
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh: Meliana Eka SuciKita ini masih mudaSepatutnya memiliki jiwa yang muda juaApa tak malu dengan semangat mereka?Yang telah memasuki usia...
Baca SelengkapnyaDetailsMENABUR KENANGAN Haruskah kutaburi kembang melatiDi atas ketiadaan iniAtau kubakar saja Hingga menjadi abuLalu ditaburkan ke lautanDi sepanjang bibir pantaiHingga usai waktu menelan...
Baca SelengkapnyaDetailsMencari Ayah Mati|- bagi Sandy Sr Sandi Ramadhan: Tuhan membiarkan aku sendiri berkuda ke dataran sunyi,mencari ayah dengan teropong ompong naluri. Seseorang yang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Mohammad Iskandar: Skmengantar gelisah hatidi lelampu cahayasetangkup rahasia terjagadari keremangan batin kitaKe arah mana kita mestinyaketika wajah-wajah beralih rupareda...
Baca SelengkapnyaDetailsApakah Aku Sedang Jatuh Cinta? Ketika hati bertabur rasa bahagiaDarah mengalir indahNapas mengalir merduJantung menggoyangkanDunia milikkuWaktu bertabur senyumPipi merah meronaSuara bergendangLangkah...
Baca SelengkapnyaDetailsTiga Hari dalam Kelopak WaktuOleh: Riami Apakah benar mimpi itu, bukan bunga tidur? /18 Desember/ Bentang waktu antara aku dan kau tinggal setitik. Semua...
Baca SelengkapnyaDetailsBUKAN PINISIOleh: HEZA HARABengkalis Biduk kecil dipenuhi keinginan besarTanganku mendayung tertatih di samudera luasTerbentang tiada bertepi bak langit biruKuarungi hingga ujung...
Baca SelengkapnyaDetailsEgoAda aku yang aku pada kamu yang kamuAda jiwa-jiwa yang lelah pada langkah-langkah jengahAda kosong pada kekosongan yang beri bunyi...
Baca SelengkapnyaDetailsWAHAI HATIKUWahai hati yang sunyiturunkan perahu kerinduanSaya menyajikan secangkir damMatahari masih tersenyumbiar disiniSaya mengambil pecahan kaca_ Dalam badai kecuranganmeulaboh,05 .09.2021SORE...
Baca SelengkapnyaDetails( Karya : Zab Bransah)Izinkanlah,Wahai Zulia kusapa bulan bersama malamini malam bersama bulan kurindukan walau di ujung malamakan bertepi merebahkan...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com