Dengarkan Artikel
Oleh Ahza Khairuzi Iqbal
(Siswa kelas XI SMAN 10 Fajar Harapan), Banda Aceh
Iklim adalah dinamika cuaca berpola yang terjadi dalam jangka waktu yang lama. World Meteorology Organization menyatakan bahwa 30 tahun adalah waktu yang paling singkat untuk suatu iklim. Perubahan iklim tidak selalu merugikan, namun juga dapat menguntungkan.
Selama ini kita hanya mengira bahwa perubahan iklim selalu ditandai dengan suhu rata-rata bumi yang terus meningkat setiap tahunnya. Padahal penurunan rata-rata suhu bumi juga termasuk ke dalam perubahan iklim. Salah satu contohnya letusan gunung Tambora pada tahun 1815. Letusan ini membuat tahun 1816 disebut tanpa musim panas, karena langit tertutup oleh abu vulkanik yang membuat albedo bumi berkurang.
Saat ini memang sedang terjadi perubahan iklim yang cukup signifikan terutama pada komponen suhu. Suhu yang terus meningkat membuat dampak beruntun terjadi pada bumi. Salah satu dampak primer kenaikan şuhu adalah perubahan pola curah hujan yang memiliki dampak sekunder yang dapat merubah tanah dan vegetasi. Sementara dampak tersiernya adalah perubahan ekosistem yang berpotensi mengurangi keberagaman hayati. Tentu ini tidak hanya berpengaruh bagi hewan atau tumbuhan, tapi juga bagi manusia. Oleh karena itu harus peka terhadap perubahan iklim yang terjadi di lingkungan kita.
Indonesia sebagai negara maritim harus mewaspadai gelombang panas karena berada di garis khatulistiwa. Indonesia disinari oleh matahari sepanjang tahun yang membuat suhu akan konstan. Dikelilingi oleh lautan juga menjadi faktor penguapan yang tinggi akan menambah kelembaban relatif. Dua hal tersebut sudah cukup untuk membuktikan bahwa Indonesia rawan terhadap ancaman bencana gelombang panas akibat perubahan iklim.
📚 Artikel Terkait
Selain itu ada efek rumah kaca yaitu istilah yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana sinar matahari dapat masuk ke bumi. Penggunaan bahan bakar yang tidak bisa diperbaharui (unrenewable) menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi gas rumah kaca.
Energi unrenewable yang digunakan memiliki peran yang vital dalam kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi. Terkadang energi unrenewable menghasilkan efek ganda, seperti penggunaan pendingin ruangan yang menghasilkan emisi CFC, tidak hanya CFC listrik yang digunakan pendingin ruangan juga berasal PLTU yang menggunakan unrenewable resource sebagai bahan utama pembangkit listrik. Ini tentu tidak ramah bagi lingkungan dan tidak memiliki prinsip berkelanjutan.
Pengelolaan energi seharusnya bisa lebih baik, menggunakan prinsip SDGs. Sustainable Development Goals membantu negara-negara di dunia untuk dapat membangun negaranya menjadi negara maju dengan konsep keberlanjutan. Ini menjadi modal penting untuk merubah iklim menjadi lebih baik dan seimbang. Sebelum adanya SDGs ini dunia sudah terlebih dahulu diadakan pertemuan antar negara untuk menyepakati tentang langkah -langkah pengurangan emisi, yaitu protokol Montréal, protokol Kyoto, dan protokol Paris. Ketiga protokol tersebut saat ini telah disempurnakan oleh SDGs yang terdiri atas 17 tujuan. Penanganan perubahan iklim sendiri terdapat pada tujuan ke-14.
Kesadaran tiap negara memang sangat penting untuk menjalankan SGDs ini. Namun banyak negara berkembang yang sedikit mengalami kendala karena harus menyelaraskan pembangungan dengan penggunaan energi bersih. Negara-negara berkembang masih dibatasi oleh teknologi yang mereka miliki. Mereka juga masih bertumpu pada sektor ekonomi sekunder, tentu memerlukan energi yang lebih banyak.
Hal yang paling berasa dampak pemulihan akan perubahan iklim adalah ketika pandemic covid-19 terjadi. Saat itu semua sektor lumpuh tanpa terkecuali sektor transportasi dan industri. Kita dapat melihat perubahan dunia, seperti udara yang sehat dan jalanan yang lancar. Dari sini dapat kita lihat bahwa dua sektor ini beperan akan emisi yang cukup tinggi. Sektor transportasi sendiri memang sudah menjadi perhatian bagi semua orang sebagai salah satu penyumbang emisi terbesar. Langkah yang sudah dilakukan oleh pemerintah dengan mengganti kendaraan konvensional menjadi kendaraan listrik bukanlah langkah yang tepat, karena jumlah kendaraan listrik yang banyak pasti akan memerlukan energi untuk mengisi daya kendaraan tersebut. Tentu jika listrik yang dihasilkan bukan dari renewable resource, maka akan sama saja seperti menggunakan kendaraan konvensional. Yang membedakan hanya pada area polusi.
Mungkin banyak yang mengatakan jika pembangkit listrik tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga bayu dapat dimanfaaatkan di Indonesia. Pembangkit listrik tenaga surya membutuhkan area yang luas tentu untuk membangunnya akan menimbulkan deforestasi yang lagi-lagi menimbulkan kerugian bagi lingkungan. Cara yang paling realistis ialah dengan memanfaatkan perairan sebagai area yang dipasang panel surya. Dampak negatifnya ialah jika areanya terlalu luas, maka akan menggangu habitat hewan di perairan yang akhirnya menimbulkan kekacauan ekosistem. Sementara itu, pembangkit listrik tenaga bayu tidak begitu cocok dengan letak geografis Indonesia. Memang benar Indonesia terletak di intertropical convergence zone (ITCZ) yang menghasilkan angin geostropik. Namun di sisi lain Indonesia memiliki dua angin musiman yaitu angin muson timur dan angin muson barat. Perubahan arah angin inilah yang membuat pembangkit listrik tenaga bayu tidak efektif dan efisien.
Pembangkit tenaga panas bumi mungkin bisa menjadi alternatif untuk renewable resource. Indonesia yang berada pada ring of fire memiliki banyak gunung api. Ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit listrik tenaga panas bumi. Selain itu, Indonesia sebagai negara maritim seharusnya memiliki beberapa model untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga air, seperti menggunakan bendungan, arus pasang surut, ombak laut, dan lain-lain.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






