Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Masih Adakah Harumnya Bunga Kupula - Zab Bransah, Sajak ke - 3 Aku tidak muda lagi, tidak ada satu detik...
Oleh Rosli K. Matari Di Malaysia - Zab Bransah, kota Langsa *Kurenung...
Oleh Fajar Kiranya aku tahu benar, mengapa hanya aku yang tertawa karena membenarkan perilaku yang tidak benar. Ah sudah-lah. Manusia...
Karya Ali Hamzah Marahmu membunuhku, bulan Matahari redup di ujung senja Tak berapa lagi, aku tak tahu Matahari memadamkan cahayanya...
Guru Guruku..... Ibarat sebatang lilin Kau rela membakar dirimu Untuk menerangi sekitarmu Guruku..... Kau korbankan waktumu Demi mengajari kami...
Rumah Tua Oleh Zab Bransah Radzuan Ibrahim Rumah tempat dirimu hadir Rumah berpapan lapuk kini tampak dimakan usia Rumah awal...
Oleh Zulkifli Abdy Cianjur.., Dukamu adalah duka kami jua Deritamu adalah derita kita semua Tatkala bumi Cianjur berguncang Laksana mimpi...
Zab Bransah Cahaya matamu bening izinkanlah kutatap bola matamu Rupamu bagaikan bunga mekar memerah mawar indah di taman Bidadariku Kerinduan...
- Mustiar Ar Memahat kata saat putik tumbuh jadi bunga Deru angin lam padang Pekik Teuku Meulaboh membakar jiwa rakyat...
Oleh Nadia Ulfa Hanya memandang dari kejauhan Ingin sekali kumenyapanya dengan riang Kubisa saja melakukannya dengan senang Namun, itu semua...
© 2026 potretonline.com






