulis bagi siswa/i kurang mampu mengajak serta anaknya yang masih taman kanak-kanak. Menurut penulis hal itu bagus bagi perkembangan karakter si anak, gerakan yang sama seharusnya bisa dilakukan sekolah-sekolah di kota yang siswa/i nya anak dari menengah ke atas.

Bisa dibayangkan bila anak seorang Gubernur atau pengusaha kaya bicara pada orang tua mereka soal anak-anak di desa terisolir dari kemewahan dunia. Tentu saja kita berharap masa depan anak-anak akan terselamatkan karena menyelamatkan masa depan anak-anak Aceh sama dengan menyelamatkan masa depan Aceh.

Mengakhiri tulisan singkat ini, penulis berharap dan menghimbau kepada seluruh rakyat Aceh khususnya serta Indonesia pada umumnya, jangan memilih kepala daerah yang tak memihak anak-anak. Mari kita mulai berpikir dan bertindak menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa yang menjadi korban kerakusan kita, anak-anak yang terancam mewarisi kemiskinan serta mewarisi pembodohan yang dilakukan mereka yang pintar, namun tak bermoral.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Ingin Jadi Tikus Berdasi?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00