
Oleh: Afridal Darmi Angin masih berhembus di gang-gang sempit perkampungan. Tapi bau dapur yang dulu harum kini berganti dengan aroma...
Baca SelengkapnyaDetailsCara Mudah Merawat Logika--‐------------‐------------------------------------Minggu, 13/4/2025 (Edisi 1357) "Sepertinya Pak Prabowo mau ingkar janji Bib!" "Janji yang mana?" "Menurut Pak Menko...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: Dahlan Iskan KIRUN ditanya oleh istri: punya uang berapa? "Punya Rp 500.000," katanya. Lalu ia merogoh kantong kanan. Ia...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Ririe Aiko Di sebuah negeri yang terkenal dengan sumber daya yang melimpah, kreativitas bukan sekadar hobi atau bakat,...
Baca SelengkapnyaDetails968 T dan Mencemburui Neraka Aku melihat mereka dengan 968 T,mereka tertawa,sementara aku mengunyah kehampaan Aku berpuasa, aku bersujud,tapi cemburu ini lebih digdayaLebih panas dari dahaga.Lebih pekat dari malam-malamku yang hampa doa. Mereka mencuri, tapi tak dihukum.Mereka menipu, tapi tetap sucimereka menukar dosa dengan sedekah,Sementara aku menahan diri,perutku melilit, kerongkonganku kering,dan hatiku membusuk dalam dengki karena aku hanya menghitung receh di kantong lusuhmenakar iman yang semakin hambar. Tuhan, katakan padaku,Apakah surga hanya untuk mereka yang bisa membelinya,dengan uang yang didapat semudah air liur? Tuhan, mengapa mereka tetap tersenyum?tertawa di meja-meja megah,sementara aku menunggu magribdengan perut yang mengutuk langit? Malam ini aku sujud lebih lama,bukan untuk meminta ampun,tapi untuk bertanya,apakah aku boleh mencemburui neraka? Montasik, 5 Ramadhan 1446 Puasa Tanpa Cahaya Terhuyung dalam lapar dan haus, Bersama matahari dan palu pemecah batu Aku tahankan lapar ini, tapi aku kenyang oleh iri,hausku bukan air, tapi dendam yang tak terpuaskan.menghanguskan setiap ibadah,menjadikannya abu tanpa cahaya. Aku duduk merunduk di sajadah lusuh,tapi hatiku penuh letusan keluh,Tuhanku tetap terasa jauh,lidahku hanya mengulang,tanpa jiwa yang berserah. Orang-orang bersujud, menangis dalam syukur,aku bersujud, menangis dalam kehampaan.Malam-malamku penuh doa,tapi tak lebih gema kosong,memantul di dinding langit yang tak jua terbuka. Aku berpuasa, aku shalat, aku membaca firman-Nya,tapi di dalam dadaku,amarah masih menggeram, dengki masih berakar,tak bisa menyelamatkan hati yang menolak tunduk....
Baca SelengkapnyaDetailsOplosan Maling Bejat Oleh Tabrani Yunis Hati panas kala mendapat oplosan Dari tangan para penjaja bensin jalanan Pedagang kecil yang...
Baca SelengkapnyaDetailsCatatan Paradoks; Wayan Suyadnya Indonesia adalah sebuah keajaiban. Negeri ini seperti sumur tanpa dasar, dikeruk tak habis-habis, dirampok tak kering-kering....
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Di sebuah sel khusus di Kejaksaan Agung, tiga orang yang disebut-sebut sebagai otak megakorupsi terbesar abad ini,...
Baca SelengkapnyaDetailsDi zaman ketika pertalite disulap menjadi pertamax oleh para pengoplos brilian pengejar cuan, bulan Ramadan adalah panggung pertunjukan puasa oplosan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Sebelumnya, kita sudah berkenalan dengan duo maestro korupsi elite, Riva Siahaan dan Maya Kusmaya. Sekarang, giliran Muhammad...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com