#Para Maling

Temukan semua artikel terbaru dalam kategori #Para Maling.

30 artikel Diperbarui: 03 Juni 2026
Filter: Terbaru Terpopuler Pilihan Editor
# Koruptor

Rapuhnya Fondasi Moral Bangsa

Oleh Albertus M. Patty Margaret Mead, seorang antropolog terkemuka, pernah menyatakan bahwa “We make our own criminals, and...

# Koruptor

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Oleh Heri Iskandar Selasa, 19/3/2025 (Edisi 1082) “APA YANG terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan...

-#Pagar Laut

Tumbal Terbesar Abad Ini

Oleh Rosadi Jamani Indonesia pernah digoyang gempa. Tapi gempa sosial-politik karena kasus pagar laut Tangerang? Lebih dahsyat. Pagar...

# Koruptor

Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

Oleh: Azharsyah Ibrahim* Pernah merasa frustrasi karena sudah bekerja keras, banting tulang dari pagi hingga malam, tapi saldo...

#Kriminal

Puisi -Puisi Lapar, Afridal Darmi

968 T dan Mencemburui Neraka Aku melihat mereka dengan 968 T,mereka tertawa,sementara aku mengunyah kehampaan Aku berpuasa, aku bersujud,tapi cemburu ini lebih digdayaLebih panas dari dahaga.Lebih pekat dari malam-malamku yang hampa doa. Mereka mencuri, tapi tak dihukum.Mereka menipu, tapi tetap sucimereka menukar dosa dengan sedekah,Sementara aku menahan diri,perutku melilit, kerongkonganku kering,dan hatiku membusuk dalam dengki karena aku hanya menghitung receh di kantong lusuhmenakar iman yang semakin hambar. Tuhan, katakan padaku,Apakah surga hanya untuk mereka yang bisa membelinya,dengan uang yang didapat semudah air liur? Tuhan, mengapa mereka tetap tersenyum?tertawa di meja-meja megah,sementara aku menunggu magribdengan perut yang mengutuk langit? Malam ini aku sujud lebih lama,bukan untuk meminta ampun,tapi untuk bertanya,apakah aku boleh mencemburui neraka? Montasik, 5 Ramadhan 1446 Puasa Tanpa Cahaya Terhuyung dalam lapar dan haus,  Bersama matahari dan palu pemecah batu Aku tahankan lapar ini, tapi aku kenyang oleh iri,hausku bukan air, tapi dendam yang tak terpuaskan.menghanguskan setiap ibadah,menjadikannya abu tanpa cahaya. Aku duduk merunduk di sajadah lusuh,tapi hatiku penuh letusan keluh,Tuhanku tetap terasa jauh,lidahku hanya mengulang,tanpa jiwa yang berserah....