Dengarkan Artikel
Puisi LK.Ara
(Aktor berdiri di tengah panggung, menghadap ke arah penonton. Cahaya lembut menerangi, suara gemericik air terdengar di latar belakang. Dia menarik napas dalam, seolah mencium udara pagi yang segar.)
Ah… udara ini. Udara pagi Mata Ie.
Pernahkah kalian rasakan kehadirannya?
Lembut, menyelinap tanpa suara,
menggenggam hati seperti surat cinta tanpa tinta.
Aku berdiri di sini,
di tempat yang dulu disinggahi megahnya sejarah.
Bayangkan, Sultan Iskandar Muda berjalan di antara pepohonan ini.
Langkahnya…
Gagah, seperti arus deras yang tak terbendung,
dan di sisinya, Puteri Pahang,
anggun, bagai mawar yang mekar tanpa luka.
(Langkah kecil diambil, tangan terulur seolah menyentuh ranting.)
Kalian tahu?
Pohon-pohon ini pernah tunduk padanya.
Bukan karena takut,
tapi karena cinta.
Ya, cinta.
Cinta seorang pemimpin yang merawat alam,
bukan menguasainya.
Dia berbicara pada gunung,
berbisik pada angin,
“Engkaulah jiwa negeri ini.
Aku berjanji, tidak akan ada luka di tubuhmu
selama aku bernafas.”
(Kepala tertunduk sejenak, suara melembut.)
Dan kini…
Apakah kita masih mendengar bisikan itu?
Apakah janji itu masih hidup?
📚 Artikel Terkait
(Langkah kecil lagi, kini pandangan tertuju pada penonton.)
Lihatlah air ini,
mata air yang pernah menyegarkan jiwa raja.
Ia tak pernah meminta apa-apa,
hanya ingin terus mengalir,
membawa sejuk,
menyampaikan kisah.
(Langkah semakin mendekat, kini berbicara penuh emosi.)
Tapi kita? Kita yang seharusnya menjaga?
Apakah kita lupa akan cinta itu?
Surat cinta dari alam…
dari ranting, daun, dan udara.
(Menatap tajam, lalu perlahan melembut.)
Mata Ie berbicara kepada kita hari ini,
seperti kepada Sultan di masa lalu.
Ia berkata,
“Jangan biarkan aku terdiam.
Jangan biarkan aku menangis.
Ingatlah, aku adalah surat cinta,
bukan luka.”
(Langkah mundur perlahan, pandangan teralihkan ke langit.)
Dan aku…
Aku hanya saksi.
Hanya suara dari masa lalu,
mengulang cerita agar tak dilupakan.
(Menunduk, mengangkat tangan seolah menyerahkan sesuatu kepada penonton.)
Surat cinta ini,
kubawa untukmu.
Jangan biarkan ia hilang.
(Cahaya perlahan meredup, gemericik air semakin keras, dan panggung gelap.)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






