• Latest
Apa Itu Manusia

Apa Itu Manusia

Januari 17, 2025
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Apa Itu Manusia

Fajar Ilhamby Fajar Ilham
Januari 20, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: #Heidegger#Manusia
Apa Itu Manusia
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Fajar İlham

Judul tulisan di atas, merupakan sebuah pertanyaan yang menanyakan tentang manusia. Pertanyaan itu, mungkin pula akan dijawab  atau ditafsirkan dengan berbagai  perspektif, sesuai dengan kemampuan menafsirkannya.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Bagi saya sendiri,  mau bersentuhan dengan pikiran Rane Descartes. Dia mengatakan  manusia itu ”cagito, ergo sum”, namun setelah saya lama bersentuahan dengan buah pikir Rane, saya dikejutkan dengan psikologi humanistik Abraham Maslow, yang menyoroti manusia sebagai makhluk individu.

Karena di awal saya sudah terlalu terkesima dengan “cagito, ergo sum” saya lagi-lagi dibuat bingung. Alasannya, selain manusia sebagai makhluk individu, namun ia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan yang lain, lebih tepatnya saling ketergantungan.

Nah, jika demikian, kenapa pula manusia dikatakan makhluk individu, sementara ia terikat dengan yang lain.  Jika individu ini terikat dengan yang lain, lalu bagaiman ia menjalani samudera kehidupan ini? Lagi-lagi “cagito, ergo sum” menggoda saya untuk mencari apa itu manusia.

Dalam proses pencarian yang panjang ini, saya dibuat geli dengan istilah ‘kesetaraan’ di mana ini adalah syarat bagi perkembangan hidup manusia sebagai makhluk individu. Tentunya kesetaraan yang seperti apa yang semestinya dijalani dalam samudera kehidupan ini.

Jika kita merujuk pada konsep yang pernah dirumuskan oleh Kant,”bahwa manusia tidak boleh menjadi alat bagi tujuan manusia lain”.   Jika kita ambil contoh tentang gender, bagaimana yang dimaksud dengan kesetaraan itu? Apakah kesamaan hak agar memproleh keadilan? Joka begitu, tentunya ini sangat tidak membuat saya klimaks, dikarenakan antara perempuan dan laki-laki adanya perbedaan. Lalu bagaimana yang dimaksut dengan kesetaraan yang dirumuskan oleh Kant itu….

Namun demikian ada hal yang lebih kompleks lagi, yaitu bagaimanakah kita mendekontruksikan kesetaraan dalam masyarakat yang kapitalis di era teknologi digital. Tentunya kesetaraan itu telah berubah. Karena kini individu manusia mengacu pada kesetaraan ‘manusia mesin’.

Manusia mesin yang saya maksudkan adalah manusia yang untuk mengetahui kenapa saya lapar. Dia memperoleh jawabannya sangat instan, walaupun hasil jawabnya sama dengan orang yang berproses. Namun ada yang hilang dalam diri manusia mesin itu, yaitu:”manusia yang telah kehilangan individunya”. Karena pengalaman individu manusia itu melewati rangkaian peroses yang berbeda-beda, dan tidak mungkin sama. 

Lantas, bagaimana cara agar seseorang yang terperangkap dalam jaring rutinitas kehidupan ini, tidak lupa bahwa dirinya adalah manusia yang individu yang terikat dengan sosial, individual yang unik ini. Saya meminjam jawabnya sementara dari Heidegger, yaitu: “menjadi manusia yang otentik”.  Bagi Heidegger, pertanyaan tentang keberadaan bekonfrontasi dengan kematian, dengan membuat makna dari keterbatasan manusia. Jika keberadaan kita terbatas, maka apa artinya menjadi manusia, atau dalam kata-kata Nietzsche yang dikutip oleh Heidegger, mendefinisikan manusia adalah kemampuan untuk dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang paling dalam dan membingungkan.

Lagi-lagi,“cagito, ergo sum” membuat adrenalin ini mengembara di muara kehidupan, untuk mengetahui bagaimana yang dimaksud dengan “menjadi manusia yang otentik itu”.

ADVERTISEMENT

Dalam gemuruh pertentangan ini, akhirnya saya diredamkan untuk beberapa saat dalam pandangan Jalaluddin Rumi. Ia mengatakan manusia memiliki potensi luar biasa  dan untuk menemukan itu ada di dalam dirinya sendiri, yaitu manusia adalah makhluk yang bertransformasi. Aku mati sebagai mineral, dan menjelma menjadi tumbuhan, lalu mati lagi menjadi binatang, lalu kini hidup menjadi manusia.

Kenapa aku harus bingung dengan yang disebutkan Heidegger “menjadi menuju kematian”, karena kematian ini tidak menyebabkanku kekurangan, karena aku harus mati sekali lagi sebagai manusia untuk menjelma sesuatu yang tidak terdefininsi. Biarkan diriku tidak ada, karena “KepadaNya kita akan kembali” ke sumber asal muasal ‘ada’.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Zakat untuk Makan Gratis

Zakat untuk Makan Gratis

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com