POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Perlukah Kami Memperingati 25 Tahun Reformasi?

Pengantar : Tulisan Ketua BEM UI 2023 di bawah, cermin kesenjangan berpikir sekaligus gugatan. Kesenjangan berpikir, karena gen Z sekarang ini menganggap mereka adalah generasi yang sama sekali terputus dan seolah ditimpa beban kesejarahan yang begitu berat dari terjadinya Reformasi 1998. Sekaligus gugatan, karena gen Z melihat dengan mata kepala sendiri, betapa nilai-nilai dari enam tuntutan reformasi yang di antaranya adalah pemberangusan KKN, saat ini menjadi tidak lebih hanya PKK (Permainan Kata Kata) saja. Nyaris semuanya gagal untuk bersikap konsisten! Lalu, apa yang seharusnya diperbuat? Gen Z atau generasi mahasiswa sekarang lah yang punya jawabnya. Mereka punya bekal ilmu yang tiap hari digeluti di kampus, punya alat kelengkapan lain termasuk kecanggihan teknologi digital sebagai motor perubahan, dan energi anak muda yang tidak ada habisnya (mestinya). Belum lagi kejernihan berpikir sebagai basic dari moral force. Seperti kata bang Dolah (Abdullah Hehamahua) tempo hari : Bagaimana mengatasi kerusakan zaman reformasi? tanyalah kepada anak muda kampus hari ini..!

RedaksiOleh Redaksi
May 23, 2023
Perlukah Kami Memperingati 25 Tahun Reformasi?
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Melki Sedek Huang

Ka BEM UI 2023

Bagi kami yang terlahir sebelum Reformasi 1998 tersauh, reformasi dan sejuta cerita tentangnya tersebut tak lebih dari sekadar cerita rakyat. Sama seperti kisah Jaka Tarub dan Sangkuriang, momentum di tahun 1998 tersebut tak pernah kami lihat dan rasakan, namun kami selalu dituntut untuk memahami makna dan mendalami betul moral ceritanya.

Para pelaku sejarahnya pun seringkali bertingkah sama, tak pernah untuk berhenti mengagungkan momentum yang dianggapnya sebagai sebuah karya terbesar. Bahkan, mereka menganggap karyanya itu lah yang paling membangun pondasi bangsa hingga hari ini. Belakangan, kita pun dipertontonkan tentang beberapa aktor lapangan momentum tersebut yang kini hanya menjadikan keagungan karya terbesarnya tersebut sebagai bahan jualan untuk turut menjual dirinya di kontestasi politik lima tahunan.

Apabila berkaca ke belakang, reformasi yang dimulai sejak 25 tahun lalu tersebut berjalan dan didasari oleh mimpi-mimpi yang besar. Jengahnya masyarakat akan rezim militeristik yang gagal hadirkan kebebasan dan kesejahteraan kemudian memancing lahirnya reformasi yang gemboknya dibuka oleh gelombang besar gerakan rakyat. Berbagai ide-ide pembaruan pun berusaha diwujudkan dan termaktub ke dalam tuntutan-tuntutan.

Kita tentu mengenal tuntutan reformasi, enam hal besar yang disinyalir menjadi nyawa dari perubahan yang diperjuangkan 25 tahun lalu tersebut. Kerinduan rakyat untuk menggapai mimpi-mimpi besarnya itu pun ditulis dalam enam tuntutan yang secara lugas menuntut adanya amendemen konstitusi, adili Soeharto dan kroninya, pencabutan dwifungsi ABRI, supremasi hukum, pemberian otonomi daerah secara luas, dan pemberantasan KKN.

Mimpi-mimpi itu adalah dasar dari kita menjalankan reformasi. Idealnya, semua pemimpin yang lahir dari rahim reformasi harus mampu dan berupaya penuh untuk mewujudkan mimpi-mimpi ini agar tak lagi tercipta kondisi negara sebelum reformasi yang dahulu dengan keras ditumbangkan tersebut. Namun, para pemimpin republik tampaknya terlalu terbawa suasana, dengan menganggap ini semua betul-betul hanya mimpi, lalu tidur siang dan melanjutkan mimpi-mimpinya yang lain.

