POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Sastra

Cinta yang Keliru

Redaksi by Redaksi
Oktober 19, 2016
in Sastra
0

Oleh Dina Triani GA

Marlina baru sehari berada di Singapura untuk mengisi masa liburan waktu pertama kali bertemu Reza. Pagi itu, orang – orang hilir mudik di sepanjang Esplanade Park mengenakan pakaian – pakaian longgar yang nyaman. Reza baru saja turun dari taksi. Ia hendak menyelesaikan artikel yang harus diserahkan ke meja redaksi minggu depan. Berjalan menuju taman dimana tampak seorang gadis tengah duduk di bangku dengan separuh wajah tertutup oleh buku yang sedang dibacanya.

Reza memilih bangku menghadap Marlina. Meskipun sedang membaca, Marlina memperhatikan waktu Reza duduk tidak jauh darinya. Ia mengenakan kemeja army dan bersepatu boot. Reza lalu mengeluarkan laptop dan mulai mengetik dengan penuh konsentrasi. Di balik buku, yang ditaruh persis di depan wajahnya, Marlina menebak – nebak usia Reza. Sepertinya tiga puluh tahunan dan pastilah sudah menikah. Setelah itu, Marlina kembali membaca bukunya.

Baca Juga
  • Cinta yang Keliru - 08309ac6 d17d 4703 a4e1 f8bee2614600 | Sastra | Potret Online
    IMLF
    Kolabarasi Fakultas Bahasa dan Seni UNP Dengan IMLF Dalam Sebuah Panggung Pertunjukan
    04 Apr 2024
  • 02
    Budaya
    Puisi-puisi Tahnia Katshura
    17 Mar 2017

Mata mereka bertemu ketika sekumpulan burung dara tiba – tiba berterbangan saat dua orang bocah berlarian. Reza melempar senyum, namun si gadis tidak membalas. Reza bisa melihat buku yang dibaca gadis itu karangan Lily Franky yang berjudul Tokyo Tower. Reza juga bisa melihat gadis itu memiliki rambut ikal dan kaki panjang terbungkus jeans. Gadis itu tidak cantik, tapi begitu Reza mengamatinya, ia mendapati dirinya tak ingin mengalihkan pandangannya ke mana pun.

Ketika Marlina melirik, ia melihat Reza sedang memperhatikannya. Pria itu masih memegang laptop di pangkuannya, tapi kepalanya menoleh, dengan terang – terangan dan tanpa malu memperhatikan Marlina. Marlina kembali membaca bukunya. Tapi ia tidak bisa meneruskan bacaanya. Ia melirik lagi ke arah Reza dan memberi seulas senyuman.

Baca Juga
  • Cinta yang Keliru - Guru | Sastra | Potret Online
    POTRET Budaya
    Guru
    24 Feb 2022
  • Cinta yang Keliru - 4dbcb2cd 5eb6 4cc8 8e36 e7589bd47626 | Sastra | Potret Online
    Cerpen
    Mimpi
    28 Feb 2024

Reza lalu mendekati si gadis dan memperkenalkan diri. Marlina berkata ia sedang menunggu seorang teman. Ia kuliah di Bandung pada fakultas ekonomi. Reza tidak memberitahu apa pun, kecuali nama dan cerita sepintas mengenai dimana ia menginap dan mengapa ia berada di Singapura. Kemudian Reza minta nomor handphone gadis itu dan Marlina mengucapkan kata perpisahan begitu seorang kawan menghampiri.

Sehari kemudian, Reza menghubungi sang gadis. Mengajaknya bertemu di Bukit Timah Road. Meskipun terkejut, Marlina mengiyakan ajakan itu.

Baca Juga
  • Cinta yang Keliru - 31B3F7F5 D97F 4D53 BCD3 3AE78D1033DE | Sastra | Potret Online
    POTRET Budaya
    Jiwa Fitrah
    04 Agu 2022
  • Cinta yang Keliru - b457446a 9f07 4392 9b4e 5672572b66d6 | Sastra | Potret Online
    POTRET Budaya
    Dua Kuntum Puisi Ahmad Noh
    01 Des 2024

“ Kau sering melakukan ini? “ tanya Marlina ketika mereka duduk – duduk di Living Cafe & Deli.

