
Oleh: Anies SeptivirawanSinar matahari masih belum terlalu menyengat kulitku. Masih pagi.Aku mau mengisi kekosongan perutku dengan makanan khas kotaku, Situbondo,...
Baca SelengkapnyaDetails.Karya : Ilhamdi Sulaiman Setiap Kali Gaji Mampir ketangannya, Syamsudin tak pernah lupa membelikan kebutuhan sehari-hari Halimah.Sebuah isyarat kasih yang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: Afridal Darmi, SH, LLM Empat puluh tahun yang lalu, tidak ada rasa manis dalam masakan utama di dapur-dapur Aceh....
Baca SelengkapnyaDetailsNYALA DI UJUNG RENCONG (Syair Perang untuk Tanah yang Tak Pernah Tunduk) Dengarlah wahai pewaris tanah, Rencong bersinar di genggam...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Jengki Sunarta Apa Perlu Judul? Aku adalah kertas basah yang terbakarMatahariMenyala di tepi hariYang hilang dalam lautan Apa semua...
Baca SelengkapnyaDetailsSeruan Budaya Aceh untuk Menyelamatkan Anak Bangsa Oleh Nyakman Lamjame Mereka melaju di jalanan malam, memecah sunyi dengan raungan mesin...
Baca SelengkapnyaDetailsBayang-bayang Kemiskinan Di tengah kota, yang sibuk dan ramaiTerdapat bayangan, yang tersembunyiKemiskinan, yang menyerang dengan ganasMengambil harapan, dan meninggalkan kesedihan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: Siti Hajar Tradisi merantau merupakan bagian penting dari sistem nilai dan struktur sosial masyarakat Aceh, khususnya di Kabupaten Pidie. Tidak jarang, laki-laki yang telah menikah juga merantau meninggalkan istrinya (bahkan dalam kondisi hamil) bukanlah hal yang dianggap aneh. Justru, praktik ini dipandang sebagai wujud tanggung jawab dan kematangan sosial. Banyak laki-laki Pidie yang baru kembali ke kampung halaman setelah bertahun-tahun, bahkan saat anak mereka telah berusia antara tujuh hingga dua belas tahun. Tulisan ini mengkaji secara lebih dalam tradisi merantau bagi laki-laki di Pidie, dengan menelusuri latar belakang sosiokultural, alasan non-ekonomi, serta dampaknya terhadap ketahanan keluarga dan identitas kultural pada zaman dulu. Sejarah dan Akar Tradisi Merantau di Pidie...
Baca SelengkapnyaDetailsCatatan Paradoks; Wayan Suyadnya Dunia ini panggung paradoks. Kita membaca dan menulis, mendengar dan berbicara—dua keping mata uang yang tak...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Gunawan TrihantoroKetua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah Di tengah derasnya arus informasi digital, media...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com