POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Memimpin Bangsa dan Pendidikan Yang Tertinggal

RedaksiOleh Redaksi
April 1, 2021
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh Ahmad Rizali

Berdomisili di Depok

 

Ketika USA panik melihat Rusia meluncurkan satelit pertama “Sputnik” ke orbit yang dipikirkan langsung adalah pendidikan tertinggal. Ketika sekali lagi mereka mulai panik melihat pertumbuhan Cina, yang dipikirkan juga pendidikan tertinggal. Ketika Cina juga merasa tak mampu lagi mendorong pertumbuhan ekonomi, karena perlu manusia yang lebih berdaya, yang dipikirkan juga pendidikan yang tertinggal. Pasi Sahlberg juga menjadi saksi bahwa sistem pendidikan yang solid sejak jenjang dasar hingga pendidikan tinggi akan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

 

Bukti bahwa negara yang serius membangun bangsanya fokus ke pendidikan, khususnya pendidikan dasar adalah data dari PIAAC (Program for Intl. Adult Assessment Competence) yang pada tahun 2016 mengukur kompetensi membaca, matematika dan sains pekerja dewasa usia 16 sampai dengan 64 tahun di negeri OECD. Ini PISAnya orang dewasa. Terlihat hasil PIAAC Israel dan Singapura di bawah rerata, sementara PISA mereka di atas rerata. Keduanya serius membereskan Dikdasnya dengan kemajuan di PISA.

 

📚 Artikel Terkait

Konflik Wakaf Blang Padang: Relasi Kuasa Negara dan Kedaulatan Spiritualitas Lokal di Aceh

Puisi-Puisi Fikar W.Eda

TIGA KUNCI SURGA VERSI AL-QUR’AN DAN SUNNAH

CUT NYAK DHIEN

Dengan mematok kemenangan 100 tahun Maraton, Tiongkok juga menyiapkan warganya menguasai Hi tech di sains, rekayasa, IT, Persenjataan, Angkasa Luar dan lain sebagainya. Dikirimkan ratusan ribu mahasiswa, bahkan pelajar untuk sekolah di USA, Kanada, Eropa dan Australia termasuk Jepang, sejak awal tahun 1960an.  Seingatku Soekarno, Soeharto dan Habibie juga melakukan hal yang sama, namun tak padu dengan rencana pembangunan berlanjut dengan geger G30S dan reformasi. 

 

Semua negara yang konsisten kemajuannya, memilih studi yang cocok dengan rencana pembangunan dalam negeri mereka dan ketika semuanya lulus, sejak jenjang SD/MI yang diberi fondasi kuat hingga Perguruan Tinggi dengan ketrampilan yang relevan, maka klop dan pas mereka berkiprah. Apakah Indonesia terlalu fokus mendidik dalam bidang Ilmu sosial dan agama? Walahualam.

 

Ketika Soeharto menerima alih komando dari Soekarno dalam kondisi Indonesia compang camping, namun semangat kebangsaan pemimpinnya sangat solid, meski sering bertikai dalam ideologi. Singkat kata, dengan tangan besi dan seperti itu pula dilalukan oleh pemimpin Tiongkok, Korea jaman Chun, Lee yang ditakuti dan Jepang restorasi Meiji, autocratic benevolence style, Soeharto mengikuti cara World Bank dan Internation Monetary Fund (IMF) dan pemberi utang lain memperbaiki akses pendidikan dengan meluncurkan “Inpres SD”. 

 

Mungkin ratusan ribu SD Inpres dibangun, guru dicomot dari sana sini. Semua gegap gempita mendorong akses Pendidikan Dasar ini. Setiap akhir Repelita, Angka Partisipasi melonjak dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merangkak naik, karena daya beli (Purchasing Parity) dan indikator Kesehatan Masyarakat juga membaik. PDB naik terus. Karena uang di saku terus bertambah, jelas malingpun bertambah. 

 

Kondisi seperti itu persis terjadi di USA saat usia 50-60 tahun kemerdekaan dan terjadi di Tiongkok pula saat ini. Wakil rakyat bisa dibeli, pemilik modal dilindungi dan lain sebagainya. Namun dalam kasus seperti ini, semua negara tidak menelantarkan pendidikan dan selalu menggali “basis” ke akar budaya setempat. 

 

Finlandia itu sempat dijajah Rusia komunis dan di Parlemen Partai Komunisnya sangat kuat, namun ketika merumuskan kebijakan perbaikan pendidikan, meski debat keras mereka solid sepanjang masa. Ketua Mao dianggap menjerumuskan Tiongkok dengan revolusi kebudayaan dan dampaknya, jutaan rakyat tewas. Toh Mao tidak disalah salahkan dalam isi pendidikan di Tiongkok, bahkan awal Revolusi Kebudayaan 1949 dipakai acuan awal “100 Tahun Maraton” untuk mengalahkan USA. 

 

Tahun 1998 Soeharto berhenti dan cobalah melihat statistik, Tahun 2000 Indonesia ikut dalam uji komparatif PISA, skor membaca 371, sesudah 18 tahun, di 2018 skor kita kembali ke 371. Jelas sangat banyak upaya perbaikan pendidikan kita, namun aku hanya menguji hasilnya, mengapa rerata mutu pendidikan kita justru memburuk ketika akses kepada pendidikan dan PDB kita semakin baik ? 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Begitu Berharganya Guru

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00