
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Apakah Aku Sedang Jatuh Cinta? Ketika hati bertabur rasa bahagiaDarah mengalir indahNapas mengalir merduJantung menggoyangkanDunia milikkuWaktu bertabur senyumPipi merah meronaSuara bergendangLangkah...
Baca SelengkapnyaDetailsTiga Hari dalam Kelopak WaktuOleh: Riami Apakah benar mimpi itu, bukan bunga tidur? /18 Desember/ Bentang waktu antara aku dan kau tinggal setitik. Semua...
Baca SelengkapnyaDetailsBUKAN PINISIOleh: HEZA HARABengkalis Biduk kecil dipenuhi keinginan besarTanganku mendayung tertatih di samudera luasTerbentang tiada bertepi bak langit biruKuarungi hingga ujung...
Baca SelengkapnyaDetailsEgoAda aku yang aku pada kamu yang kamuAda jiwa-jiwa yang lelah pada langkah-langkah jengahAda kosong pada kekosongan yang beri bunyi...
Baca SelengkapnyaDetailsWAHAI HATIKUWahai hati yang sunyiturunkan perahu kerinduanSaya menyajikan secangkir damMatahari masih tersenyumbiar disiniSaya mengambil pecahan kaca_ Dalam badai kecuranganmeulaboh,05 .09.2021SORE...
Baca SelengkapnyaDetails( Karya : Zab Bransah)Izinkanlah,Wahai Zulia kusapa bulan bersama malamini malam bersama bulan kurindukan walau di ujung malamakan bertepi merebahkan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Putri Zianby CintamiDari jarak beribu-ribu kilometer, ku dengar suara ledakan yang menggelegar...Meruntuhkan rumah-rumah di tanah Palestina...Wahai Israel!Kau renggut...
Baca SelengkapnyaDetailsCermin Fatamorgana Akuhilang dirihanya biashanya tipuanhanya pantulanhanya imajinasihanya gejala optishanya fatamorgana: Aku tak ingiin itu Akusiapadi manake mana : Lelah sudah aku cari Akuhanya...
Baca SelengkapnyaDetailsKhayalis: Syam SSinar mentari mengais pagi Bersama mendung menipis angin semilir lembutMenyentuh relung dan tetes bening menyejuk hati...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Ria AndeliaKumendengar suara goresan Yang membuat hatiku terasa sakitTubuhku kaku seakan waktu telah terhentiDia hadir dengan ribuan rayuandan pergi tanpa berucap...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com