Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Rizky Gunawan
Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Kemiskinan adalah kondisi ketidakmampuan seseorang atau sekelompok masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Oleh sebab itu, kemiskinan bisa dilihat dari segi atau perspektif ekonomi,sosial, pendidikan dan politik. Untuk mengukur kemiskinan di tengah masyarakat kita, Badan Pusat Statistik (BPS), menyebutkan bahwa kemiskinan diukur berdasarkan garis kemiskinan, yaitu nilai minimum pengeluaran yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar.
Namun, ukuran ini seringkali tidak mencerminkan kemiskinan multidimensi yang meliputi aspek kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. Dalam laporan Human Development Report oleh UNDP, dimensi-dimensi tersebut menjadi indikator penting dalam memahami kemiskinan secara lebih komprehensif. Faktor-faktor yang memperkuat kemiskinan dilihat dari tingkat pengangguran, ketergantungan,dan juga akses terbatas pada layanan dasar.
Tidak lepas di daerah, Aceh yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah,” memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, seperti gas alam, minyak bumi, dan hasil laut. Namun, tingkat kemiskinan di provinsi ini masih menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, persentase penduduk miskin di Aceh berada di atas rata-rata nasional, dengan ketimpangan distribusi pendapatan yang signifikan di berbagai kabupaten/kota.
Sehingga, kemiskinan di Aceh adalah masalah yang kompleks dan multidimensi. Padahal Aceh menerima Dana Otonomi Khusus (Otsus) sejak 2008, yang cukup besar. Sayangnya, alokasi dana yang besar ini, belum sepenuhnya efektif dalam mengentaskan kemiskinan. Hingga kini Aceh menjadi daerah yang berstatus termiskin di Sumatera. Tentu sulit diterima akal sehat kita.
Kemiskinan di Aceh, akan terus meningkat, ketika pengangguran juga terus meningkat. Kehadiran pengemis yang terus bertambah di kota Banda Aceh, menjadi saksi atau alat ukurnya bahwa di kota Banda Aceh, yang merupakan ibukota Aceh, beroperasi banyak pengemis yang berkeliling mencarisedekah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka ada yang sudah lansia,remaja dan bahkan masih anak- anak di bawah umur. Ada yang tuna netra, mengalami kekurangan pada tubuh, hingga yang segar bugar.
Modusnya juga bermacam ragam. Ada yang menjual kesedihan, ada pula yang membuat orang bergembira dengan lantunan lagu dan sebagainya. Semua itu ntuk menarik perhatian dan keprihatinan orang-orang yang lalu lalang.
Celakanya , ada yang memakai cara yang salah lazim, yakni mengajak anak-anak di bawah umur untuk mengemis. Anak-anak diikutkan dalam aktivitas mengemis agar agar bisa mendapatkan pendapatan dari mengemis yang lebih besar. Kehadiran anak-anak bisa menimbulkan rasa iba masyarakat.
Mengenai lokasi operasi, kelihatan banyak pengemis yang sudah menentukan wilayah operasi mereka. Sehingga, wilayah operasi sudah mereka tentukan berdasarkan waktu dan giliran. Ada yang menempati dan beroperasi di pasar-pasar, lampu merah, dan juga berkeliling ke toko-toko dan pusat keramaian yang ada disekitaran Banda Aceh. Penulis sendiri mengamati secara intens di beberapa tempat, mulai dari area daerah Lamnyong, lampu merah Sp. BPKP Lampineung dan juga lampu merah Sp Keutapang.
Nah, di Lamnyong tampak beberapa pengemis yang umumnya lansia yang mengenakan pakaian biasa. Mereka mengambil posisi dekat dengan tempat pembuangan sampah untuk menarik perhatian masyarakat yang lewat. Dengan cara itu mereka mendapat perhatian dan bisa mendapatkan uang atau pun makanan dari orang-orang yang mau bersedekah.
Aktivitas para pengemis di sini dilakukan setiap hari mulai dari pagi maupun malam hari. Kita pun bisa mengidentifikasi mereka dsn jam aktivitas masing-masing pengemis tersebut.
📚 Artikel Terkait
Namun, jadwal mereka bisa mereka atur juga untuk para lansia, remaja dan anak-anak dan ada juga yang bayi. Ada yang memakai cara dengan mengorek-ngorek tong sampah yang seolah olah ada yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan makan mereka. Anak anak juga mengikuti dan diikutkan untuk hal tersebut dan juga ada yang hanya duduk di tempat itu. Tindakan mereka tampak untuk menarik perhatian masyarakat dan juga menimbulkan rasa iba masyarakat kepada mereka untuk memberikan sedekah berupa uang dan juga nasi. Dari amatan di beberapa tempat, mereka ke tempat tersebut memakai sepeda, sepeda motor dan juga becak. Juga ada yang menaiki bus Trans Koetaradja untuk ke tempat tersebut.
