Dengarkan Artikel
L K Ara
*(Seorang Perempuan berdiri di tengah panggung, mengenakan pakaian tradisional Aceh. Di tangannya tergenggam rencong kecil. Wajahnya penuh keteguhan. Ia berbicara dengan nada pelan, tapi penuh keyakinan.)*
**Perempuan**
Aku hanyalah seorang perempuan dari Lampadang.
Tidak ada yang istimewa dalam hidupku—
Sejak kecil, aku hanya mengenal sawah, sungai, dan masjid di ujung kampung.
Namun, ada satu yang aku pelajari dari ayahku:
Jika kau membiarkan kehormatan diinjak,
kau kehilangan segalanya.
*(Ia menatap rencong di tangannya, lalu menghela napas panjang.)*
Hari itu, aku melihatnya sendiri.
Langit yang cerah tiba-tiba memerah.
Asap hitam melingkupi udara.
Masjid kita—Baiturrahman—terbakar.
Rumah Tuhan kita, diinjak oleh mereka yang mengaku penguasa.
Dan aku bertanya pada diriku sendiri:
Apakah ini saatnya diam?
Apakah aku hanya seorang perempuan yang tak berdaya?
*(Ia berjalan perlahan, matanya menatap jauh seolah mengingat kejadian itu.)*
Aku memanggil saudara-saudaraku.
“Lihatlah ini!” kataku pada mereka.
“Apakah kita akan membiarkan tanah kita dicemari?
Apakah kita akan membiarkan api membakar iman kita?”
Mereka mendengarkan.
Mereka mengerti.
Dan bersama-sama, kami bangkit.
📚 Artikel Terkait
*(Ia menggenggam rencongnya dengan erat, suaranya semakin lantang.)*
Aku tidak peduli siapa diriku.
Aku tidak peduli apakah aku seorang perempuan
Aku tahu satu hal:
Tanah ini milik kita.
Dan kehormatan ini adalah harga diri kita.
*(Ia berhenti sejenak, pandangannya beralih ke penonton, penuh emosi.)*
Aku melihat Kohler jatuh.
Ya, ia jatuh di atas tanah yang ia injak dengan congkak.
Namun, tahukah kalian?
Kemenangan itu hanyalah awal.
Aku tahu esok akan lebih berat.
Mereka akan datang lagi,
Dengan lebih banyak pasukan, lebih banyak senjata.
Tapi aku tak takut.
Karena aku percaya—
Selama iman ini tetap ada di hati kami,
Tidak ada penjajah yang bisa menghancurkan kami.
*(Ia mengangkat rencongnya tinggi-tinggi, lalu berbicara dengan penuh tekad.)*
Aku adalah suara dari Lampadang.
Aku adalah bara yang takkan padam.
Dan selama bumi ini berputar,
Aku akan terus berjuang.
*(Cahaya panggung mulai meredup. Perempuan itu berdiri tegak, wajahnya tetap tegas, sebelum lampu benar-benar padam.)*
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






