POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Makna Hari ‘Meugang’ bagi Seorang Mak di Aceh

RedaksiOleh Redaksi
May 17, 2018
🔊

Dengarkan Artikel



Oleh Lina Zulaini
           
Uroe (hari) meugang atau pun makmeugang merupakan tradisi orang Aceh yang diwariskan oleh para leluhur terdahulu. Dalam setahun, hari meugang di Aceh berlangsung sebanyak tiga kali, yaitu meugang puasa, meugang uroe raya puasa (menjelang hari raya idul fitri), dan yang terakhir meugang uroe raya haji (menjelang hari raya idul adha).
            Uroe meugang atau pun makmeugang pertama kali dimula kan oleh seorang raja Aceh yang sangat termasyhur yaitu Sultan Iskandar Muda.
            Uroe meugang ialah adat dimana masyarakat Aceh memakan daging sapi atau kerbau. Bagi masyarakat Aceh menyambut bulan suci ramadhan atau hari raya tanpa perayaan meugang merupakan suatu kehambaran. Meskipun bukan satu kewajiban untuk melaksanakan uroe meugang, namun sudah menjadi keharusan pada hari tersebut untuk memakan daging sapi atau kerbau. Sehingga akan jarang dijumpai orang Aceh yang tidak memakan daging.
            Uroe meugang juga merupakan tempat berkumpul sanak saudara. Jika ada keluarga yang merantau dan berada jauh dari kampong halaman, maka dihari meuganglah mereka akan pulang dan saling melepas rindu. Tidak terbayang jika masih ada keluarga yang tak bisa pulang dihari meugang, tentunya air mata ibu akan menetes.
            Uroe meugang biasanya seorang ibu akan menananti kepulangan san anak dari perantauan, baik itu yang masih menuntut ilmu atau bekerja. ‘Mak’ (ibu dalam sebutan bahasa Aceh) akan memasak masakan kesukaan sang buah hati yang dalam perantauan dan melarang anggota keluarga lain untuk menyicipinya. Sehingga jika anak tak kunjung datang, sang ‘Mak’ akan tetap menyimpan masakan hingga anaknya tiba serta ‘Mak’ akan meneteskan air mata.
            Biasanya, pada uroe meugang dipagi hari seorang ayah akan bangun sangat subuh dan mulai mengayuh sepeda mencapai pasar dan membeli sepotong daging untuk keluarganya, terutama membeli hati untuk putra putrinya. Sang ayah akan berusaha lebih cepat sampai di pasar agar daging yang dibeli masih segar dan membawa pulang untuk dimasak.
            Jadi, uroe meugang adalah hari tempat berkumpulnya semua anggota keluarga yang selama ini merantau dan pulang melepas rindu. ‘Mak’ adalah orang pertama yang akan menyimpan masakan kesukaan anak-anaknya dari perantauan dan mengharap besar agar putra putrinya tiba.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 141x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

Nawasena

Pemain Kibor di SPBU Lamnyong

TGK. IBRAHIM PMTOH MEMBANGUN KHAZANAH SASTRA DAN BUDAYA ACEH DENGAN HIKAYAT

Mengajak Anak Menulis Traveling Notes

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Indonesia Temukan Kantong Plastik yang Dapat Dikonsumsi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00