POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

ISTIKHARAH sebagai Instrumen Keputusan dalam Pilkada Aceh 2024

Mencari Petunjuk Tuhan untuk Pemimpin yang Tepat

RedaksiOleh Redaksi
November 25, 2024
Tags: #Pilkada
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh: Tgk. Muhammad Kharazi, M. Ag

Pilkada Aceh 2024 yang akan berlangsung pada 27 November semakin mendekat, tetapi kebingungan di kalangan pemilih justru kian terasa. Dalam dinamika politik yang sarat dukungan dari tokoh-tokoh agama karismatik, masyarakat Aceh dihadapkan pada tantangan besar dalam memilih pemimpin yang benar-benar bisa mewujudkan Aceh baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Pertarungan ini menjadi lebih kompleks karena masing-masing pasangan calon memiliki sokongan dari ulama besar yang berpengaruh. Pasangan Om Bus-Syaikh Fadil (kubu 01) mendapat dukungan dari Abu MUDI, figur sentral pesantren terbesar di Aceh, Dayah MUDI Mesra. Sementara itu, pasangan Panglima Muallem-Dek Fad (kubu 02) dibackup oleh Abu Paya Pasi, ulama kharismatik yang memiliki jaringan luas dan pengaruh mendalam di kalangan masyarakat. Konstelasi ini, bukannya mempermudah, justru menambah kebingungan pemilih yang selama ini sangat menghormati petuah ulama.

Istikharah dalam Tradisi Aceh: Pilihan Hidup dan Masa Depan Aceh

Dalam tradisi masyarakat Aceh, istikharah bukan hanya ritual, tetapi wujud penyerahan diri kepada Allah SWT dalam momen-momen genting yang membutuhkan kebijaksanaan. Ketika seorang laki-laki datang meminang anak perempuan, keluarga tidak buru-buru memberi jawaban. Mereka melibatkan Tuhan melalui istikharah, memohon petunjuk-Nya untuk melihat apakah calon tersebut memiliki akhlak, karakter, dan masa depan yang layak sebagai pendamping hidup. Keputusan semacam ini bukan hanya soal menerima atau menolak lamaran, melainkan tentang memastikan bahwa kehidupan sang anak kelak akan bahagia dan bermartabat.

Lalu, bagaimana jika dilema yang dihadapi bukan tentang menerima pinangan, tetapi tentang memilih pemimpin untuk seluruh rakyat Aceh? Pilkada Aceh 2024 bukan sekadar kontestasi politik. Ini adalah perjodohan antara rakyat dan pemimpin yang akan menentukan nasib daerah selama lima tahun ke depan. Seperti halnya memilih pasangan hidup, keputusan ini harus diambil dengan penuh kehati-hatian. Istikharah menjadi alat penting untuk meredam kegaduhan hati, menjernihkan pikiran, dan memberikan ruang untuk memohon petunjuk Tuhan. Namun, sama seperti dalam tradisi memilih jodoh, hasil istikharah tidak akan berarti jika tidak diiringi oleh usaha memahami dan menimbang setiap kandidat secara rasional.

Aceh hari ini dihadapkan pada pilihan sulit: dua kubu dengan dukungan ulama besar yang sama-sama memiliki pengaruh karismatik. Abu MUDI mendukung kubu 01, sementara Abu Paya Pasi berdiri bersama kubu 02. Dukungan ini membuat masyarakat Aceh terpecah, bingung menentukan pilihan. Di tengah kebisingan politik, istikharah memberikan jalan untuk menenangkan diri, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan rakyat, berdasarkan penilaian mereka terhadap rekam jejak, visi, dan komitmen para kandidat.

Seperti halnya keluarga Aceh menimbang calon menantu dengan hati-hati, pemilih juga harus menimbang calon pemimpin dengan pandangan yang lebih dalam. Tidak cukup memilih berdasarkan siapa yang didukung ulama besar. Rakyat Aceh harus memastikan bahwa pemimpin yang terpilih adalah seseorang yang benar-benar mampu menghadapi tantangan besar seperti kemiskinan, ketimpangan, dan penerapan syariat Islam secara bijaksana. Keputusan ini tidak hanya menyangkut kehidupan lima tahun ke depan, tetapi juga masa depan generasi yang akan datang.

Istikharah, dalam tradisi Aceh, adalah lambang kepasrahan kepada Tuhan yang disertai usaha maksimal. Begitu pula dalam Pilkada ini, masyarakat harus menjalankan peran mereka dengan sepenuh hati: berdoa, berpikir, dan bertindak. Tuhan telah memberikan manusia akal untuk menimbang dan hati untuk merasa. Maka, gunakanlah itu semua untuk memilih pemimpin yang benar-benar mampu membawa Aceh keluar dari berbagai masalah, bukan sekadar memilih pemimpin yang pandai berbicara tentang agama tetapi minim aksi nyata.

