• Latest

Masa Depan Aceh

Desember 6, 2016
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Masa Depan Aceh

Program 1000 sepeda

Don Zakiyamani by Don Zakiyamani
Desember 6, 2016
in Aceh, Artikel, Edukasi, Literasi, Membaca, Pendidikan
Reading Time: 3 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Tak adil memang menilai atau memprediksi masa depan dari satu daerah atau kabupaten. Apalagi kecamatan, namun tak salah pula bisa itu dilakukan sebagai saran.

Tulisan ini tidak bermuatan politis, hanya sebagai curahan seorang anak negeri atas apa yang terjadi pada negerinya sendiri, dalam hal ini Aceh dan terutama Kabupaten Aceh Utara.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Kita ketahui bersama bahwa daerah ini memiliki sumber energi yang menjadi rebutan korporat. Sayang penduduk di sekitarnya hanya sedikit yang merasakan manfaat dari SDA dimiliki negeri ini.

Konflik vertikal yang berlangsung puluhan tahun telah usai sejak 2005, namun bagi sebagian masyarakat tidak ada perbedaan signifikan selain aktifitas sehari-hari yang normal, kemiskinan dan pembodohan masih berlangsung.

Tak wajar rasanya bila negeri penyumbang gedung mewah di Jakarta ini masih memprihatinkan. Nyaris di segala bidang sangat tertinggal dengan daerah lain. Tidak jauh beda seperti nasib saudara kita di Papua.

Perjalanan singkat bersama teman-teman POTRET, setidaknya mampu memotret kehidupan masyarakat Aceh Utara, terutama di Kecamatan Nisam Antara. Sebuah kehidupan yang sangat jauh dari apa yang dibayangkan selama ini, sebuah potret masyarakat yang jauh dari kata sejahtera.

Perjalanan kami ke Nisam Antara melewati simpang berdarah, simpang penuh kekejaman di masa lalu yang merenggut nyawa rakyat Aceh akibat konflik vertikal Jakarta dan Aceh. Simpang KKA memang menyimpan sejarah kelam Aceh, para pelakunya bebas dan hukum kita lemah di hadapan penguasa.

Berakhirnya konflik vertikal diharapkan memberi harapan baru bagi mereka. Namun faktanya itu hanya dongeng jelang Pilkada, hanya nyanyian para penguasa yang tak mampu membuat mereka benar-benar damai di rumah.

Semua konflik dan kepalsuan di dalamnya, akan selalu memakan korban, namun korban yang paling dahsyat dan berdampak panjang akan lebih dirasakan anak-anak. Anak-anak lah yang paling merasa merasakan dampak pembodohan yang dilakukan elit penguasa kepada orang tua mereka.

Saat anak para penguasa menangisi liburan ke luar negeri yang tak kunjung dipenuhi karena sibuknya orang tua mereka mengurusi proyek APBN atau APBA, anak-anak di Nisam Antara hanya bisa bermimpi merasakan fasilitas anak-anak pejabat di negerinya.

Tim POTRET melalui Program 1000 Sepeda dan kursi roda untuk Yatim, Piatu, Fakir Miskin dan anak disabilitas yang menyalurkan sepeda sebagai alat transportasi ke sekolah merupakan upaya sebuah kelompok masyarakat terhadap masyarakat lainnya.

Upaya tersebut patut diapresiasi walaupun mereka tak membutuhkan apresiasi dari pihak manapun, sepeda dengan kualitas terbaik dan merupakan sumbangan pihak masyarakat itu memang memberi warna kehidupan bagi penerimanya.

ADVERTISEMENT

Tak bisa dipungkiri wajah merona penuh cinta terpancar dari anak-anak penerima sepeda. Layaknya pertemuan seorang kekasih yang sudah menggunung rasa rindunya, hari itu mereka dipertemukan.

Kemiskinan yang melanda mereka seakan hilang sejenak, mereka lupa sejenak bagaimana negeri mereka yang kaya SDA menghidupi negeri Eropa dan Amerika serta China, sementara mereka hanya mendapat polusi, limbah dan bencana alam.

Anak-anak di Nisam Antara dan sekitar merupakan calon korban dari banjir bandang. Ya, hutan dan sungai mereka direbut korporat. Masa depan mereka secara otomatis direbut pula tanpa ampun.

Saat ini mereka sebenarnya sudah menjadi korban. Kemiskinan dan pembodohan yang dilakukan elit penguasa secara sistematis dan kontinyu, orang tua mereka hanya dijadikan objek saat Pemilu dan Pilkada. Orang tua mereka dijadikan raja dan ratu saat suara mereka dibutuhkan di bilik mungil itu.

Melihat realitas dan fenomena itu, melihat bagaimana anak-anak menjadi korban manusia dewasa, dan kita coba meraba masa depan Aceh akan kita temukan relevansinya. Omong kosong visi Aceh begini dan begitu. Omong kosong Aceh akan begini dan begitu, bila anak-anak tak dimasukan dalam perencanaan jangka panjang.

Apakah para penguasa hari ini pernah membayangkan masa depan anak-anak negeri yang terancam hilang karena tingkah polah mereka? Pemberian HPH dan HGU yang tanpa pertimbangan, sekolah-sekolah yang tak lebih baik dari (maaf) WC mereka ataupun rumah anak-anak yang selalu kebocoran saat musim hujan tiba.

Dasar itu pula barangkali yang melatarbelakangi Tim POTRET melakukan gerakan sosial. Bila hanya mengandalkan elit yang lupa daratan, tentu saja masa depan anak-anak Aceh akan berakhir tanpa beda dengan orang tua mereka.

Gerakan sosial sejenis walaupun tak sama, bisa kita lakukan bagi yang ingin melakukan. Kita bisa melakukan pendidikan di rumah pada anak-anak kita dengan tabungan sosial, ajarkan kesederhanaan dan ajak mereka wisata sosial dengan mengunjungi sekolah terpencil.

Pernah suatu ketika seorang teman melalui program pembagian buku tulis bagi siswa/i kurang mampu mengajak serta anaknya yang masih taman kanak-kanak. Menurut penulis hal itu bagus bagi perkembangan karakter si anak, gerakan yang sama seharusnya bisa dilakukan sekolah-sekolah di kota yang siswa/i nya anak dari menengah ke atas.

Bisa dibayangkan bila anak seorang Gubernur atau pengusaha kaya bicara pada orang tua mereka soal anak-anak di desa terisolir dari kemewahan dunia. Tentu saja kita berharap masa depan anak-anak akan terselamatkan karena menyelamatkan masa depan anak-anak Aceh sama dengan menyelamatkan masa depan Aceh.

Mengakhiri tulisan singkat ini, penulis berharap dan menghimbau kepada seluruh rakyat Aceh khususnya serta Indonesia pada umumnya, jangan memilih kepala daerah yang tak memihak anak-anak. Mari kita mulai berpikir dan bertindak menyelamatkan masa depan anak-anak bangsa yang menjadi korban kerakusan kita, anak-anak yang terancam mewarisi kemiskinan serta mewarisi pembodohan yang dilakukan mereka yang pintar, namun tak bermoral.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Ingin Jadi Tikus Berdasi?

HABA Mangat

Responden Terpilih

Maret 14, 2025
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com