Jika terjadinya hujan, maka mereka berteduh di bawah pohon yang ada tempat duduknya. Tetapi jika hujan dari pagi, maka tidak terdapat adanya mereka di tempat tersebut, namun bila hujan sudah berhenti, baru mereka sampai satu demi satu. Namun, bukan orang yang sama, melainkan berbeda beda, bukan pula dalam satu keluarga, tetapi berbeda beda.
Berbeda halnya di Sp. Lampu Merah BPKP Lampineung. Yang kami amati, di tempat tersebut ada remaja yang meminta sumbangan yang memakai pakian baju koko,sarung , peci dan juga kotak yang bertuliskan “sumbangan”. Ia berkeliling kepada mobil dan motor yang berhenti di lampu merah tersebut. Setelah itu ada juga ibu-ibu dan juga membawa anak yang berumur sekitar 9 tahun guna untuk menarik perhatian dan rasa iba masyarakat.
Ibu itu duduk dan berdiri serta menyuruh anaknya berkeliling ke motor dan juga mobil dengan cara menawarkan produk, seperti jambu di tangannya agar tidak terlihat berfokus mengemis, tetapi agar terlihat menjual jambu yang ada pada mereka yang bertujuan untuk menarik perhatian dan rasa iba masyarakat yang berdiri di lampu merah tersebut.
Nah, untuk ke tempat tersebut mereka diantar dengan menggunakan motor, mulai dari sekitar pukul 11.00 sampai sore pukul 17.00. Strateginya juga dengan berganti ganti orang setiap harinya seperti sudah memiliki jadwal yang diatur oleh seseorang.
Di Sp. 5 Banda Aeh, ada anak-anak yang berumuran sekitar 9-10 tahun, dengan media yang ia pakai manisan jambu, untuk menarik perhatian orang agar bisa iba melihatnya. Banyak masyarakat yang memberi sedekah berupa uang dan tidak membeli manisan tersebut. Biasanya anak-anak tersebut berada di tempat tersebut mulai dari jam 11.00 sampai hampir maghrib. Kemudian djemput oleh ibu ibu untuk waktunya pulang.
Di tempat lain, di lampu merah Simpang Keutapang, ada anak-anak pengemis berumur sekitar 12 tahun memakai pakaian yang biasa. Dengan mukanya yang memelas menghampiri ke motor dan mobil yang berhenti di lampu merah tersebut. Hal yang tidak jauh berbeda, juga sama dengan di kawasan Darussalam, Banda Aceh. Tepatnya di sekitaran Lamnyong dan juga lapangan tugu, tempat banyaknya aktifitas mahasiswa/i. ada anak anak yang paginya mereka membantu ayahnya mencari barang-barang rongsokan yang bisa dijual. Malamnya anak tersebut beristirahat atau duduk di depan lapangan Tugu depan Gedung AAC Dayan Daud:
Sayangnya, walau pun mereka masih anak-anak, ternyata mereka juga telah ketagihan rokok, sebab mereka membeli rokok dari hasil dari kegiatan mengemis. Sungguh, mereka berhasil membuat kita terpana dan iba serta mengeluarkan uang recehan dari saku atau dompet, lalu memberikan mereka “sedekah”.
Ramainya pengemis dengan berbagai jenis kelamin, umur dan modus, sebenarnya menjadi masalah sosial yang tampaknya semakin sulit dilakukan. Betapa tidak, peningkatan jumlah pengemis menjadi penguat bahwa Aceh sebagai daerah termiskin. Bukan hanya masalah stigma itu saja, tetapi ada hal lain, bahwa pemerintah Aceh dianggap abai terhadap mereka serta munculnya berbagai masalah sosial lainnya.
Apalagi dalam kegiatan mengemis tersebut banyak melibatkan anak-anak. Tindakan itu adalah tindakan mewariskan profesi pengemis kepada anak-anak dan anak bisa menjadi korban eksploitasi secara ekonomi dan bisa menjadi objek tindak kekerasan orangtua atau agen yang mengorganisir mereka.
Semua kita tahu bahwa kesejahteraan sosial anak sangatlah penting, karena masa di usia yang tergolong kanak-kanak sangatlah kritis dalam menentukan perkembangan di masa depan. Mereka menjadi fondasi yang akan berdampak pada kehidupan mereka. Selayaknya, kesejahteraan anak,harus diperhatikan dan memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka, guna memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kehidupan anak yang lebih baik. Bukan mendidik mereka menjadi pengemis.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






