POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Aceh

Tradisi Mengaji Shalat Magrib di Aceh Memudar: Alarm Sosial dari Serambi Mekkah

Hanif Arsyad by Hanif Arsyad
Juni 29, 2025
in Aceh, Aceh Carong, Budaya membaca, POTRET Budaya
0
Tradisi Mengaji Shalat Magrib di Aceh Memudar: Alarm Sosial dari Serambi Mekkah - IMG 20250502 WA0010 | Aceh | Potret Online

Oleh: Hanif Arsyad

Aceh pernah hidup dalam senandung Al-Qur’an saat matahari tenggelam. 


Puluhan tahun lalu, tradisi mengaji magrib di rumah-rumah gampong menjadi denyut harian masyarakat Aceh. Bukan sekadar ritual, tapi bagian dari transmisi nilai, penguatan identitas, dan sekolah informal berbasis keluarga. Kini, suasana itu nyaris senyap. Yang terdengar justru deru televisi, gawai, dan suara senyap anak-anak yang tenggelam dalam layar.

Tradisi Mengaji Shalat Magrib di Aceh Memudar: Alarm Sosial dari Serambi Mekkah - nah loh_11zon | Aceh | Potret Online
Baca Juga
# Ironi
HABA Si PATok
12 Apr 2025

Apa yang sebenarnya terjadi? 

Kenapa tradisi yang selama ini menjadi jantung spiritual masyarakat Serambi Mekkah justru meredup di tengah gemuruh modernitas?

Tradisi Mengaji Shalat Magrib di Aceh Memudar: Alarm Sosial dari Serambi Mekkah - IMG_2212 | Aceh | Potret Online
Baca Juga
Aceh
Suara dan Gerakan Kaum Perempuan Indonesia Yang Patut dan Harus Diperhitungkan
16 Des 2024

Transformasi Sosial dan Budaya yang Tidak Terbendung

Modernisasi datang tanpa permisi. Gawai masuk ke kamar anak-anak lebih cepat dari kitab suci. Sementara itu, orang tua, terdesak kebutuhan ekonomi, terpaksa menghabiskan waktu di luar rumah. Keluarga yang dulunya menjadi pusat pembelajaran agama kini kehilangan daya didik.

Tradisi Mengaji Shalat Magrib di Aceh Memudar: Alarm Sosial dari Serambi Mekkah - 3C21529B 224E 4138 AE2B DFC76A6D0D2B | Aceh | Potret Online
Baca Juga
akhlak
Jabatan itu Amanah atau Aman… Nah?
15 Feb 2023

Di sisi lain, urbanisasi dan pergeseran gaya hidup membentuk generasi yang lebih akrab dengan konten TikTok ketimbang ayat-ayat suci. Mereka bukan tidak peduli agama, tapi kehilangan ruang dan teladan untuk menjalaninya.

Ketidaksiapan Sistemik dalam Merespons Perubahan

Pendidikan agama yang diformalisasikan di sekolah tidak berhasil menggantikan peran keluarga. Program “15 Menit Mengaji” sebelum belajar hanyalah oase kecil di padang luas perubahan perilaku sosial. Banyak sekolah melaksanakannya sebagai rutinitas administratif, bukan proses internalisasi nilai.

Di tengah itu, sebagian tokoh agama lokal – para teungku dan ustaz – justru lebih sibuk dalam urusan birokrasi syariat atau kegiatan seremonial. Komunitas kehilangan pendamping spiritual yang relevan dan membumi.

Konflik masa lalu dan bencana tsunami 2004 juga berkontribusi. Pasca-rekonstruksi lebih menekankan bangunan fisik, bukan kebangkitan budaya. Proyek pembangunan masjid dan meunasah tidak dibarengi pembinaan fungsi edukatifnya.

Dampaknya: Generasi yang Rapuh dan Terputus dari Akar

Yang kita hadapi kini bukan hanya penurunan kemampuan membaca Al-Qur’an – yang diakui oleh Program GETBA (Gerakan Tuntas Baca Al-Qur’an) – tetapi juga hilangnya benteng spiritual generasi muda. Judi online, pornografi, dan kekerasan remaja mencerminkan kegagalan kolektif dalam menjaga nilai dasar.

Kita bukan hanya kehilangan budaya mengaji, kita kehilangan arah kompas identitas. Serambi Mekkah kini diuji: apakah label itu masih hidup dalam keseharian atau tinggal dalam plakat sejarah?

Revitalisasi: Masihkah Ada Harapan?

Beberapa daerah telah bergerak. Aceh Selatan meluncurkan Program Magrib Mengaji, melibatkan imam, teungku, dan orang tua. NU ikut mendukung. Pemerintah Aceh menerbitkan Instruksi Gubernur tentang salat berjamaah dan mengaji.

Namun, tantangan tetap besar. Keterlibatan keluarga masih minim. Banyak program hanya menyentuh aspek simbolik, bukan menyentuh akar budaya. Ritual tanpa ruh hanya melahirkan formalitas baru, bukan kesadaran spiritual.

Apa yang Bisa Dilakukan?

1. Kembalikan Peran Keluarga
Bangun gerakan berbasis gampong: Keluarga Qurani, dengan insentif nyata bagi keluarga yang konsisten menjalankan budaya mengaji magrib.

2. Manfaatkan Teknologi Secara Cerdas
Kembangkan aplikasi mengaji berbahasa lokal, berbasis karakter Aceh, agar anak-anak tak merasa mengaji adalah kegiatan “jaman dulu”.

3. Perkuat Kapasitas Tokoh Agama
Berikan pelatihan metode mengajar Al-Qur’an yang kontekstual, menyentuh realitas hidup anak muda. Bukan hanya hafalan, tapi pemahaman.

4. Dokumentasikan Tradisi Ini sebagai Warisan Budaya Takbenda
Budaya mengaji magrib harus diakui dan dilindungi. Ini bukan hanya soal agama, tapi soal identitas budaya.

Sebagai refleksi terakhir penulis mengajak untuk Menjaga yang Tersisa, Membangkitkan yang Terlupa.

Tradisi mengaji habis shalat magrib adalah harta tak ternilai. Jika kita gagal menjaganya, bukan hanya suara anak-anak yang hilang dari surau, tetapi suara Aceh yang kehilangan arah. Seperti yang pernah dikatakan oleh Pj Gubernur Aceh: “Al-Qur’an adalah ibu dari segala ilmu”. Maka, mari kita kembali ke rumah. Kembali ke suara-suara magrib. Kembali ke jati diri Serambi Mekkah.

Artikel ini merupakan refleksi kritis atas kondisi sosial-budaya Aceh dan ajakan untuk membangun kembali akar spiritual masyarakat melalui pendekatan kultural dan pendidikan keluarga. Selamat Hari Keluarga  Nasional

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post

Mengenal Topan Ginting, Orang Dekat Bobby Masuk di Kubangan Miliaran

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah