
Karya Heri Haliling Pada pesisir kau temukan perbatasan. Menunduk dan lihatlah jejakmu di bawah. Pasir? Itu butiran dari buanamu, mampukah...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Syerayun Zahrani “Apa yang bisa kamu lakukan sendiri? Mengerjakan hal kecil saja tidak bisa, Kakak baru melihat orang sebodoh...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Ria Andelia Malam ini hawanya terlalu dingin. Perempuan paruh baya itu merapatkan jaket lusuhnya untuk menghangatkan tubuh yang sudah...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Anto Narasoma Wajah tua Pak Momo terlihat kuyu dan pucat. Ia tampak lelah. Karena usianya yang sudah memasuki tahapan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Di sebuah sel khusus di Kejaksaan Agung, tiga orang yang disebut-sebut sebagai otak megakorupsi terbesar abad ini,...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Rumah besar itu terasa sunyi, meskipun lampu kristalnya masih menyala terang. Sofa mahal, vas bunga impor, dan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Heri Haliling Tiga bulan berlalu sejak semua romansa mesra serasa kecut, bahkan menjadi pahit. Siang itu baru saja semua pil...
Baca SelengkapnyaDetailsLahir di desa Meugit, Ujung Rimba, Pidie Aceh. Lulusan SMA N 1 Mutiara, Beureunun yang bercita-cita ingin menjadi penulis yang...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Muslailati Rala Novila "Kamu dari mana, Mela?" Maaf langsung menyapaku dan menghalangi jalanku ketika melihat aku beringsut-ingsut ingin masuk...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Galaksi bergetar. Bintang-bintang baru saja menyaksikan perang dahsyat. Red Force dan GS Caltex bertemu di medan perang....
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com