Ilustrasi :antara foto
Oleh : Nsyah
Dia berjalan di antara batas-batas trotoar
Mencari sisa-sisa dari barang bekas
Demi mendapatkan sebungkus nasi
Baju-nya yang compang-camping
Badannya yang dekil
Engkau berjalan dengan meneteskan air mata
Engkau tak kenal dengan kata malu
Engkau tak kenal dengan kata gengsi
Yang engkau kenali hanya diri-mu sendiri
Engkau itu bagaikan inspirasi dunia bagi pengemis pengemis kecil hingga tua
Yang hanya mampu melentangkan tangan
Di tiap tiap batas-batas trotoar lampu merah
Sungguh malang nasibmu, Nak
Tak ada segelintir dari pejabat-pejabat tinggi yang peduli kepadamu
Sungguh negeri-mu ini negeri kejam
Tanpa jiwa simpati
Tanpa rasa toleransi
Tanpa ada rasa iba hati
Hingga tanpa ada hati nurani
Terhadap masyarakat-masyarakat kecil sepertimu
Tenanglah, Nak
Engkau malaikat kecil pemberani
Kelak keringatmu itu
Tetesan air matamu itu
Akan terbalaskan dengan hasil kerja kerasmu selama ini
Banda Aceh, Simpang Surabaya, 20 Oktober 2018
Pukul 09 : 47
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 329x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 289x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 245x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis.
Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.


















