
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
CUT NYAK MEUTIA WANITA GAGAHDARI SERAMBI MEKKAHKarya Hamdani Mulya Cut Nyak Meutia wanita anggun berhati bajaKala tabuh genderang perang berbunyiEngkau pun...
Baca SelengkapnyaDetails(Khayalis: Syam S) Akan kujadikan api ruang yang tiada batas ini Membakar dan membakar...
Baca SelengkapnyaDetailsSELAMAT BERSARA(Pro: Cikgu Hjh KhairunNiza Abu) Setelah bersara, akhiri langkah juang di gelanggangbarulah terbaca segala jasa pengorbanan yang dinukilkansetetes sinar yang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Fajar Di Gerobak Arabicca Coffee, Banda Aceh Kudengar angin, mereka mengadakan agenda Ahhh aku tak lagi percaya didalamnya pasti...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Mawardi HasanBerdomisili di Cendana Limpok, Aceh Besar Engkau jalani hidup penuh syaratSiang dalam penatMenanti malam untuk beristirahatMengajar dengan giat dan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Azhari JannahPelajar MTsN 1 Aceh TamiangSetiap tetesan air hujan mengandung kerinduanLantas, terik mentari yang kan tenggelammembawa langkah berpijak diiringi...
Baca SelengkapnyaDetailsKarya Munawar KhalidPelajar MTsN 1 Aceh Tamiang Enyahlah, jangan mewabah lagiAku lelah dengan kehadiranmuJenggah oleh kedatanganmu Kamu membawa bencana bagi manusiaBukan aku...
Baca SelengkapnyaDetailsSunyi Dirihidup cumamampir berbaktikepada pemilik diridan semesta yang diberkatihidup cumamengulang harimenebar kebaikanuntuk dibawa pulangke kesejatian dan keabadianhidup kita;sunyi yang berulang...
Baca SelengkapnyaDetails_: dari U. H_Oleh RiamiBerdomisili di Malang, Jawa TimurSenja masih membersamai gerimisSebungkus teh mengantar wajah teduhnya Masuk ke dalam cangkir, bercampur...
Baca SelengkapnyaDetailsMENGGENGGAM WAKTU Jika waktu bukan cintaku niscaya punahserupa pecahnya buih-buih di tepiandan aku terpelanting ke lembah kerugian Aku pilih memaknai setiap detik...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com