Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis
Ayah! Kapan kita jalan-jalan berwisata ke tempat-tempat wisata yang menarik dan menyenangkan? Tanya anak-anak yang sudah lama ingin bisa jalan-jalan ke objek wisata di mana saja. Begitu pula ibunya yang sudah lama berharap bisa mengunjungi abang di Pasaman, Sumatera Barat. Pertanyaan- pertanyaan itu selalu muncul dan mengguncang kesadaran untuk menikmati wisata.
Pertanyaan- pertanyaan anak tentang kapan kita bisa jalan-jalan ke objek wisata, bisa dijawab dengan membawa anak-anak ke objek wisata terdekat di sekitar Banda Aceh atau Aceh Besar. Misalnya bisa ke pantai Ule Lhe, yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari kota Banda Aceh, atau ke pantai Lampuuk, Babah Dua, atau Lhoknga yang berada di wilayah Aceh Besar dan bisa pula ke objek wisata lain di Aceh Besar seperti Taman Rusa, Permandian Kuta Malaka, pantai Ujong Bate, Krueng Raya atau ke Ie Su um ( Air Panas) di lereng gunung Seulawah Aceh Besar. Aceh Besar memiliki destinasi wisata yang banyak dan indah.
Namun bagaimana dengan dambaan ibu mereka yang ingin bisa berlibur dan menikmati wisata di luar Aceh, yakni ke Pasaman Barat, Sumatera Barat yang jaraknya dari Aceh lebih dari 1000 km? Tentu tidak bisa dijawab seketika atau langsung berkata, hari pulan dan tanggal pulan di bulan pulan. Ini pertanyaan dan permintaan berat, karena faktor jarak yang begitu jauh, juga faktor keuangan, waktu dan lain-lain. Apalagi setelah sekian lama tidak berpergian ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri, perasaan malas berpergian bergelantungan di pikiran. Seringkali rasa malas itu karena pikiran saat lebih concern pada usaha di POTRET Gallery yang membutuhkan banyak perhatian.
Apalagi keinginan berwisata diiringi atau ditambatkan dengan kepentingan untuk silaturahmi. Jadi, kapan mau berwisatanya, ya kan? Ya. Begitu lah sengkarut berbalut-balut antara dua keperluan. Wisata dan silaturahmi.
Alhamdulilah pertanyaan dan harapan anak dan istri terkabul, juga akhirnya, setelah sang istri mencari jalan untuk memwujudkannya, yakni jalan bareng dengan abang dan adik/ipar. Dengan cara ini bisa memadukan dua kepentingan. Kami memutuskan untuk memanfaatkan waktu libur sekolah menghadapi tahun ajaran baru. Dengan memanfaatkan sisa liburan itu, kami mewujudkannya dengan memulai perjalanan darat dari Banda Aceh ke Pasaman Barat dengan melewati jalur pantai barat.
Tanggal 30 Juni 2024, kami memulai perjalanan menuju Pasaman pada pukul 07.30 WIB menggunakan dua mobil, karena kami berangkat tidak hanya satu keluarga, ada tiga keluarga, abang ipar dan adik ipar. Tentu saja tidak langsung ngebut ke Pasaman. Kami singgah-singgah untuk isi bahan bakar, makan dan ngopi serta istirahat mengurai rasa lelah mengemudi dengan menikmati sajian kopi di warung-warung yang kopi, hingga tiba di kota Meulaboh, saat azan dhuhur, bisa ikut salat berjamaah.
Usai salat dhuhur di masjid Baitul Makmur Meulaboh, kota yang merupakan ibu kota darı Kabupaten Aceh Barat, dengan luas wilayah kotanya 63.36 km2 yang didiami oleh 204.475 jiwa itu, kami lanjutkan perjalanan.
📚 Artikel Terkait
Nah, dari bumi Teuku Umar ini, kami melaju menuju arah ke Blang Pidie. Sebelum masuk Simpang Empat, Nagan Raya, perut terasa lapar, karena belum makan siang dan menemukan sebuah warung yang tampak eksotik dengan sajian ikan paya, seperti lele atau ikan gabus dan mujair atau ikan nila. Namun, ketika kami masuk, melihat dari dekat, bukan hanya ikan payau. Juga ada daging, ayam dan lain-lain. Kami nikmati dengan santai saja. Pokoknya santai sajalah, karena tidak perlu terlalu mengejar, hingga seperti dalam lomba balapan.
