Dengarkan Artikel
Oleh : Muhammad Raja Muda Ramadhana
Mahasiswa Semester 5, Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam,Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh
Pak Ahmad, lelaki tua yang beraktivitas dengan menggunakan kursi rodanya terlihat kala saya memasuki area SPBU Simpang Dodik, untuk mengantri isi bensin sepeda motor. Saya selalu melihat bapak-bapak dengan kursi rodanya yang mengemis di bagian pinggir SPBU, tepatnya di bagian pengantrian bensin sepeda motor. Ia duduk dengan kursi rodanya dengan bermodalkan ember kecil dan membaca surah al-ikhlas berulang-ulang dan memasang raut wajah yang sedih. Ia menggunakan kesempatan ini agar dapat mendapatkan uang sisa pengendara bermotor dari pembelian bensin, sehingga memungkinkan untuk bapak ini selalu mendapatkan uang.
Secara kebetulan pula momentum ini berkaitan dengan tugas penulis untuk melakukan observasi atau mengamati kehidupan para pengemis yang ditemukan di Banda Aceh. Maka, menjadi kesempatan bagus buat penulis untuk mengamati apa yang terjadi dengan Pak Ahmad ini dan mencari tahu apa yang membuat dirinya harus menjadi pengemis.
Nah, di saat penulis mendekati bapak tua itu, dimulai dengan kondisi fisik yang kurang, seperti kulit yang tidak terurus dan kaki yang tidak memungkinkan untuk berjalan. Setiap pagi bapak ini sudah tiba di SPBU dengan menggunakan kursi roda dan dibantu oleh seorang bapak yang mengantarnya.
Sebenarnya penulis mengamati pak Ahmad sudah dari tahun 2020, namun di kesempatan ini penulis menjadikan tugas ini untuk menggali informasi lebih mendalam mengenai latar belakang pak Ahmad tersebut. Sayangnya pada saat obervasi secara langsung penulis mendapatkan kesulitan dikarenakan memang pak Ahmad enggan untuk diganggu waktu mengemisnya. Hal itu tidak membuat penulis menyerah dan putus asa. Penulis lalu memulai mencari informasi mengenai pak Ahmad dengan petugas SPBU sekitar dan orang-orang yang berkenan dengan bapak tersebut.
Setelah penulis mendapatkan informasi dari lingkungan sekitar, dapat disimpulkan bahwa Pak ahmad ini berasal dari Aceh Besar dan merantau ke Banda Aceh tepatnya di SPBU simpang Dodik untuk mengemis dengan menggunakan kursi roda,memakai peci dan dengan ember kecil serta mengucapkan surah Al-iklhas berulang-ulang.
📚 Artikel Terkait
Diperkirakan bapak ini sudah ada di lokasi tepatnya pada pukul 08:00/09:00 WIB dan sampai sore pada pukul : 16:00 WIB tepat nya ba’da ashar. “Untuk jam pulang itu tidak menentu. Terkadang bapak itu habis zuhur sudah tidak ada lagi”, ucap petugas SPBU. Pak Ahmad sehari-harinya mendapatkan penghasilan dari mengemis kisaran Rp.100.000 sampai Rp.250.000.
Jam, cuaca, dan hari menjadi faktor terhambatnya bapak ini untuk mendapatkan uang, semisal hari Minggu “Libur”, Hujan deras yang membuat pengguna sepeda motor tidak mengisi bensin dan yang terakhir yaitu penyesuaian jam bapak tersebut.
Pak Ahmad mengemis untuk menghidupi diri sendiri, termasuk makan sehari-hari dan juga untuk menabung membeli kursi roda yang baru, dikarenakan kursi yang sekarang sudah tidak layak.
Rasa lelah dan letih dirasakan dan ini lah metode yang selalu digunakan para pengemis di Banda Aceh serta menggunakan strategi tertentu dalam memantik perhatian para penderma, di antaranya ialah dengan menggunakan simbol-simbol kemiskinan. Ada juga dengan menunjukkan kedisabilitasan, menggunakan simbol dan narasi keagamaan, serta membawa dagangan kecil-kecilan.
Selain hal tersebut di atas, penulis juga mendapati beberapa faktor yang melatar belakangi seseorang lebih memilih menjadi pengemis. Pertama, kesempatan kerja yang terbatas. Ke dua, tidak memiliki keterampilan khusus. Ke tiga, tidak mau berusaha dan ke-enakan memilih hal-hal instan. Ke empat, masih ditemui banyak penderma yang mau berbagi.
Observasi terhadap pengemis di SPBU Simpang Dodik menunjukkan sebuah gambaran tentang ketahanan hidup dan keyakinan spiritual meskipun berada dalam kondisi yang sangat terbatas. Perilaku mengucapkan surah Al-Ikhlas secara berulang-ulang tidak hanya menunjukkan
keteguhan iman, tetapi juga menggambarkan usaha untuk mencari kedamaian dan keberkahan di tengah kehidupan yang keras. Interaksinya dengan orang-orang di sekitar menambah dimensi sosial dan emosional, di mana ada perasaan iba, doa bersama, serta kesadaran sosial tentang kemiskinan yang dialami banyak orang.
Oleh karena itu Pemerintah sudah semestinya untuk mengamati lingkungan sekitar untuk mengurangi maraknya pengemis yang pada faktanya mereka mampu dan tidak layak mengemis serta fakta lain yang konkrit dan empiris bahwasannya para pengemis di Banda Aceh yang sudah nyaman dengan mengemis ini. Pilihan alternative ini mereka pilih sebagai substitusi mata pencaharian mereka dikarenakan instan dan mudah.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






