
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh : Pril Huseno Bendera putih ini, naik tinggi sudah Diiringi derai air mata ibu, yang tetes matanya mengalir doa doa ... Inilah...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Sitti Zahara Tarmizi Reranting pohon bernyanyi dengan kencangnya anginDedaunan berguguran satu persatuTanah dengan senang hati menyambutnyaHujan mulai menjatuhkan rintikannyaSeorang...
Baca SelengkapnyaDetailsPuisiAceh Negeri Hujan Air MataKarya Hamdani MulyaGuru SMAN 1 Lhokseumawe Hujan turun deras, membanjiri jalan-jalanMembawa kenangan, luka yang tak kunjung...
Baca SelengkapnyaDetailsPuisi Anto Narasoma:Akhirnya Mati akhirnya,tanah itu terkulai dalam tumpukan kekejian yang membawa kematian bagi tangan-tangan terkulai dalam genangan lumpuryang menyisakan...
Baca SelengkapnyaDetails1. Fasād Di Tanah Pusaka Cintaku hanyut ditimpa bala Air murka turun bertalu Padang tenggelam zikir lama Pesisir Selatan runtuh...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Ahmad Gusairi Ketika pohon bicara, suaranya seperti bisik langit Lirih turun pelan melalui serat-serat waktu Ia tak berhuruf, namun...
Baca SelengkapnyaDetailsKarya Almira Sartika Siswa SMAN 1 Lhokseumawe Air datang dari mana-mana,mengalir cepat di sepanjang jalansampai tidak ada lagi tanahyang bisa...
Baca SelengkapnyaDetailsKarya: Miftahul Jannah Hujan turun dengan deras,dingin menusuk hingga tulang,membuat malam menidurkan kami,meski tidur tak pernah sepenuhnya tenang. Air merembes...
Baca SelengkapnyaDetailsKarya Teuku Nufail Zharifsyah Siswa SMAN 1 Lhokseumawe Deru langit tak henti menjatuhkan tangis Aroma tanah basah menyelimuti alam Sungai...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosli K. Matari Malaysia I. kita sudah melupakanindah-indah kenangan,di sungai bayang bertamjernih terendamdaun dan angin, buai-buai kiambang, terataisudah lama...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com