Dengarkan Artikel
Oleh Diva Putri Syakira
Mahasiswa Prodi Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, Banda Aceh
Pada sore Sabtu, di perkarangan Masjid Raya yang megah dan penuh dengan hiruk-pikuk pengunjung, ada seorang pengemis yang menarik perhatian. Seorang lelaki berusia 50 tahun. Penulis bee hasil mewawancara beliau. Ia bernama Dariyadi, betinggal di kampung Mulia, Banda Aceh.
Penampakan Pak Daryadi tersebut sehat dan masih sanggup untuk berjalan, ke mana-mana dengan membawakan tas yang diselempangkan di bahunya. Motif mengemis, darı tuturannya sana saja dengan para pengemis lain yakni dikarenakan terbatasnya ekonomi keluarga. Selain itu, katanya istrinya sudah meninggal dan beliau tinggal bersama anaknya yang sedang sakit. Selain itu, juga alasan kebutuhan anak, bill kehilangan pekerjaan dan akhirnya memutuskan berhenti bekerja dikarenakan sering sakit-sakitan. Ia berharap pada uang hasil mengemis, tanpa ingin berusaha lebih giat lagi. Mengemis menjadi pilihan mudah.
Maka, di balık penampilan yang lusuh, tidak semua pengemis mengemis karena kesulitan ekonomi, tetapi justeru dengan mengemis lebih mudah mendapatkan rupiah. Hebatnya lagi, para pengemis ternyata memiliki jaringan sosial yang cukup kompleks. Mereka saling berbagi informasi tentang lokasi yang menguntungkan, waktu yang tepat untuk meminta-minta, bahkan sailing membantu dalam kondisi darurat.
Pendapatan harian yang ia dapatkan bisa sekitar Rp. 30.000 hingga Rp. 60.000 atau lebih. Karena penghasilan setiap hari mengemis juga tidak tentu. Sangat tergantung dengan kondisi. Walau ramai tidaknya orang mendatangnya , kehidupan di jalanan tentu saja penuh dengan tekanan dan ketidakpastian.
📚 Artikel Terkait
Meskipun hidup dalam kondisi yang sulit, banyak penegmis yang masih memiliki harapan untuk masa depan yang lebih baik, beberapa di antara adalah mereka bermimpi untuk memiliki pekerjaan yang lebih layak kembali, rumah yang layak ditempati, atau sekadar kehidupan yang lebih stabil.
Harapan ini sering menjadi motivasi mereka untuk terus bertahan hidup di tengah berbagai tantangan. Kiranya, darı Interaksi singkat yang dilakukan, dapat memberikan pengajaran dari sosok Lelaki pengemis ini bahwa dengan umur sudah mulai lanjut usia, dapat memberikan pengajaran hidup yang begitu berharga. Mengajarkan kepada manusia lain tentang arti kesabaran, keikhlasan, dan pentingnya rasa bersyukur.
Di tengah keterbatasannya, mereka tetap mau tersenyum dan memberikan kata-kata positif. Mereka adalah manusia biasa yang memiliki hak untuk hidup layak dan bahagia. Sayangnya, nasib buruk telah merenggut kesempatan merekauntuk meraih Impian.
Sudah menjadi cerita dan alasan klasik pula bahwa hal yang sangat menyedihkan pada saat melihat sosok orang tua yang sudah lanjut usia harus mengemis, mereka mengungkapkan pahitnya kehidupan. Juga terpaksa dan sebagian harus hidup di jalanan, tidak ada biaya untuk membayar, mengalami sakit parah, bahkan mengemis untuk mencari sesuap nasi.
Kita sebagai orang yang bukan pengemis, selayaknya bersyukur dan mau melihat kondisi para pengemis ini, mengajak pada masyarakat lain untuk merenung dan lebih peduli terhadap sesama. Bersama-sama mencari Solusi untuk mengatasi masalah kemiskinan dan memberikan bantuan yang tulus dan membutuhkan kepada pengemis seperti yang dirasakan pada lelaki ini.
Dengan adanya kepedulian semua orang atau semua pihak, setidaknya dapat mengubah hidup mereka dan menciptakan masyarakat yang lebih adil. Meskipun kehidupan mereka penuh dengan tantangan, semangat juang para pengemis di Banda Aceh patut diapresiasi. Mereka adalah cerminan dari kekuatan manusia yang mampu bertahan hidup dalam kondisi yang paling sulit sekalipun. Observasi ini mengajak kita masyarakat untuk lebih peduli terhadap sesama dan memberikan bantuan dalam bentuk materi maupun dukungan moral.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






