POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Petunjuk Ulama di Pilkada Aceh 2024: Ijtihad ataukah Ilham?

Menelisik Kepentingan Politik di Balik Fatwa

RedaksiOleh Redaksi
November 23, 2024
Tags: #analisis
Om Bus-Syaikh Fadil: Pahlawan atau Pengumbar Janji?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Tgk. Muhammad Kharazi, M.Ag

Pilkada Aceh 2024 mendekati masa puncaknya. Seperti biasa, keterlibatan ulama dalam memberikan panduan moral dan politik menjadi salah satu sorotan utama. Fatwa dan rekomendasi dari ulama sering kali dianggap sebagai landasan penting bagi masyarakat Aceh yang sangat menghormati peran agama dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pertanyaan yang mencuat adalah: apakah panduan ini murni bersumber dari ijtihad ataukah ada unsur ilham—bahkan kepentingan politik tertentu—yang memengaruhi sikap ulama tersebut?

Ijtihad Rasulullah SAW: Pelajaran dari Perang Badar

Untuk memahami isu keterlibatan ulama dalam Pilkada Aceh, kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni Perang Badar. Perang ini menjadi momen bersejarah di mana Rasulullah SAW memimpin pasukan Muslim menghadapi kekuatan Quraisy. Dalam persiapan perang tersebut, Rasulullah SAW membuat keputusan strategis mengenai lokasi awal pasukan Muslim. Keputusan ini diambil berdasarkan ijtihad beliau, yakni penilaian pribadi yang didasarkan pada pemahaman terhadap situasi dan kebutuhan saat itu.

Namun, di tengah persiapan, salah seorang sahabat, Hubab bin al-Mundhir, memberanikan diri untuk mempertanyakan keputusan tersebut. Dengan penuh penghormatan, ia bertanya kepada Rasulullah SAW, apakah pemilihan lokasi ini didasarkan pada wahyu yang turun dari Allah, atau hanya pendapat pribadi Rasulullah sebagai seorang pemimpin perang. Pertanyaan ini bukan bentuk pembangkangan, melainkan sebuah upaya konstruktif untuk memastikan strategi terbaik bagi kemenangan kaum Muslimin.

Rasulullah SAW, dengan kejujuran dan kerendahan hati, menjelaskan bahwa keputusan tersebut adalah hasil ijtihad beliau, bukan wahyu dari Allah. Mendengar hal itu, Hubab mengajukan saran alternatif. Ia menyarankan lokasi lain yang dianggap lebih strategis, karena berada dekat dengan sumber air, yang akan memberikan keuntungan signifikan bagi pasukan Muslim sekaligus melemahkan musuh. Usulan ini didasarkan pada pengetahuan dan pengamatan situasi medan perang secara mendalam.

Menariknya, Rasulullah SAW tidak bersikap defensif atau merasa tersinggung atas masukan tersebut. Sebaliknya, beliau menunjukkan sikap terbuka dan bijaksana dengan menerima saran Hubab. Keputusan untuk berpindah tempat kemudian terbukti menjadi faktor kunci yang menentukan kemenangan pasukan Muslim dalam Perang Badar. Langkah ini tidak hanya menunjukkan keunggulan strategi, tetapi juga menjadi teladan dalam mendengarkan pendapat orang lain, terutama ketika pendapat tersebut lebih relevan dengan situasi yang dihadapi.

Kisah ini menyiratkan pelajaran yang mendalam tentang pentingnya kolaborasi, kebebasan berpikir, dan keterbukaan terhadap masukan yang didasarkan pada pengetahuan dan analisis yang objektif. Rasulullah SAW, meskipun beliau adalah seorang nabi, tidak segan mengakui bahwa ijtihad manusiawi bisa memiliki kelemahan dan dapat disempurnakan melalui dialog.

