
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Ilustrasi : Kompasiana.comOleh Jenny FebbiyantiKelas:10 AkuntansiSaat ku lihat wajahmu ...Cantik bagaikan bidadari...Saat ku pandang senyummu...Manis,membuat siapa pun menyukainya...Namun,saat ini itu...
Baca SelengkapnyaDetailsIlustrasi : Ngasih.comOleh Tabrani YunisLangit berdebulembab, basahhujan menerpa daun-daunmatahari bersembunyi sendiriSepi bergelantungandi hati disambut mimpiilusi tuk berdiri kembali menghapus debu...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Lina ZulainiAku rangkai sajak rinduPada daun kering Untuk dirimuYang 'katanya' akan pulangAku menungguDi bawah bayang rembulanBersama ranting Dan cabang"Lejar"Suara...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : NsyahRindu..Masih berat untuk dikatakan tapi tak bisa berbohong Rindu...Mempunyai hati yang gelisah tapi hanya mampu menghayalkanRindu...Ada kalanya seperti...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Lina ZulainiSenjaMasihkah kau merindunya?Layaknya diri iniMasihkah kau menantinya?Layaknya sukma iniSenjaBiar aku sedikit lamaDi sudut sunyi bernama sepiDi ruang mimpi...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : NsyahDalam sepinya waktuTak jeda ku sulam rindu di jiwaDalam sunyi-nya laraTak sirna ku rajut kasih di muara kalbuBahwasanya...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Tabrani YunisHari ini, bukan hari KartiniTapi hari pernikahan kitaHari kitamenyatukan hatiHari kita menyemai cintaTanggal 21 April Sepuluh tahun laluKita bersimpuh mengikat...
Baca SelengkapnyaDetailsMasa demi ma sa sudah terlewati,hampir lima tahun sudah menimba ilmu di negeri syariat Islam ini,belum ada ijazah pun yang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Lina ZulainiAku melihat diaMenggendong bakul kecil yang beratDi bawah terik suryaMemeras keluar bengak yang lama ditahanBerjalan lesu meniti jembatan...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com