Dengarkan Artikel
L.K. Ara:
BALADA ANAK DAN PADANG PADI
Di kaki langit yang biru membentang,
Seorang ayah memegang tangan,
Jemari kecil, jemari harapan,
Disanding lembut, penuh pesan.
“Anakku, lihatlah sawah luas,
Petak-petaknya tak pernah lepas,
Mengalir air kasih tak terbatas,
Menumbuhkan cinta yang tak terbalas.”
Di tengah padang, padi berbisik,
“Tumbuhlah besar, penuh peluk zikir,”
Diam-diam ia diasuh semesta,
Mengajarkan ikhlas, pelajaran utama.
“Belajarlah, nak, dari padi sederhana,
Yang diam, rendah, meski penuh makna,
Saat dewasa, ia merunduk tunduk,
Dalam doa khusyuk, tak pernah angkuh.”
Di ujung senja, ayah berkata,
“Hidup itu memberi, bukan meminta,
Seperti padi, kita lahir berbagi,
Agar hidup berarti, hingga nanti.”
Langit meredup, cahaya memudar,
Anak memandang, hatinya bergetar,
Jemari kecil menggenggam erat,
Ia belajar cinta, dalam sunyi yang hangat.
Kalanareh, 2024
📚 Artikel Terkait
L K Ara
Di Balik Cermin Negeri
Aku sering bertanya-tanya, di mana kita kini? Di balik cermin ini, aku melihat wajah-wajah yang familiar—wajah bangsa ini. Kita punya tanah yang subur, alam yang melimpah, kekayaan yang seharusnya membawa kesejahteraan. Tapi kenapa aku melihat ke dalam cermin ini, dan yang aku temui adalah bayang-bayang kelaparan? Kenapa aku melihat baju-baju lusuh, wajah lelah, tangan yang terulur tapi tidak mendapat jawaban?
Kita ini seperti apa, sebenarnya? Negeri yang begitu kaya, namun hidup dalam jerat utang. Berapa lama kita akan terus dikejar oleh angka-angka yang semakin membengkak? Janji-janji pembangunan yang diucapkan para pemimpin—apakah itu hanya kata-kata kosong, angin yang berlalu tanpa meninggalkan bekas?
Lihat, di depan cermin ini, aku bisa melihat betapa rapuhnya kita. Kita menyebut diri kita bangsa besar, tapi seringkali tidak mampu mengendalikan kerakusan. Korupsi merajalela, dan siapa yang harus menanggung? Anak cucu kita. Generasi yang lahir dengan beban berat di pundaknya, yang bahkan tak pernah memilih beban itu. Aku melihat mereka—mereka yang tumbuh tanpa akar, tanpa harapan.
Lalu aku bertanya, di mana nurani kita? Di mana keberanian untuk melawan ketidakadilan? Apakah kita terlalu takut untuk mengubah keadaan? Kita lebih nyaman hidup dalam kebisuan, dalam ketidakpedulian. Tapi bisakah kita terus membiarkan ini? Bisakah kita terus menjadi bangsa yang terlena dalam mimpi, sementara dunia terus bergerak maju?
Kadang aku berpikir, mungkin kita sedang menunggu sesuatu. Sesuatu yang besar, yang bisa mengubah arah perjalanan kita. Tapi aku tahu, perubahan itu tidak akan datang dengan sendirinya. Kita yang harus bergerak. Kita yang harus memulai. Jika bukan kita, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan?
Dan aku bertanya pada diri sendiri, apakah aku akan menjadi bagian dari perubahan itu? Ataukah aku akan tetap menjadi bagian dari mereka yang diam, yang menonton tanpa bertindak?
Ya, kita mungkin tak bisa mengubah segalanya dalam sekejap. Tapi bukankah setiap perjalanan dimulai dengan satu langkah kecil? Kita bisa mulai dengan diri kita sendiri—dengan nilai-nilai yang kita pegang, dengan sikap kita terhadap sesama, dengan cara kita memimpin. Negeri ini bukan hanya milik mereka yang di atas, ini milik kita semua.
Dan di balik cermin ini, aku melihat harapan. Harapan bahwa suatu hari, wajah kita akan mencerminkan bangsa yang adil, yang jujur, yang berani melawan segala bentuk penindasan. Mungkin itu masih jauh, tapi aku percaya, jika kita bersama, kita bisa menggapainya.
Kalanareh, 2024
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






