Senin, April 20, 2026

Puisi-Puisi Dinar Puspita Ayu, S.Pd.I

Desember 2021
Oleh: Redaksi

 

LENTERAKU

Malam meregang nyawa

Meminang semburat jingga

Sepi bertunang hampa

Senada seirama mengusik jiwa

 

Seribu hari belum berlalu

Satu lentera lagi pergi tak kembali

Satu lentera hidupku redup selamanya

Temaram serasa isi dunia

 

Perih menganga tanpa suara

Hanya goresan tinta jua aksara

Temani malam beranjak dini

Temani rasa yang mengusik sepi

 

Aku rindu

Rindu selaksa peristiwa

Yang hanya bisa kunikmati dalam memori

 

Aku rindu

Rindu parasmu… senyummu

Canda tawa serta nasehatmu

 

Aku tak mau sepi mengubur ilusi

Tapi sepi membungkam rohani

Yang tak akan pernah bertepi

Setia temani ragawi

 

Walau dalam riuh rendah ribuan manusia

Hanya hampa yang kini kurasa

Doa serta asa yang kupinta pada sang maha cinta

Semoga rinduku kelak bertepi di taman surgawi

 

 

 

TERCECER BERSAMA SENJA

 

Setahun lebih kepergianmu 

Malam ini memoriku menari menemani delusi 

Bola mata yang menganak sungai turut melengkapi

Bahagiaku hampa 

Bahagiaku tercecer bersama kepergianmu yang tak pernah kembali 

Bahagiaku menguap dan lenyap ditelan waktu yang terus berpacu 

Bahagiaku kini tak bisa lagi kuceritakan padamu  

Jerit hati yang mungkin memecah gendang telinga siapapun yang mendengarnya

Ah…,mana mungkin mereka tahu. Tak akan mungkin mereka mengerti,karna jeritan itu hanya dalam hati

Tak kan pernah terdengar oleh siapapun 

Hanya pemilik jagad raya yang tahu. 

Bahagiaku tercecer bersama senja yang menjadi saksi kepergianmu 

 

 

 

LELAKI PERTAMA

 

Engkau lelaki pertama dalam hidupku

Yang mencintaiku tanpa syarat tertentu

Yang tulus memberi cinta tanpa batas waktu

Yang terima segala kekuranganku

 

Aku tak mengenal kata cukup dalam kasihmu

Aku tak melihat cela pada cintamu

Aku bagai ratu dalam dekap lakumu

Aku yang selalu bermanja tanpa malu

Walau aku bukan lagi putrimu yang lucu

 

Kini rindu memintal kalbu

Tiada lagi tempatku mengadu

Tiada lagi pria perkasa yang setia

Tumpuan jiwa pelipur lara

 

Hilang sudah dada bidangnya

Tempat aku meramu rindu tanpa sisa lara

Lelaki sempurna dalam hidupku

Lelaki yang tak rela aku tersiksa

 

Lelaki yang mempertaruhkan jiwa raga

Demi cinta sejatinya pada keluarga

Lelaki yang kini hanya bisa ku dekap dalam mimpi tak bertepi

Lelaki yang kucintai dan mencintaiku sepenuh hati

 

 

 

BUKAN SALAH CINTA

 

Cinta tak pernah salah

Walau karna cinta

Netra yang hampir mengering kembali meluah

 

Cinta tak pernah salah

Walau karna cinta

Ada rindu yang membuncah

 

Cinta tak pernah salah

Hanya jiwa yang terkadang ingin menyerah

Hati yang patah berpilah-pilah

 

Cinta tak pernah salah

Hanya hadirmu buatku kalah

Kalah untuk sekedar berkata…cukup sudah

 

Haruskah aku berkata pasrah atau menyerah

Aku masih belum mampu

Menghapus namamu

Walau beribu telatah ku serbu

 

 

Namamu masih di sini

Terukir rapi di sudut hati

Hingga memori tak lagi berarti

 

 

BIAS

 

Bila jemu meramu kalbu

Denting memori mengusik waktu

Aku hanya ingin kau tau

Kala aku belum mampu meramu rindu

Memuai rasa yang ada tanpa aba-aba

 

Aku hanya ingin kau lihat

Masih ada atma yang memuai

Yang masih terburai sampai mentari tak lagi temani pagi

 

Aku hanya ingin kau dengar

Bahwa bukan sakit yang mengiris

Lebih perih deru rindu yang tak pernah mengering hingga rohani bercengkrama di jannati

 

Peureulak, 22 Desember 2021

By ; Dinar Puspita Ayu, S.Pd.I

 

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist