#Pertamax

Temukan semua artikel terbaru dalam kategori #Pertamax.

15 artikel Diperbarui: 03 Juni 2026
Filter: Terbaru Terpopuler Pilihan Editor
# Koruptor

Alhamdulillah, Bukan Nomor Satu

Oleh Rosadi Jamani Lama tak bahas korupsi. Saya kan pakarnya, sombong amat! Ups..Sambil menikmati gudeg di Jalan Wahidin,...

Powerful Kejagung

Oleh: Dahlan Iskan Sabtu 10-05-2025 Yang pertama merespons pertanyaan saya adalah Prof Dr Busyro Muqoddas. Ia setahun lebih...

# Ironi

Kerusakan Negeri dan Azab yang Menanti

Oleh: Azharsyah Ibrahim Sebagaimana tulisan saya sebelumnya di potretonline.com “Korupsi sebagai jalur karier di Konoha”, di negeri yang kaya raya dan subur makmur ini,...

# Koruptor

BENGKEL OPINI RAKyat

Cara Mudah Merawat Logika–‐————‐————————————Minggu, 13/4/2025 (Edisi 1357) “Kau lihat saja dari sejak Indonesia merdeka angka korupsi kita naik...

#Para Maling

Agomo Budoyo

Oleh: Dahlan Iskan KIRUN ditanya oleh istri: punya uang berapa? “Punya Rp 500.000,” katanya. Lalu ia merogoh kantong...

#Kriminal

Puisi -Puisi Lapar, Afridal Darmi

968 T dan Mencemburui Neraka Aku melihat mereka dengan 968 T,mereka tertawa,sementara aku mengunyah kehampaan Aku berpuasa, aku bersujud,tapi cemburu ini lebih digdayaLebih panas dari dahaga.Lebih pekat dari malam-malamku yang hampa doa. Mereka mencuri, tapi tak dihukum.Mereka menipu, tapi tetap sucimereka menukar dosa dengan sedekah,Sementara aku menahan diri,perutku melilit, kerongkonganku kering,dan hatiku membusuk dalam dengki karena aku hanya menghitung receh di kantong lusuhmenakar iman yang semakin hambar. Tuhan, katakan padaku,Apakah surga hanya untuk mereka yang bisa membelinya,dengan uang yang didapat semudah air liur? Tuhan, mengapa mereka tetap tersenyum?tertawa di meja-meja megah,sementara aku menunggu magribdengan perut yang mengutuk langit? Malam ini aku sujud lebih lama,bukan untuk meminta ampun,tapi untuk bertanya,apakah aku boleh mencemburui neraka? Montasik, 5 Ramadhan 1446 Puasa Tanpa Cahaya Terhuyung dalam lapar dan haus,  Bersama matahari dan palu pemecah batu Aku tahankan lapar ini, tapi aku kenyang oleh iri,hausku bukan air, tapi dendam yang tak terpuaskan.menghanguskan setiap ibadah,menjadikannya abu tanpa cahaya. Aku duduk merunduk di sajadah lusuh,tapi hatiku penuh letusan keluh,Tuhanku tetap terasa jauh,lidahku hanya mengulang,tanpa jiwa yang berserah....