
Oleh : Mustiar Ar Pasar Peunayong pagi itu hidup oleh suara orang-orang yang berjuang dengan caranya masing-masing. Amir berdiri di...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Asmaul HusnaInong Literasi Gundukan tanah merah itu masih basah. Kicauan burung sesekali terdengar, seolah mendendangkan simfoni kesedihan atas sebuah...
Baca SelengkapnyaDetailsDemi Anak Cucu By Asmaul HusnaInong Literasi Fajar berdiri terdiam di hadapan tumpukan gelondongan kayu. Pohon-pohon yang dulu tegak dan...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Asmaul HusnaInong Literasi Purnama yang dahulu dirindukan telah lama menghilang, tergantikan sabit yang malu-malu bersembunyi di balik awan. Desir...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Alya Azzahra Senja menyelimuti langit dengan warna kuning keemasan, seperti goresan kuas raksasa yang digerakkan perlahan oleh tangan tak...
Baca SelengkapnyaDetailsKarya Rasya RamadhaniSiswa SMAN 1 LHOKSEUMAWE Hujan terus mengguyur, membasahi bumi Serambi Mekah yang kini berubah menjadi lautan luas. Sungai-sungai...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh Rosadi Jamani Disclaimer, ini hanya fiksi. Jangan bilang ini, fakta, ya. Simak cerpen absurd ini sambil seruput Koptagul, wak!...
Baca SelengkapnyaDetailsNYANYIAN TERAKHIR CENDRAWASIH Oleh Ilham Sulaiman “Tanah ini bukan milik kami saja, ini milik roh-roh yang kau injak dengan sepatu...
Baca SelengkapnyaDetailsOleh : Ilhamdi Sulaiman Ledakan itu memecah pagi seperti pecahan kaca yang menyayat mata. Aku terbangun, bukan karena mimpi buruk,...
Baca SelengkapnyaDetailsBIADAB Karya Ilhamdi Sulaiman Abu Khair dan Dongeng Terakhir Matahari Gaza pagi itu menggantung tanpa malu. Ia memancarkan cahaya panas...
Baca SelengkapnyaDetails© 2025 potretonline.com