
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh: Faiza Warahmah(Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya)Mengayun kembali sejarah duluMengingat luka lama saat lautan itu mengamukMenerkam bak srigalaMenyantap...
Baca SelengkapnyaDetailsNurdin F.Joes:** Tuhanku kekasihEngkau tak pernah membencikecuali mengujisejauh mana kami bersabarsejauh mana kami merela Dengan gempa bumi26 Desember 2004 itudengan skala 8,9...
Baca SelengkapnyaDetailsSri Ramona Hus(Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya)Ibu Ratu yang tak bermahkotaNamun bertelapak kaki syurgaItulah gelar yang tersemat pada dirimu.IbuSetiap...
Baca SelengkapnyaDetailsDok PribadiKarya Hamdani MulyaLeuser menangis dalam isak tak terkiraMendesah karena pohon yang tumbangdan ranting yang dicincangLeuser menjerit menggelegar seperti suara...
Baca SelengkapnyaDetailsPINJAMKAN AKU RINCONGMUDi sini Gelisah mengapungMenyesak di dadaPerjuanganmu diludahiAmpon..Pinjamkan aku rencongmuAkan kuretas...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Savitri JumiatiRanting dedaun tak berkutatSenja merah semburat kulihatTak ada angin yang berisik kudengarHampir sunyi hujung jejalan menuju pulangTerenyuh aku...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: Faiza WarahmahUstazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya Ibu...Kau adalah wanita terhebat Setiap sekat kau jadikan tanggung jawabSemua peluh kau buat...
Baca SelengkapnyaDetailsNurdin F.Joes:Kepada para perempuan kamikepada ibu kamidi tanganmu kami titipkan embundi dadamu kami sematkan cintadan di lehermu kami kalungkan bungaAgar,...
Baca SelengkapnyaDetailsLENTERAKUMalam meregang nyawaMeminang semburat jinggaSepi bertunang hampaSenada seirama mengusik jiwa Seribu hari belum berlaluSatu lentera lagi pergi tak kembaliSatu lentera hidupku...
Baca SelengkapnyaDetails(Kepada Prof. Safwan Idris)Bunga bangsa itu telah gugurKala Aceh ditiup badaiYang berkecamuk dalam linangan air mataSafwan Idris guru bangsaTelah gugur...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com