• Latest
Mengamati  Modus Pengemis di Banda Aceh

Mengamati Modus Pengemis di Banda Aceh

Desember 8, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengamati Modus Pengemis di Banda Aceh

Redaksiby Redaksi
Desember 8, 2024
Reading Time: 357 mins read
Tags: #pengemisanak jalanan
Mengamati  Modus Pengemis di Banda Aceh
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Muhammad Rizky Gunawan

Mahasiswa  Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

Kemiskinan adalah kondisi ketidakmampuan seseorang atau sekelompok masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Oleh sebab itu, kemiskinan bisa dilihat dari segi atau perspektif ekonomi,sosial, pendidikan dan politik. Untuk mengukur kemiskinan di tengah masyarakat kita,  Badan Pusat Statistik (BPS), menyebutkan bahwa kemiskinan diukur berdasarkan garis kemiskinan, yaitu nilai minimum pengeluaran yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar.

Namun, ukuran ini seringkali tidak mencerminkan kemiskinan multidimensi yang meliputi aspek kesehatan, pendidikan, dan standar hidup. Dalam laporan Human Development Report oleh UNDP, dimensi-dimensi tersebut menjadi indikator penting dalam memahami kemiskinan secara lebih komprehensif. Faktor-faktor yang memperkuat kemiskinan dilihat dari tingkat pengangguran, ketergantungan,dan juga akses terbatas pada layanan dasar.

Tidak lepas di daerah, Aceh yang dikenal sebagai “Serambi Mekkah,” memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, seperti gas alam, minyak bumi, dan hasil laut. Namun, tingkat kemiskinan di provinsi ini masih menjadi salah satu yang tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023, persentase penduduk miskin di Aceh berada di atas rata-rata nasional, dengan ketimpangan distribusi pendapatan yang signifikan di berbagai kabupaten/kota.

Sehingga, kemiskinan di Aceh adalah masalah yang kompleks dan multidimensi. Padahal Aceh menerima Dana Otonomi Khusus (Otsus) sejak 2008, yang cukup besar. Sayangnya, alokasi dana yang besar ini, belum sepenuhnya efektif dalam mengentaskan kemiskinan. Hingga kini Aceh menjadi daerah yang berstatus termiskin di Sumatera. Tentu sulit diterima akal sehat kita.

Kemiskinan di Aceh, akan  terus meningkat, ketika pengangguran juga terus meningkat. Kehadiran pengemis yang terus bertambah di kota Banda Aceh, menjadi saksi atau alat ukurnya bahwa di kota Banda Aceh, yang merupakan ibukota Aceh, beroperasi banyak  pengemis yang berkeliling mencarisedekah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka ada yang sudah  lansia,remaja dan bahkan masih anak-  anak di bawah umur.  Ada yang tuna netra, mengalami kekurangan pada tubuh, hingga yang segar bugar.

Modusnya juga bermacam ragam. Ada yang menjual kesedihan, ada pula yang membuat orang bergembira dengan lantunan lagu dan sebagainya. Semua itu  ntuk menarik perhatian dan keprihatinan orang-orang yang lalu lalang.

Celakanya ,  ada yang memakai cara yang salah lazim, yakni  mengajak anak-anak di bawah umur untuk mengemis. Anak-anak diikutkan dalam aktivitas mengemis agar agar bisa mendapatkan pendapatan dari mengemis yang lebih besar. Kehadiran anak-anak bisa menimbulkan  rasa iba masyarakat.

Mengenai lokasi operasi, kelihatan banyak pengemis yang sudah menentukan wilayah operasi mereka. Sehingga, wilayah operasi sudah mereka tentukan berdasarkan waktu dan giliran. Ada yang  menempati dan beroperasi  di pasar-pasar, lampu merah, dan juga berkeliling ke toko-toko  dan pusat keramaian yang ada disekitaran Banda Aceh. Penulis sendiri mengamati secara intens di beberapa tempat, mulai dari area daerah Lamnyong, lampu merah Sp. BPKP Lampineung dan juga lampu merah Sp Keutapang.

Nah, di  Lamnyong tampak beberapa pengemis yang umumnya lansia yang mengenakan pakaian biasa. Mereka mengambil posisi dekat dengan tempat pembuangan sampah untuk menarik perhatian masyarakat yang lewat. Dengan cara itu mereka mendapat perhatian dan  bisa mendapatkan uang atau pun makanan dari orang-orang yang mau bersedekah.

Aktivitas para pengemis di sini dilakukan setiap hari mulai dari pagi maupun malam hari. Kita pun bisa mengidentifikasi mereka dsn jam aktivitas masing-masing pengemis tersebut.

Namun, jadwal mereka bisa mereka atur juga untuk para lansia, remaja dan anak-anak dan ada juga yang bayi. Ada yang memakai cara dengan mengorek-ngorek tong sampah yang seolah olah ada yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan makan mereka. Anak anak juga mengikuti dan diikutkan untuk  hal tersebut dan juga ada yang hanya duduk di tempat itu. Tindakan mereka tampak untuk menarik perhatian masyarakat dan juga menimbulkan rasa iba masyarakat kepada mereka untuk memberikan sedekah berupa uang dan juga nasi. Dari amatan di beberapa tempat, mereka ke tempat tersebut memakai sepeda, sepeda motor dan juga becak. Juga ada yang menaiki bus Trans Koetaradja untuk ke tempat tersebut.

