Puisi-Puisi Ilhamdi Sulaiman
Delapan Puluh Tahun Menanak Angin Karya Ilhamdi Sulaiman. Kami menanak angin bukan karena ingin tapi...
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin. Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Delapan Puluh Tahun Menanak Angin Karya Ilhamdi Sulaiman. Kami menanak angin bukan karena ingin tapi...
Oleh Muslimin Lamongan perawan desa mengukir alis rembulan gerhanamenabur bedak setebal tepian telagalurus rambut kerudung semerbak belalak godalensa...
Jah; (tentangmu) Jah,Tentangmu apa yang belum kupuisikanMalam-malam yang murungHari-hari yang pucatKata-kata yang menggelepar meregang nyawaAtau puisi kusam di...
Puisi: Muslimin Lamongan Maafkan aku, rerumputan,aku yang melangkah tanpa menyapamu,meninggalkan jejak kotor di tubuhmu,menjadikanmu abu dalam nyala yang...
Oleh Nurkamari Guru MTs Tastafi, Pidie Jaya, Alumnus Jabal Ghafur, Pidie Aku tumbuh bukan dari cinta yang utuh,...
Oleh ~Rika Maina Sari Dachi Di balik gelap yang sunyi Kusimpan kesedihan dalam hati Sepi…sendiri…hanya luka yang menemani...
Oleh Siska AkmalGuru MTs Fathin Al-Aziziyah, Pidie Jaya. Lulusan Universitas Jabal Ghafur, Sigli, Aceh Langit biru yang menyakitkan,sunyi...
Oleh Cikgu Sariman Husin Sahabat itu bagaikan cahaya,menerangi hari penuh warna,bersama dalam suka dan duka,setia di saat jiwa...
HANCUR SEBUAH KEDAMAIAN DI biru warna alir Tigrisdan kehijauan Eufratesaku menikmati kedamaian. Tiba-tiba jutaanbom merejamkejam. Airmata lalu menyembur...