Adab Bermunajat: Integrasi Kesucian Mental dan Fisik dalam Menghadap Sang Khalik
Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al-Yusufiy, Lc. (Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Babussaadah & Ketua HUDA Aceh Selatan). Shalat merupakan momentum agung...
Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al-Yusufiy, Lc. (Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Babussaadah & Ketua HUDA Aceh Selatan). Shalat merupakan momentum agung...
TikTok kini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sumber informasi kesehatan mental bagi generasi Z. Fenomena ini meningkatkan kesadaran, tetapi...
Kecemasan yang muncul tanpa alasan jelas sering kali bukan terjadi begitu saja. Dalam psikologi, pengalaman masa kecil atau adverse childhood...
Oleh : Din Saja Kita mulai saja diskusi ini dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, apa itu proses, apa itu kreatif, apa pula...
Oleh Muhammad Maskur (tentang seorang anak yang ingin menjadi "asing" demi meraih sesuatu yang lebih besar dari sekadar apa yang...
Tidak semua jurusan yang diremehkan itu salah. Kadang, justru di situlah kebutuhan terbesar berada—hanya saja belum banyak yang menyadarinya. “Kuliah...
Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al Yusufiy, Lc. (Dosen STAI Aceh Selatan & Pimpinan Dayah Babussaadah) Dalam dinamika pemikiran Islam kontemporer, kita seringmenyaksikan kecenderungan memahami agama secara parsialatau sepotong-sepotong. Ada kelompok yang hanya terpakupada keindahan sastra Al-Qur'an (Tafsir), ada yang hanyafanatik pada riwayat (Hadis), dan ada pula yang terjebak dalambelantara logika hukum (Usul Fiqh). Padahal, dalam arsitektur ilmu syariat, pemisahan ketiga disiplinini secara kaku adalah sebuah kekeliruan epistemologis.Ketiganya bukanlah kamar yang terisolasi, melainkan satu"sirkuit intelektual" yang saling mengikat. Tanpa integrasiketiganya, bangunan hukum Islam akan kehilangankeseimbangan. Satu Teks, Tiga Dimensi Analisis Untuk memahami bagaimana interkoneksi ini bekerja, mari kitaambil contoh sederhana namun fundamental: perintah salatdalam ayat “Aqimush Shalah” (Dirikanlah salat). Bagaimanaseorang sarjana muslim merumuskan perintah ini menjadisebuah kewajiban yang praktis? Pertama: Matra Tafsir (Mencari Makna) Pisau analisis Tafsir bekerja di level semantik atau bahasa. Iamembedah apa itu Aqimu dan apa itu As-Shalah. Tafsirmembuka pintu pemahaman tentang "apa" yang diinginkanTuhan. Namun, di level ini, teks masih bersifat global (mujmal).Kita tahu ada perintah, tapi kita belum tahu bagaimana caraoperasionalnya. Kedua: Matra Hadis (Mencari Model) Di sinilah Hadis masuk sebagai Mubayyin atau penjelas. Jika Al-Qur'an menyajikan konsep abstrak, Hadis memberikanmanifestasi nyata. Lewat sabda Nabi ﷺ, "Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat," hadis mengonversiperintah abstrak tadi menjadi detail teknis: ada ruku’, sujud, danjumlah rakaat. Hadis adalah validasi praktis agar wahyu tidakhanya menjadi teori di atas kertas. Ketiga: Matra Usul Fiqh (Mencari Logika Hukum)...
Oleh Yani Andoko Siang Bolong Yang Terik Dan Sebuah Bom Waktu Tak terbayangkan di sebuah ruangan sempit seluas 15 meter...
Oleh Denny JA Malam itu, di sebuah ruang doa kecil di Roma, lilin-lilin menyala pelan. Seorang imam tua berbisik, “Dunia...
. Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al-Yusufiy, Lc. (Pimpinan Dayah Madinatuddiniyah Babussaadah & Ketua HUDA Aceh Selatan) Bahasa bukan sekadar...