📚 Artikel Terkait

Belajar dari Model Pembangunan Cina, Norwegia, Amerika Serikat (2)

Mengenal Intan, Gubes Termuda

Kadisdikbud Banda Aceh Buka Kegiatan Pemangku Kepentingan Daerah Tahap 2

PENDARATAN DARURAT

Hal ini mengajarkan bahwa keberhasilan dalam kepemimpinan, baik dalam konteks perang, maupun kehidupan sehari-hari, sering kali bergantung pada kemampuan untuk menerima masukan dengan pikiran terbuka dan rendah hati. Peristiwa ini relevan untuk direnungkan dalam konteks kehidupan modern, termasuk dalam pengambilan keputusan oleh para pemimpin agama atau politik. Seperti dalam kasus Rasulullah SAW, setiap keputusan yang diambil berdasarkan ijtihad harus tetap terbuka untuk dikritisi dan disesuaikan, terutama jika hal itu dapat membawa kemaslahatan yang lebih besar bagi banyak orang.

Ulama dan Pilkada: Antara Ijtihad, Ilham dan Kepentingan

Dalam konteks Pilkada Aceh, pertanyaan yang muncul adalah sejauh mana petunujuk ulama kepada masyarakat mencerminkan hasil ijtihad yang mendalam dan objektif, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai peristiwa sejarah Islam. Apakah panduan tersebut lahir dari analisis yang komprehensif dan berlandaskan pada prinsip-prinsip syariah? Ataukah fatwa yang mereka keluarkan dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk tendensi politik yang bersifat eksplisit maupun implisit? Pertanyaan ini menjadi penting mengingat posisi ulama yang sangat dihormati di Aceh, sehingga pandangan mereka memiliki dampak besar terhadap pilihan masyarakat.

Sebagian pihak mungkin melihat petunjuk ulama sebagai bentuk ilham, yakni petunjuk ilahi yang diyakini kebenarannya secara mutlak. Dalam masyarakat yang religius, petunjuk ulama sering kali diterima tanpa banyak pertanyaan, terutama ketika fatwa mereka disampaikan dengan narasi yang kuat secara agama. Namun, perlu diingat bahwa tidak semua keputusan ulama—meski didasari niat baik—bersifat absolut benar. Sebagaimana Rasulullah SAW menunjukkan bahwa ijtihad manusiawi dapat memiliki keterbatasan, keputusan ulama juga membutuhkan ruang untuk dievaluasi dan dipertimbangkan secara kritis.

Dalam realitas politik, dinamika kepentingan sering kali memengaruhi pandangan seorang pemimpin, termasuk ulama. Tidak dapat dimungkiri bahwa fatwa dan arahan ulama terkadang digunakan sebagai alat politik oleh pihak-pihak tertentu untuk mengarahkan dukungan masyarakat kepada calon tertentu. Tekanan atau pengaruh dari elite politik bisa saja mengaburkan objektivitas pandangan ulama, menjadikan fatwa yang dikeluarkan tidak lagi murni berlandaskan pada kemaslahatan umat, melainkan mencerminkan kompromi dengan kepentingan duniawi.

 

Mencari Kebijaksanaan dalam Keputusan

Belajar dari Rasulullah SAW, keterbukaan terhadap masukan dan keberanian untuk mengubah keputusan ketika ditemukan opsi yang lebih baik adalah ciri pemimpin sejati. Dalam konteks Pilkada Aceh, masyarakat perlu lebih kritis dalam menilai setiap petunjuk yang diberikan ulama, tanpa kehilangan rasa hormat kepada mereka.

Hal ini bukan berarti meragukan integritas mereka, tetapi lebih kepada memastikan bahwa keputusan mereka benar-benar dari hasil ijtihad, ilham atau kepentingan. Oleh karena itu, masyarakat perlu memiliki keberanian untuk mempertanyakan apakah petunjuk yang diberikan ulama benar-benar berdasarkan ijtihad, ataukah ilham atau justru dipengaruhi oleh kepentingan politik tertentu.

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Tags: #analisis
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Bahasa dan Politik

Bahasa dan Politik

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00