Setelah perut kenyang dan membayar di kasir, perjalanan pun dilanjutkan dan meninggalkan kota Simpang Empat, Nagan Raya memasuki kawasan jalan berbelok-belok dan mendaki serta menurun, tancap gas di gunung Trans yang bisa membuat penumpang mabuk dalam perjalanan. Jalan berliku dan berbelok-belok itu terasa bosan dan ingin segera diakhir, namun komitmen untuk menikmati perjalanan haruslah didahulukan.
Kami menikmati sore dengan siraman matahari yang mulai rebah ke barat. Sekali-kali mata silau dan tertutup rindang daun dari pepohonan yang ada di sepanjang jalan. Namun, canda-canda segar menjadi bahan tawa dan menyemarakkan sepanjang perjalanan dari Nagan Raya ke Kota Blang Pidie.
Alhamdulilah sekitar pukul 17.00 WIB, kami masuk ke wilayah Blang Pidie, yang merupakan Ibu kota Aceh Barat Daya (Abdya), kabupaten baru hasıl pemekaran darı kabupaten Aceh Selatan pada 10 April 2002. Kami tidak masuk ke Blang Pidie dengan melewati kecamatan Susoh, tetangga Blang Pidie, tetapi masuk lewat shortcut di Guhang yang lebih dekat dan keluar langsung ke jalan keluar di Meudang Ara, Blang Pidie. Artinya, kami tidak masuk ke kota ibukota Blang Pidie.
Makan Mie Putih
Makan mie putih adalah kerinduan tersendiri yang dirasakan. Ada rasa kangen untuk menikmati sajian kuliner khas kota Blang Pidie yang telah lama tidak dinikmati lagi, maka kala memasuki wilayah Aceh Barat Daya ( Abdya) ini, muncul keinginan mengajak keluarga dan ipar untuk menikmati sajian mie putih di Blang Pidie. Karena di kota sangat terkenal dengan menu mie putih yang menjadi icon kuliner Aceh Barat Daya. Itu pula lah alasan kami tidak melewati jalan masuk melewati Kecamatan Susoh, tetapi mengambil shortcut atau jalan pintas lewat Guhang menuju Blang Ara.
Karena tidak masuk ke area kota, kami coba singgahi AW kupi yang letaknya di jalan Banda Aceh – Tapaktuan itu. Sangat berhasrat makan mie putih. Sayangnya di AW kupi tidak ada mie putih, kecuali mie Aceh. Beberapa tahun lalu, pernah makan mie kocok di sini. Namun, kalalı ini keduanya tidak ada. Waduh, begitu nada kecewa menyeruak. Tidak ada pilihan yang diharapkan, akhirnya pesan kopi dan mie Aceh serta martabak telur.
Walau agak kecewa, Alhamdulilah bisa juga mengurangi rasa lelah dan bisa mengisi perut yang sudah ingin diisi lagi, seperti mengisi bahan bakar mobil, walau bukan dengan mie khas Blang Pidie itu. Lalu, sebagai Penikmat kopi Arabicca Gayo, kami ingin menyeruput segelas kopi Arabica Gayo di kota Breuh Sigupai ini. Sayangnya listrik padam, mesin yang digunakan untuk membuat kopi tak bisa beroperasi. Kedua hal yang diinginkan tidak ada. Terpaksa ikuti alur yang ada. Ya, sudahlah.
Hari pun telah menjelang senja. Kami membayar semua yang sudah dipesan dan dinikmati, lalu kembali ke belakang stir melanjutkan perjalanan. Baru sekitar 15 menit, kami berhenti sejenak di Lhok Nibong, yang merupakan perbatasan kecamatan Tangan-Tangan dan Manggeng. Berhenti menyapa adik yang sudah lama membangun rumah di pinggir jalan. Hanya sekejap, karena kami ingin melanjutkan perjalanan. Usai berbincang sejenak, lalu pamit dan bergerak menuju kota Naga, Tapaktuan
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