Jika terjadinya hujan, maka mereka berteduh di bawah pohon yang ada tempat duduknya. Tetapi jika hujan dari pagi, maka tidak terdapat adanya mereka di tempat tersebut, namun bila hujan sudah berhenti, baru mereka sampai satu demi satu. Namun, bukan orang yang sama, melainkan berbeda beda, bukan pula dalam satu keluarga, tetapi berbeda beda.

 

387F2157-AD1B-4706-B5BB-525684A96F4B.jpg

 

Berbeda halnya di Sp. Lampu Merah BPKP Lampineung. Yang kami amati, di tempat tersebut ada remaja yang meminta sumbangan yang memakai pakian baju koko,sarung , peci dan juga kotak yang bertuliskan “sumbangan”.  Ia berkeliling kepada mobil dan motor yang berhenti di lampu merah tersebut. Setelah itu ada juga ibu-ibu dan juga membawa anak yang berumur sekitar 9 tahun guna untuk menarik perhatian dan rasa iba masyarakat.

Ibu itu duduk dan berdiri serta menyuruh anaknya berkeliling ke motor dan juga mobil dengan cara menawarkan produk, seperti jambu di tangannya agar tidak terlihat berfokus mengemis, tetapi agar terlihat menjual jambu yang ada pada mereka yang bertujuan untuk menarik perhatian dan rasa iba masyarakat yang berdiri di lampu merah tersebut.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Nah, untuk  ke tempat tersebut mereka  diantar dengan menggunakan motor, mulai dari sekitar pukul 11.00 sampai sore pukul 17.00. Strateginya juga dengan berganti ganti orang setiap harinya seperti sudah memiliki jadwal yang diatur oleh seseorang.

Di   Sp. 5 Banda Aeh, ada anak-anak yang berumuran sekitar 9-10 tahun, dengan media yang ia pakai manisan jambu,  untuk menarik perhatian orang  agar bisa iba melihatnya. Banyak masyarakat yang memberi sedekah berupa uang dan tidak membeli manisan tersebut. Biasanya anak-anak tersebut berada di tempat tersebut mulai dari jam 11.00 sampai hampir maghrib. Kemudian djemput oleh ibu ibu untuk waktunya pulang.

Di tempat lain, di  lampu merah Simpang Keutapang, ada anak-anak pengemis berumur sekitar 12 tahun memakai pakaian yang biasa. Dengan mukanya yang memelas menghampiri ke motor dan mobil yang berhenti di lampu merah tersebut. Hal yang tidak jauh berbeda, juga sama dengan di kawasan  Darussalam, Banda Aceh. Tepatnya di sekitaran Lamnyong dan juga lapangan tugu, tempat banyaknya aktifitas mahasiswa/i. ada anak anak yang paginya mereka membantu ayahnya mencari barang-barang rongsokan yang bisa dijual. Malamnya anak tersebut beristirahat atau duduk di depan lapangan Tugu depan Gedung AAC Dayan Daud:

Sayangnya, walau pun  mereka masih anak-anak, ternyata mereka juga telah ketagihan rokok, sebab mereka membeli rokok dari hasil dari kegiatan mengemis. Sungguh, mereka berhasil membuat kita terpana dan iba serta mengeluarkan uang recehan dari saku atau dompet, lalu memberikan mereka “sedekah”.

ADVERTISEMENT

Ramainya pengemis dengan berbagai jenis kelamin, umur dan modus, sebenarnya menjadi masalah sosial yang tampaknya semakin sulit dilakukan. Betapa tidak, peningkatan jumlah pengemis menjadi penguat bahwa Aceh sebagai daerah termiskin. Bukan hanya masalah stigma itu saja, tetapi ada hal lain, bahwa pemerintah Aceh dianggap abai terhadap mereka serta munculnya berbagai masalah sosial lainnya.

Apalagi dalam kegiatan mengemis tersebut banyak melibatkan anak-anak. Tindakan itu adalah tindakan mewariskan profesi pengemis kepada anak-anak dan anak bisa menjadi korban eksploitasi secara ekonomi dan bisa menjadi objek tindak kekerasan orangtua atau agen yang mengorganisir mereka.

Semua kita tahu bahwa kesejahteraan sosial anak sangatlah penting, karena masa di usia yang tergolong kanak-kanak sangatlah kritis dalam menentukan perkembangan di masa depan. Mereka menjadi  fondasi yang akan berdampak pada kehidupan mereka. Selayaknya, kesejahteraan anak,harus diperhatikan dan memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka, guna memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk membangun kehidupan anak yang lebih baik. Bukan mendidik mereka menjadi pengemis.

 

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 369x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 336x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 277x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 275x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kumpulan Puisi Leni Marlina – Padang

Kumpulan Puisi Leni Marlina - Padang

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com