Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Mustiar Ar Kaki penuh percaya diri Hidup bukan persepsi,melangkahlah Wujudkan mimpi Hadapi semua dengan senyum Ikuti apa kata hatimu Buang...
Oleh Zulkifli Abdy Hari ini telah Jumat lagi Rasanya baru kemarin Aku masih saja duduk di sini Menikmati hangat mentari...
Wewangian Hujan Karya:Tasya Febrianda Impresi menguap dia atas tanah Larut bersama wewangian hujan Dibawah rintik rintik nikmat tuhan Tersemangat manis...
Oleh Jonson Effendi Panorama senja seluit tepian pantai, sekawanan burung putih pulang ke sarang hinggap di ranting bakau, suara...
Karya:Tasya Febrianda Saat berhenti untuk bersandar Memohon dan berserah Agar diberi sebuah pulang Untuk dapat hidup nyaman Perjuangan yang melelahkan...
Jam Dinding Oleh Riessa Siapa aku, sehingga raga harus tergantung seharian, bagai seorang pesakitan sedang menjalanii hukum mati? Siapa aku ...
Mustiar Ar : PELABUHAN JETTI Dermaga kecil itu - Jetti Meulaboh Pada gerimis senja Ia menating sekeping harap _ renyuh...
Oleh Zulkifli Abdy Kincir-kincir waktu terus saja berputar Tak pernah berhenti walau pun sebentar Menghela nafas musafir yang kian terengah...
Oleh Zab Bransah Senja makna kata ketika rindu Angin selat Malaka deburan riak kecil bawa rindu ke seberang Senja secangkir...
Jonson Effendi Ibu ... Air matamu, lautan paling jernih Dadamu, samudera paling dalam Pikiranmu, langit paling tinggi Jiwamu lautan paling...
© 2026 potretonline.com






