Dengarkan Artikel
Oleh Fajar İlham
Judul tulisan di atas, merupakan sebuah pertanyaan yang menanyakan tentang manusia. Pertanyaan itu, mungkin pula akan dijawab atau ditafsirkan dengan berbagai perspektif, sesuai dengan kemampuan menafsirkannya.
Bagi saya sendiri, mau bersentuhan dengan pikiran Rane Descartes. Dia mengatakan manusia itu ”cagito, ergo sum”, namun setelah saya lama bersentuahan dengan buah pikir Rane, saya dikejutkan dengan psikologi humanistik Abraham Maslow, yang menyoroti manusia sebagai makhluk individu.
Karena di awal saya sudah terlalu terkesima dengan “cagito, ergo sum” saya lagi-lagi dibuat bingung. Alasannya, selain manusia sebagai makhluk individu, namun ia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan yang lain, lebih tepatnya saling ketergantungan.
Nah, jika demikian, kenapa pula manusia dikatakan makhluk individu, sementara ia terikat dengan yang lain. Jika individu ini terikat dengan yang lain, lalu bagaiman ia menjalani samudera kehidupan ini? Lagi-lagi “cagito, ergo sum” menggoda saya untuk mencari apa itu manusia.
Dalam proses pencarian yang panjang ini, saya dibuat geli dengan istilah ‘kesetaraan’ di mana ini adalah syarat bagi perkembangan hidup manusia sebagai makhluk individu. Tentunya kesetaraan yang seperti apa yang semestinya dijalani dalam samudera kehidupan ini.
📚 Artikel Terkait
Jika kita merujuk pada konsep yang pernah dirumuskan oleh Kant,”bahwa manusia tidak boleh menjadi alat bagi tujuan manusia lain”. Jika kita ambil contoh tentang gender, bagaimana yang dimaksud dengan kesetaraan itu? Apakah kesamaan hak agar memproleh keadilan? Joka begitu, tentunya ini sangat tidak membuat saya klimaks, dikarenakan antara perempuan dan laki-laki adanya perbedaan. Lalu bagaimana yang dimaksut dengan kesetaraan yang dirumuskan oleh Kant itu….
Namun demikian ada hal yang lebih kompleks lagi, yaitu bagaimanakah kita mendekontruksikan kesetaraan dalam masyarakat yang kapitalis di era teknologi digital. Tentunya kesetaraan itu telah berubah. Karena kini individu manusia mengacu pada kesetaraan ‘manusia mesin’.
Manusia mesin yang saya maksudkan adalah manusia yang untuk mengetahui kenapa saya lapar. Dia memperoleh jawabannya sangat instan, walaupun hasil jawabnya sama dengan orang yang berproses. Namun ada yang hilang dalam diri manusia mesin itu, yaitu:”manusia yang telah kehilangan individunya”. Karena pengalaman individu manusia itu melewati rangkaian peroses yang berbeda-beda, dan tidak mungkin sama.
Lantas, bagaimana cara agar seseorang yang terperangkap dalam jaring rutinitas kehidupan ini, tidak lupa bahwa dirinya adalah manusia yang individu yang terikat dengan sosial, individual yang unik ini. Saya meminjam jawabnya sementara dari Heidegger, yaitu: “menjadi manusia yang otentik”. Bagi Heidegger, pertanyaan tentang keberadaan bekonfrontasi dengan kematian, dengan membuat makna dari keterbatasan manusia. Jika keberadaan kita terbatas, maka apa artinya menjadi manusia, atau dalam kata-kata Nietzsche yang dikutip oleh Heidegger, mendefinisikan manusia adalah kemampuan untuk dibingungkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang paling dalam dan membingungkan.
Lagi-lagi,“cagito, ergo sum” membuat adrenalin ini mengembara di muara kehidupan, untuk mengetahui bagaimana yang dimaksud dengan “menjadi manusia yang otentik itu”.
Dalam gemuruh pertentangan ini, akhirnya saya diredamkan untuk beberapa saat dalam pandangan Jalaluddin Rumi. Ia mengatakan manusia memiliki potensi luar biasa dan untuk menemukan itu ada di dalam dirinya sendiri, yaitu manusia adalah makhluk yang bertransformasi. Aku mati sebagai mineral, dan menjelma menjadi tumbuhan, lalu mati lagi menjadi binatang, lalu kini hidup menjadi manusia.
Kenapa aku harus bingung dengan yang disebutkan Heidegger “menjadi menuju kematian”, karena kematian ini tidak menyebabkanku kekurangan, karena aku harus mati sekali lagi sebagai manusia untuk menjelma sesuatu yang tidak terdefininsi. Biarkan diriku tidak ada, karena “KepadaNya kita akan kembali” ke sumber asal muasal ‘ada’.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






