Dengarkan Artikel
Oleh Rismanda Diatri
Mahasiswa Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), UIN Ar- Raniry, Banda Aceh
Pengemis. Kita sudah tahu dan faham kalau orang disebut pengemis. Yang paling lazim kita fahami, pengemis adalah orang yang suka dan melakukan pekerjaan meminta-minta atau mengemis. Ada yang orang yang memiliki sifat mengemis, ada pula yang menjadikan mengemis sebagai sebuah pekerjaan atau profesi.
Untuk kategori pengemis yang menjadi pekerjaan atau profesi, mengemis merupakan usaha atau kegiatan seseorang mendapatkan penghasilan dari hasil meminta-minta di muka umum atau di publik. Modusnya juga berbeda-beda. Artinya ada berbagai cara dan alasan untuk mengemis. Ada yang menampilkan wajah sedih atau sendu, ada pula yang berpura-pura cacat dan atau memang karenan cacat, dan lain-lain.
Yang paling lazim adalah karena mengalami kekurangan atau karena cacat. Misalnya ada yang tuna netra, pincang, tua, dan sebagainya. Pokoknya tampilan mereka bisa mendapatkan simpati dari orang lain. Selain itu, pengemis kebanyakan dari orang yang hidup menggelandang. Faktor-faktor yang menyebabkan seorang menjadi gelandangan dan pengemis yaitu ada dua faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internalnya yaitu karena kemiskinan, cacat fisik, rendahnya pendidikan dan sikap mental.
📚 Artikel Terkait
Dalam kasus ini, penulis sempat mewawancarai salah satu pengemis di jalan Darussalam , tepatnya di depan lapangan Tugu Darussalam. Saat itu, hari Sabtu, 21 September 2024 pada pukul 17:24. Penulis mengamati seorang anak yang sedang bersama adiknya membawa sebuah goni. Ia melakukan kegiatan mengemis di kawasan Tugu, Darussalam. Padahal ia tinggal di Alue Naga, daerah dekat pantai, lalu bergerilya di belantara kota.
Ia biasanya turun ke jalan antara 5 hingga 11 jam , mulai dari siang hingga malam. Penampilan mereka tampak apa adanya. Mereka mengenakan pakaian seadanya yang tampak sangat lusuh. Ketika ditanya mengapa ia melakukan kegiatan mengemis, ia mengaku bahwa ibunya sedang sakit di rumah, sehingga dia turun ke jalan untuk membantu ayahnya dalam mencari nafkah.
Dia pun membawa adiknya yang berusia 3 tahun jalan kaki dari rumah ke jalanan untuk mencari nafkah dalam rangka membantu orang tuanya dari uang yang diperoleh sehari-hari. Sungguh ini adalah kenyataan hidup yang pedih dan membuat masa depan anak yang suram. Harusnya pada usia mereka yang masih wajib belajar, dan dalam tanggung jawab serta perlindungan orangtua, mereka bisa tumbuh dan berkembang secara wajar. Namun, kondisi keluarga memaksanya harus turun ke jalan meminta-minta.
Nah, dalam proses observasi yang penulis lakukan tersebut, penulis menemukan bahwa fenomena pengemis ini sangat banyak atau sarat dengan masalah. Salah satunya yaitu kesejahteraan sosial dan keterbatasan keluarga yang belum teratasi secara keseluruhan. Namun, ketika mereka penulis wawancarai, dalam keterbasan mereka, masih bisa tersenyum dan memberikan kata-kata positif.
Melihat realitas itu, penulis tersadar dan bersyukur. Bersyukur karena kita bukan pengemis. Maka, sekali lagi, sewajarnya peduli terhadap pengemis. Bukan hanya itu, tetapi mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap sesama manusia.
Kita seharusnya bisa lebih melihat yang sedang di bawah kita perekonomiannya yang sangat terbatas. Sewajarnya pula kita peduli agar bisa merubah hidup sesama agar lebih sejahtera, sehingga dapat mengurangi pengemis di kota Banda Aceh dan di kota-kota besar lainnya. Kalau kita mau, pasti bisa
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