📚 Artikel Terkait

Baca Judul Saja

Kami Cinta Damai

Mendidik Anak di Tengah Rusaknya Sistem

Meunasah Krisis Fungsi: Saat Rumah Ibadah Kehilangan Ruhnya

Keputusan dalam Pilkada Aceh 2024 ini ibarat perjodohan: salah pilih, masa depan yang dipertaruhkan. Jangan hanya melihat siapa yang mendukung, tetapi lihatlah siapa yang benar-benar siap memperjuangkan Aceh dengan keadilan, keberanian, dan keikhlasan. Tuhan memberi petunjuk, tetapi kitalah yang menentukan langkah. Aceh tak hanya membutuhkan pemimpin, tetapi pelindung dan pembangun masa depan.

Politik, Agama, dan Kehendak Tuhan

Namun, ada pertanyaan mendasar: apakah istikharah cukup untuk membantu pemilih yang terjebak dalam pertarungan politik yang dilandasi oleh figur ulama besar? Jawaban atas pertanyaan ini tidak sederhana, karena bergantung pada sejauh mana istikharah dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat. Sebagai instrumen spiritual, istikharah hanya akan efektif jika dilakukan dengan kesadaran penuh dan didukung oleh proses rasional yang matang.

Pertama, istikharah harus dimulai dengan niat yang tulus. Artinya, seseorang harus benar-benar menyerahkan keputusannya kepada Allah SWT tanpa terikat oleh preferensi pribadi atau tekanan sosial. Dalam praktiknya, sering kali orang melakukan istikharah hanya sebagai formalitas, padahal hatinya sudah condong pada pilihan tertentu. Akibatnya, proses istikharah tidak memberikan pencerahan yang diharapkan, melainkan hanya menguatkan bias yang sudah ada sebelumnya.

Kedua, istikharah harus diiringi dengan usaha nyata untuk memahami pilihan yang tersedia. Dalam konteks Pilkada Aceh, ini berarti pemilih perlu menggali informasi mendalam tentang para kandidat: visi mereka untuk Aceh, program kerja yang ditawarkan, serta rekam jejak mereka dalam memimpin atau melayani masyarakat. Istikharah bukan pengganti analisis rasional, melainkan pelengkap yang memberikan dimensi spiritual pada proses pengambilan keputusan.

Masyarakat Aceh juga harus kritis dalam membedakan pemimpin yang hanya menjual simbol keagamaan dengan pemimpin yang benar-benar memiliki kemampuan dan komitmen untuk membawa perubahan. Dukungan dari ulama besar memang penting, tetapi itu tidak seharusnya menjadi satu-satunya faktor penentu. Pemilih harus mampu melihat melampaui atribut religius kandidat dan mempertimbangkan kapasitas mereka dalam menghadapi tantangan nyata yang dihadapi Aceh, seperti pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan ekonomi.

Dengan kata lain, istikharah tidak dapat berdiri sendiri tanpa diiringi oleh tanggung jawab moral untuk mencari yang terbaik. Dalam tradisi Islam, usaha dan doa selalu berjalan beriringan. Sebagaimana pepatah mengatakan, “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” maka masyarakat Aceh harus berusaha keras untuk memilih pemimpin yang mampu mengubah masa depan Aceh menjadi lebih baik.

Mengintegrasikan istikharah dengan analisis rasional adalah bentuk pengambilan keputusan yang mencerminkan harmoni antara keimanan dan tanggung jawab sebagai warga negara. Dengan cara ini, masyarakat Aceh tidak hanya menjalankan kewajiban politik, tetapi juga ibadah, menjadikan proses demokrasi lebih bermakna dan bernilai spiritual.

Menimbang Masa Depan Aceh

Aceh berada di persimpangan. Tantangan seperti pengangguran, ketimpangan ekonomi, hingga persoalan implementasi syariat Islam membutuhkan pemimpin yang bukan hanya religius, tetapi juga visioner, transparan, dan memiliki komitmen kuat untuk melayani rakyat. Dukungan ulama memang penting, tetapi rakyatlah yang pada akhirnya akan merasakan langsung dampak dari kepemimpinan terpilih.

Mengintegrasikan istikharah dengan rasionalitas dan tanggung jawab kolektif adalah kunci. Pemilih diharapkan tidak hanya bergantung pada figur ulama pendukung kandidat, tetapi juga menggunakan kesempatan ini untuk merenung dan menimbang dengan matang apa yang terbaik bagi Aceh.

Pilkada Aceh 2024 bukan sekadar tentang memilih kandidat, tetapi juga tentang menunjukkan bahwa Aceh mampu menjadi contoh demokrasi berbasis nilai-nilai Islam yang sejati. Dengan beristikharah, masyarakat dapat melibatkan Tuhan dalam proses ini, tetapi keputusan akhir tetap harus diambil dengan pikiran yang jernih dan hati yang terbuka.

Aceh adalah tanah yang penuh sejarah, darah, dan doa. Jangan biarkan tanah ini jatuh ke tangan yang salah. Pilihan Anda adalah doa untuk masa depan Aceh. Dan doa yang sejati adalah istikharah untuk memastikan bahwa pilihan itu benar-benar yang terbaik. Jangan pilih sekadar nama—pilihlah masa depan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 141x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #Pilkada
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
INNALILLAH MENJADI ALHAMDULILAH

GURU BERDAYA, TAPI MASIH KATANYA

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00