Dengarkan Artikel
Oleh Sigit Haykaliandra
Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh.
Di pinggiran Simpang Jam, Banda Aceh, di area SPBU yang sibuk, tampak seorang perempuan paruh baya duduk sendirian di bawah payung untuk berlindung dari terik matahari. Perempuan ini berusaha menarik perhatian para pengendara yang berhenti di lampu merah dengan cara yang halus dan sederhana. Di sampingnya, terdapat ember hitam untuk menampung uang pemberian, sementara beberapa bungkus kerupuk yang tertata rapi menjadi penanda seolah ia juga sedang berjualan.
Penulis yang sedang mendapat tugas melakukan observasi atau mengamati kehidupan para pengemis yang selama ini banyak ditemukan di kota Banda Aceh, langsung mengamati sang wanita.
Saat penulis dekati perempuan itu, terlihat ia mengalami kondisi kesehatan yang terbatas yaitu gangguan penglihatan yang membuat sulit melihat dengan jelas. Namun tidak sepenuhnya buta, ia hanya dapat melihat cahaya dan bayangan tanpa bisa menangkap detail atau objek dengan baik.
Setiap harinya, ia berangkat dari rumahnya ke lokasi SPBU simpang jam dengan menggunakan becak yang dibawa oleh seorang suaminya. Namun suaminya bekerja menarik becak dengan pangkal di dekat lokasi hotel – hotel seperti Prada, Keudah,dan hotel Medan.
Ada yang penulis tanyakan lebih lanjut pada ibu tersebut, terkait motivasinya melakukan aktivitas pengemis itu. Berdasarkan wawancara penulis tersebut faktor yang membuat ia mengemis adalah bahwa keputusan untuk mengemis didorong oleh kebutuhan ekonomi yang mendesak dan kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk pekerjaan yang lainnya. Selain itu, ia memiliki tanggung jawab untuk menghidupi keluarganya bersama suaminya.
Sangat terasa bahwa hidup perempuan ini penuh tantangan atau hambatan yang dialaminya. Bagaimana pun ia harus menghidupi anak – anaknya dan bertanggung jawab atas keluarganya dari penghasilan ngemis dan jualan kerupuk.
📚 Artikel Terkait
Apa yang menyedihkan dari kehidupannya sebagai pengemis adalah ketakutan tidak mendapatkan hasil dari ngemis dikarenakan tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka. Namun perempuan tersebut berbeda dari pengemis – pengemis lain, dengan berusaha berjualan kerupuk yang ia buatkan untuk menghasilkan tambahan pendapatan.
Berdasarkan yang terjadi pada pengemis – pengemis di Banda Aceh ini, harusnya mereka dibekali kemampuan dan pekerjaan yang setara dengan kondisi masing – masing yang dimana memiliki keterbatasan dan kesehatan yang berbeda – beda. Sekiranya Pemerintah daerah dapat membantu membuka pelatihan untuk melatih keterampilan di setiap yang dimiliki oleh pengemis – pengemis tersebut.
Selain itu, Pemerintah Aceh perlu perhatian khusus terhadap pengemis – pengemis jalanan dan membuka wawasan kepada mereka untuk memperbaiki kehidupan mereka menjadi lebih baik dan setara pada masyarakat Aceh.
Mungkin bisa dimulai dengan adanya program – program untuk pengemis jalanan dengan memodalkan mereka agar membuka usaha yang bisa dilakukan dan tidak butuh belas kasihan dari masyarakat sekitar.
Pengamatan ini menjadi pengalaman bagaimana harusnya di diri kita ada solidaritas dan kepedulian sosial kepada pengemis – pengemis di jalanan. Semoga kedepannya lebih berkurang pengemis – pengemis yang bermunculan di Banda Aceh.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






