• Latest

Baca Judul Saja

April 21, 2021
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Baca Judul Saja - 1001348646_11zon | Bingkai Utama | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Baca Judul Saja - 1001353319_11zon | Bingkai Utama | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Baca Judul Saja - 1001361361_11zon | Bingkai Utama | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Baca Judul Saja

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
April 21, 2021
in Bingkai Utama, Budaya membaca, Literasi, Milenial, minat baca
Reading Time: 6 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh Tabrani Yunis

Baca Juga
  • Budayakan Literasi, SLB YBSM Banda Aceh Kunjungi Perpustakaan Wilayah Aceh
  • Membaca Jejak Gerakan Literasi di Aceh Barat Daya

Assalamualaikum dan selamat pagi, sapa seorang dosen yang masuk ruangan kuliah di prodi pulan, fakultas pulin dan universitas pulun. Salam itu dijawab serentak oleh para mahasiswa yang sebagian besar sudah hadir. Lalu, seperti lazimnya, sang dosen memulai kuliah dengan pemanasan, atau warming up. Tapi tidak sama dengan warming ketika ingin main bola. Sang dosen memanaskan suasana dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pembuka tentang membaca.  Pertanyaan yang paling sering ditanya adalah  “ Apakah hari ini anda sudah membaca?” Apa yang anda baca. Sang dosen mengajukan pertanyaan itu pada setiap mahasiswa yang hadir.

Seperti pada pertemuan sebelumnya, para mahasiswa terdiam dan menggelengkan kepala. Artinya mereka belum atau memang tidak membaca sebelum masuk ruang kuliah, walau ada satu mahasiswa yang bertanya, baca apa Pak?

Baca Juga
  • Ironi Literasi Numerasi Anak Negeri
  • Perempuan Sebagai Inspirator


Sang dosen pun dengan melemparkan senyum menjawab, baca buku atau surat kabar atau juga membaca sebuah artikel di gadgets. Seperti telah diduga, salah satu mahasiswa itu pun menjawab ada Pak. “ Saya baca Whatsapp”. Sebuah artikel? Tanya sang dosen, lagi.  Ya Pak. Jawab sang mahasiswa.

 
Bagus. Sanjung sang dosen.Bisakah anda ceritakan sedikit apa yang anda baca? Mahasiswa langsung berkata, tidak. Saya hanya baca judulnya. Sang dosen pun ikut penasaran dan merasa risau, sambil berkata, gawat. Gawat?

Baca Juga
  • Membangun Kemampuan Literasi Anak Negeri Tanpa Bacaan, Mungkinkah?
  • Literasi Informasi: Jembatan Emas Menuju Masyarakat Cerdas dan Mandiri


Ya, memang  sangat gawat. Begtitu gumam sang dosen. Tapi, cerita atau prolog di atas bukanlah sebuah ilustrasi belaka, namun adalah realitas yang kian lazim kita temukan, bukan hanya di kalangan masyarakat di luar lembaga pendidikan, tetapi semakin lazim ditemukan di dunia pendidikan, termasuk di level universitas di negeri ini. Artinya, semakin banyak orang yang melakukan aktivitas membaca, namun bacaannya tidak pernah usai. Jangankan membaca satu buku secara tuntas, membaca satu artikel pendek saja semakin jarang. Paling-paling, membaca sebuah postingan morning pendek di WhatsApp dan celakanya, itu pun tidak habis dibaca. Karena paling hebat, sudah membaca judulnya.


Nah, fenomenaseperti ini semakin mudah kita amati sejalan dengan semakin rendahnya minat membaca dan memupusnya budaya membaca di kalangan masyarakat kita, yang ditandai oleh semakin berkurangnya minat baca di tengah masyarakat kita, termasuk di kalangan peserta didik di semua level atau jenjang pendidikan, sudah lama kita dengar. Kondisi ini membuat banyak kalangan yang prihatin dan menuliskan persoalan ini di media masa atau buku-buku. Bahkan penulis sendiri juga sudah pernah menuliskan sebuah artikel di harian Serambi Indonesia dengan judul “ Generasi Milenial Semakin Malas Membaca. Tulisan tersebut dimuat pada hari Sabtu, 12 Oktober 2019 yang lalu yang merupakan wujud kegalauan penulis terhadap menurunnya minat membaca di kalangan kaum milenial saat ini.

Jadi, sudah sangat banyak orang menulis tentang tema membaca atau pun masalah literasi dan lain-lain yang mengarah pada keprihatinan terhadap kemunduran dalam aktivitas membaca sejalan dengan semakin menariknya produk dan aktivitas media digital selama ini. Berbagai sajian informasi dan hiburan yang tidak mengharuskan orang membaca, tetapi cukup dengan menonton dan memdengar penjelasan di media tersebut. Mungkin inilah salah satu sebab mengapa aktivitas membaca menurun. Menonton dan mendengar itu lebih mudah, menarik dan praktis. Hal ini sama kasusnya dengan hilang atau matinya budaya mencatat di kalangan masyarakat kita. Budaya mencatat sudah digantikan dengan budaya rekaman dan foto yang dengan cepat terekam. Proses digitaliasasi telah mempermudah dan bahkan mematikan kebiasan lama. Digitalisasi juga telah menyebabkan disrupsi dalam dunia pendidikan begitu cepat berlangsung.


Maka, bila kita merujuk pada banyak hasil penelitian atau pun survey tentang minat baca serta kemampuan masyarakat dan kemampuan membaca para peserta didik kita di berbagai tingkat pendidikan, kita bisa tercengang-cengang dan membuat kita prihatin. Bagi para pembaca yang banyak membaca, mungkin sudah sering membaca hasil penelitian dari Perpustakaan Nasional tahun 2017. Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku. Jadi masih sangat sedikit bukan? Bukan hanya itu, berdasarkan studi World Most Literate Countries tahun sebelumnya 2016 yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016. 


Itu hasil survey tahun 2017 dan 2016. Bagaimana pula sekarang? Ya lumayan banyak data serupa. Contohnya selain dari itu, data yang dikeluarkan oleh United Nations, Education and scientific and Cultural Organization ( UNESCO) memaparkan bahwa minat baca hanya 0,01 persen yang membaca. Artinya hanya 1 dari 10.000 orang yang hobi membaca. Ironis sekali bukan? Taufik Ismail malah telah mengngatkan kta dengan trage di nol buku dan lain sebagainya.

Tentu sangat ironis. Bukan hanya ironis, tetapi membuat kita merasa gundah melihat nasib generasi bangsa ini yang kini tergolong sebagai generasi milenial ini. Apa yang membuat gundah adalah ketika bangsa ini semakin malas membaca, atau semakin kehilangan minat membaca, maka secara perlaham dan pasti, akan mempurukan bangsa ini dalam jurang kebodohan yang selama ini kita perangi. Ya, tak dapat dipungkiri bahwa semakin menurunnya minat membaca, makan semakin rendah pula kemampuan atau daya membaca kita. Apabila daya baca rendah, maka sikap kritis pun akan punah. Akibatnya, ketika ada satu masalah pelik yang dihadapi, permasalah itu akan berhadapan dengan jalan buntu. Hanya membaca judul adalah sebuah manifestasi atau indicator dari semakin malasnya masyarakat kita membaca karena alasan apa pun, malas misalnya.

 

Semua ini membawa dampak buruk bagi masyarakat dan peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan kini dan esok. Hanya membaca judul saja adalah sebuah kemalasan yang membawa dampak negative. Beberapa dampak negatifnya di antaranya sebagai berikut. Pertama judul bisa mengecoh seseorang yang seakan setelah membaca judul, sudah menangkap semua isi bacaan, padahal judul dibuat semenarik mungkin, agar si pembaca tertarik membaca hingga tuntas. Kedua, bila hanya membaca judulnya saja, maka semakin sedikit informasi yang didapat, selain judul belaka. Ketiga, membaca judul saja menambah minimnya pengetahuan seseorang. Ke empat, akan mempersempit pemahaman seseorang tentang informasi yang di baca. Ke lima, kebiasan hanya membaca judul, akan menimbulkan pemahaman yang keliru. Masih banyak lagi sisi negative dari hanya membac judul tersebut.

 

Selayaknya, kebiasaan hanya membac judul tersebut ditinggalkan dan diganti dengan membaca sebuah artikel atau bacaan dengan tuntas. Sebab membaca bacaan dengan tuntas, akan membuat pemahaman akan teks atau bacaan sebuah altikel atau buku akan menjadi sempurna, sehingga pembaca tidak akan melakukan misunderstanding dan salah sharing yang kita sebut dengan hoaks itu. Jadi membaca dengan tuntas, akan membuat kita lebih bijaksana dan arif. Oleh kebab itu, membacalah dyngan tunias, karens membaca bukan hobby, terapi sebuah kebutuhan hidup. 

Share234SendTweet146Share
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Next Post

Orasi Pendidikan Hari Kartini Institut KAPAL Perempuan 2021

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com