
Oleh: Dahlan Iskan KIRUN ditanya oleh istri: punya uang berapa? "Punya Rp 500.000," katanya. Lalu ia merogoh kantong kanan. Ia...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Jacob Ereste Rancangan Undang-indang perampasan aset sudah diwacanakan sejak 20 tahunan silam, tapi yang terjadi adalah perampasan kendaraan bermotor...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Albertus M. Patty Margaret Mead, seorang antropolog terkemuka, pernah menyatakan bahwa "We make our own criminals, and their crimes...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Kalau ada bahan untuk ditulis, sangat sulit mau tidur. Padahal, sudah larut. Efek kopi liberika juga kali....
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Heri Iskandar Selasa, 19/3/2025 (Edisi 1082) "APA YANG terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan adalah jawaban...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Ririe Aiko Di sebuah negeri yang terkenal dengan sumber daya yang melimpah, kreativitas bukan sekadar hobi atau bakat,...
Baca SelengkapnyaDetailsJacob Ereste Indonesia ibarat rumah tua yang tak terurus. Dalam usia nyaris seabad, kebocoran ada disana -sini, sehingga membuat sibuk...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Indonesia pernah digoyang gempa. Tapi gempa sosial-politik karena kasus pagar laut Tangerang? Lebih dahsyat. Pagar sepanjang 30,16...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh: Azharsyah Ibrahim* Pernah merasa frustrasi karena sudah bekerja keras, banting tulang dari pagi hingga malam, tapi saldo rekening tetap...
Baca SelengkapnyaDetails968 T dan Mencemburui Neraka Aku melihat mereka dengan 968 T,mereka tertawa,sementara aku mengunyah kehampaan Aku berpuasa, aku bersujud,tapi cemburu ini lebih digdayaLebih panas dari dahaga.Lebih pekat dari malam-malamku yang hampa doa. Mereka mencuri, tapi tak dihukum.Mereka menipu, tapi tetap sucimereka menukar dosa dengan sedekah,Sementara aku menahan diri,perutku melilit, kerongkonganku kering,dan hatiku membusuk dalam dengki karena aku hanya menghitung receh di kantong lusuhmenakar iman yang semakin hambar. Tuhan, katakan padaku,Apakah surga hanya untuk mereka yang bisa membelinya,dengan uang yang didapat semudah air liur? Tuhan, mengapa mereka tetap tersenyum?tertawa di meja-meja megah,sementara aku menunggu magribdengan perut yang mengutuk langit? Malam ini aku sujud lebih lama,bukan untuk meminta ampun,tapi untuk bertanya,apakah aku boleh mencemburui neraka? Montasik, 5 Ramadhan 1446 Puasa Tanpa Cahaya Terhuyung dalam lapar dan haus, Bersama matahari dan palu pemecah batu Aku tahankan lapar ini, tapi aku kenyang oleh iri,hausku bukan air, tapi dendam yang tak terpuaskan.menghanguskan setiap ibadah,menjadikannya abu tanpa cahaya. Aku duduk merunduk di sajadah lusuh,tapi hatiku penuh letusan keluh,Tuhanku tetap terasa jauh,lidahku hanya mengulang,tanpa jiwa yang berserah. Orang-orang bersujud, menangis dalam syukur,aku bersujud, menangis dalam kehampaan.Malam-malamku penuh doa,tapi tak lebih gema kosong,memantul di dinding langit yang tak jua terbuka. Aku berpuasa, aku shalat, aku membaca firman-Nya,tapi di dalam dadaku,amarah masih menggeram, dengki masih berakar,tak bisa menyelamatkan hati yang menolak tunduk....
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com