
Mustiar Ar : TUHAN SAYANG ACEH Tarian laut meliuk - hentakan ribuan kaki malaikatnya tanah bertasbih Aku,kita Debu di ujung...
Baca SelengkapnyaDetailsZulkifli Abdy Pada hari itu, airmata tergenang bagai telaga Bagai hendak tenggelamkan jiwa dan asa Kini telaga airmata telah...
Baca SelengkapnyaDetailsRINAI HUJAN Delia Rawanita Rinai hujan pagi ini adalah penyejuk duka mengenang syuhada sembilan belas tahun yang lalu Rinai hujan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani Yunis Badut itu garang bergoyang di panggung Dengan suara mendengung-dengung Beretorika ke hulu ke hilir tak berujung Menghipnotis...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Zab Bransah Ini cerita kita dulu Lonceng kelas berbunyi Kita masih bergandeng tangan di pintu gerbang sekolah Senyum manismu...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Arif Mustaqim - Pembangunan genting Janji janji dan pencitraan membalut nyeri Para petinggi yang awalnya bersumpah untuk memajukan...
Baca SelengkapnyaDetails* Zab Bransah. ( Langsa Aceh) Kutulis lagi makna petang ini Kucatat lagi kisah ini Maka puisiku asah, tapi...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Fileski Masih pagi, suara orang-orang yang bergunjing itu sudah seperti sarang lebah yang siap dipanen. Aku bekerja di sebuah...
Baca SelengkapnyaDetailsTEROMPAH IBU Delia Rawanita Bu Maafkan bila baru hari ini aku menyampaikannya Padahal aku berjanji untuk menyimpan dalam hati saja....
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Zulkifli Abdy Di ketinggian tiga puluh ribu kaki Aku bersaksi atas keagungan Mu Semburat mentari menyapa pagi Hamparan bukit...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com