
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
N Syahputra Di Meulaboh, Aceh Barat Bukan noda ragam sikapmu Berpetualang merengkuh waktu di setiap detik Adakalanya berpijak di satu...
Baca SelengkapnyaDetailsKarya Hamdani Mulya Belum kering air mata berderai mengenang tsunami Mata air bah datang menghanyutkan negeri Menumpahkan secangkir air mata...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Nurdin F.JoesTeteskan sedikit saja airmata kitaMasih banyak saudara kita, pedih menderitaAda yang belum makan pagiSementara kita sudah selesai mencuci...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Halimah Berdomisili di Agam, Sumatera BaratTak terasa tahun 2021 hampir berlalu/Tiba masanya Fajar 2022 segera datang/Hanya sayang kita tak bisa...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh HalimahIbu....Engkau wanita sederhanaTak berpendidikan Bukan pula wanita pekerjaWalau hanya tamatan sekolah rakyat sajaTapi perjuanganmu sungguh luar biasaIbu...Seluruh hidupmu Engkau abdikan...
Baca SelengkapnyaDetailsTIBA-TIBA SAJA KAU MENAIKI KERETA PERGI KE WILAYAH LENYAP Tiba-tiba saja kau menaiki kereta pergi ke wilayah lenyappelita terpadam di gubuk...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: Faiza Warahmah(Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya)Mengayun kembali sejarah duluMengingat luka lama saat lautan itu mengamukMenerkam bak srigalaMenyantap...
Baca SelengkapnyaDetailsNurdin F.Joes:** Tuhanku kekasihEngkau tak pernah membencikecuali mengujisejauh mana kami bersabarsejauh mana kami merela Dengan gempa bumi26 Desember 2004 itudengan skala 8,9...
Baca SelengkapnyaDetailsSri Ramona Hus(Ustazah SDIT Muhammadiyah Manggeng Aceh Barat Daya)Ibu Ratu yang tak bermahkotaNamun bertelapak kaki syurgaItulah gelar yang tersemat pada dirimu.IbuSetiap...
Baca SelengkapnyaDetailsDok PribadiKarya Hamdani MulyaLeuser menangis dalam isak tak terkiraMendesah karena pohon yang tumbangdan ranting yang dicincangLeuser menjerit menggelegar seperti suara...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com