📚 Artikel Terkait

KANTIN KEJUJURAN VERSUS PRINSIP 3-2-1

Ie Jok Montasik with Drama

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Rantai Doa

Jika reformasi menjanjikan adanya supremasi hukum, hari ini realitanya hukum sudah dikencingi. Dasar hukum tertinggi, konstitusi, tidak pernah dengan segan dilangkahi, proses-proses hukum sering dikangkangi, dan sulit untuk temukan aparat penegak hukum yang melayani dengan hati.

Hadirnya Perppu Cipta Kerja hanyalah satu contoh kecil bukti bahwa konstitusi telah dilanggar semau hati dan proses pembentukan produk hukum malah tak sesuai aturan hukum. Hukum tak pernah jadi panglima, selalu dikalahkan oleh kekuasaan, kita telah beranjak dari negeri hukum menjadi negeri kekuasaan.

Jika reformasi menjanjikan hilangnya dwifungsi ABRI, nyatanya hingga kini dwifungsi ABRI tak pernah tercabut dari akarnya. Para tentara dan polisi tak pernah berhenti jadi opsi untuk mengisi pos-pos di luar pertahanan, keamanan, dan ketertiban masyarakat yang bukan miliknya.

Para tentara dan polisi dianggap sebagai aktor serba bisa yang ahli mainkan semua peranan, mereka ditempatkan untuk mengurusi badan-badan publik, sektor sipil, olahraga, bahkan menjadi penjabat kepala daerah. Ide untuk mencabut dwifungsi ABRI nyatanya jalan di tempat.

Jika reformasi bermimpi akan adanya pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), nyatanya mimpi itu lah mimpi yang paling jauh dari waktu bangun tidur. Reformasi terbukti tak berhasil dalam menihilkan KKN dengan paripurna. Komisi Pemberantasan Korupsi yang malah dilemahkan, kolusi yang masih menggila, dan nepotisme yang dilakukan secara bangga masih jadi musuh besar yang menggerogoti masa depan generasi kami. Bagaimana kami bisa berjalan di jalan-jalan publik, memakai transportasi umum yang bagus, dan berobat gratis di masa depan jika uang untuknya dengan rakus dikorupsi sekarang?

Bagaimana kami bisa bermimpi jadi pemimpin dan kepala daerah jika nepotisme malah dianggap wajar?

Reformasi harusnya bermakna perubahan. Membanggakan reformasi berarti membanggakan perubahan. Pertanyaannya, apa perubahan yang ingin kita ingat dan banggakan jika hal-hal besar yang diperjuangkan tempo hari itu berjalan di tempat? Orde baru tidak berakhir, para kroco dan kroninya hanya berpindah tempat dan berkeliaran ke banyak muka di orde yang lebih baru. Orde baru tidak berakhir, hanya berganti topeng tanpa menanggalkan sisi buruknya yang kita harapkan hilang sejak dulu.

Selain itu, reformasi pun harusnya jadi milik semua. Reformasi harusnya turut menjadi milik para petani di desa-desa, milik para buruh di tiap pabrik, dan juga milik tiap kuli panggul di pasar. Reformasi bukanlah sekadar milik mereka yang empunya gelar terhormat dalam jabatan publiknya, apalagi milik mereka yang menyandang gelar mantan aktivis ’98. Oleh karena itu, hikmah reformasi harusnya dirasakan semua pihak, tidak hanya segelintir elit dan pemilik kapital. Jika ia sudah gagal dan berpotensi mengganggu yang ada di depan mata, saatnya menggagas reformasi yang lebih ideal versi generasi kita!

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Puisi-Puisi Mustiar Ar

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00