Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
K U R S I K edaulatan berada di tangan rakyat U ndang-undang pedoman kenegaraan R akyat berdaulat menentukan pilihan...
Oleh Tabrani Yunis Bahtera besar ini kian terlihat reot Besi dan baja penyangga mulai keropos Geladak dan jangkar rapuh...
Oleh Muhrain ada yang tertinggal tapi bukan pikiran namun harapan harapan membuat manusia berani melintasi ceruk terjal jalan raya...
Oleh Tabrani Yunis Dik, Musim pancaroba itu tlah menerpa Sawah dan padang bagai savana Kekeringan mulai melanda Mengguncang jiwa-jiwa...
Oleh: Muhrain kadangkala kita ingin tertawa tapi masihkah tertawa diperlukan ketika perut melilit lapar dahaga? remah roti jatuh di sekujur...
Kukumu Kuku Apa Oleh Usfa Sri Rezeki Kuku.... cuma dua huruf...
Selepas Hujan Oleh Mohammad Adid AB Rahman Pelangi turun dari persembunyiannya selepas hujan bangga mempertoton warna-warna bahasa indah damaikan jiwa...
Oleh Muhrain kita sering terbiasa dikalahkan meski bukan karena kalah sebenar jatuh dan bangkit menuju hari esok demikian ranumnya...
Oleh Zab Bransah. - Langsa Aceh Kubersujud di atas sajadah cinta bagiNya Melalui hamba setiap tugas lima waktu bagi setiap...
anto narasoma *BULAN (2)* bulan, kucairkan doa ini pada cahaya purnamamu yang berjenjang menatap kekeruhan di hatiku sebab, doa-doa dalam...
© 2026 potretonline.com