“ Tidak, “ jawab Reza. “ Aku tak pernah minum berduaan dengan gadis yang baru kukenal selama ini. “

Marlina meneguk kecil jus ABC yang berisi campuran dari buah apel, wortel dan bit. Reza mengamati dari seberang meja. Ia berpikir: Segelas minuman tak kan cukup bagiku.

Reza berkata, “ Aku hanya seminggu di Singapura. “

“ Sama, “ sahut Marlina. Logat Sunda dalam nada bicaranya sangat kental. “ Kau sudah menikah? “

“ Ya. Aku juga sudah memiliki seorang anak, “ Reza menyeruput Soy Chocolate panasnya, “ Tapi kau kelihatannya tidak punya pacar. “

“ Memang. “

Reza menatapnya dan berkata dengan sungguh – sungguh, “ Syukur lah kalau begitu. Aku senang mendengarnya. “

Reza bersikeras mengantar Marlina sampai ke Park Sovereign, hotel tempat ia menginap. Marlina tak kuasa menolak. Laki – laki itu terlalu menarik untuk diabaikan.

Sehari setelah pertemuan itu, mereka sering membuat janji di lain tempat. Hangout di Holland Village, jalan – jalan di Orchard Road, jajan di Woodland Center. Marlina mulai jatuh cinta kepada Reza, dan Reza berusaha keras untuk mengelak perasaan yang sama terhadapnya. Namun perasaan itu begitu kuat hingga pada hari terakhir, Reza mengajak gadis itu ke Singapore Botanic Gardens.

Mereka berjalan menyusuri jalan setapak melewati danau Simfoni dimana sebuah patung Frederic Chopin terpajang. Udara terasa hangat dan cerah. Reza membimbing Marlina menjauhi kerumunan orang serta anak kecil yang berlarian di Palm Valley dan berjalan menuju pohon tembesi yang rindang. Mereka duduk dalam keheningan. Menyadari inilah waktunya mengucapkan kata – kata perpisahan.

“ Aku benci perpisahan, “ keluh Marlina.

“ Aku juga, “ sahut Reza.

Marlina berkata, matanya menatap rumput, “ Dari awal aku tahu hubungan kita ini akan berakhir. Dan dari awal aku tahu hubungan kita akan menyakitkan, tapi aku tidak pernah tahu akan mencitaimu seperti ini. “

“ Bagaimana kau bisa mengetahuinya? “ kata Reza. “ Kau tidak pernah mengalami kejadian seperti ini sebelumnya. Begitu pula aku. “

Marlina mendesah, “ Jadi, beginilah akhir kisahnya. “

“ Kurasa begitu, Marlina. “

“ Bagaimana dengan cinta kita… ? “

“ Takkan pernah sirna, “ ujar Reza berusaha tergar.

Marlina berlutut dan mulai menarik pucuk – pucuk rumput yang baru tumbuh. Ia berkata, “ Aku telah keliru mencintaimu. “

Reza menoleh kearah Marlina, “ Aku pun keliru, Marlina. “

Sore harinya mereka menuju puncak gedung Ion Sky. Menyaksikan hamparan kota selagi angin kencang dari utara menerpa gedung. Mereka sadar waktu mereka di Singapura hanya tinggal hitungan jam.

Ketika mengucapkan selamat tinggal, Reza berjalan cepat – cepat menuju pintu taksi tanpa melihat ke belakang. Tapi Marlina memanggil nama Reza dan ia menoleh dan Reza mendengar Marlina berkata, “ Reza, jangan pernah melupakan aku ya? “

Reza mengangguk. Kemudian Marlina diam terpaku dan sangat berat bagi Reza untuk meninggalkannya ketika ia berkata untuk berjanji bila ia telah pulang ke Banda Aceh, bermimpilah untuknya…

Previous Post

Cara Menyesuaikan Diri

Next Post

Remaja Muslim vs Pacaran

Next Post

Remaja Muslim vs Pacaran

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah