Puisi-Puisi Mustiar Ar
ILALANG Aku berjalan Sendiri.. Angin meliuk-liuk Meniup ilalang Menerbangkan pasir, bebatuan Meulaboh 21.05.2023 AWAN MEMUTIHKAN BUIH...
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin. Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
ILALANG Aku berjalan Sendiri.. Angin meliuk-liuk Meniup ilalang Menerbangkan pasir, bebatuan Meulaboh 21.05.2023 AWAN MEMUTIHKAN BUIH...
Oleh Zab Bransah. Langsa Aceh Indonesia. Kehadiran cinta untuk bertepi di pelabuhan malam Malam itu dia jadikan...
Oleh Tabrani Yunis Ngopi pagi ini ditemani matahari Secangkir kopi menebar aroma pagi Harum semerbak lahirkan inspirasi Mengalir...
tak terhingga sudah sedemikian dalam keadaan yang harus berterima sampai tak lagi menatap cermin menuju ruang berikutnya...
Oleh Tabrani Yunis Pagi ini kita beruntung Di langit mendung menggulung Rendah tak begitu tinggi membumbung Berkejaran...
“Cawan kopiku retak” Siapakah petualang cinta di secangkir kopi Yang aku pesan Kopi espresso Yang kau buat kopi...
Puisi Nasrizal Di sini aku berdiri Bersujud bersimpuh memuja Mu ya Rabbi Di sini aku bemohon Meminta,menadahkan tangan...
-untuk kakanda Tabrani Yunis Nik Mohd Hafiz Abdullah Andai aku lewat pulang Kuncilah pintu tiba kelam Jangan takut,...
Oleh : *Ali Surakhman TS * Dari pandang mata cahaya berkilau berbinar-binar merasuk sukma dalam indahnya cemerlang Dalam...