Budaya Mencatat pun Mati

Oleh Tabrani Yunis


Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Baca Juga

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan perkembangan teknologi digital di era ini, dirasakan semakin kencang atau kian pesat. Pesatnya kemajuan dan kehebatan teknologi digital tersebut mendorong banyak perubahan dalam tatanan kehidupan kita secara cepat dan pesat pula.  Perubahan- perubahan yang terjadi secara pesat dan dahsyat tersebut pada dasarnya membuat hidup lebih mudah dan bahkan hal-hal yang dahulu dirasakan sulit, kini semua menjadi sangat mudah. Bukan hanya mudaj, tetapi semakin efektif dan efisien . Bayangkan saja, bila dahulu dalam segi waktu tempuh, sebuah perjalanan yang harus ditempuh dalam waktu yang relatif lama, kini bisa ditempuh dalam waktu yang singkat. Misalnya dalam cara kita berkomunikasi saja. Dahulu, ketika kita ingin berkomunikasi dengan seseorang yang berada di suatu tempat yang jauh dari domisili kita, misalnya dengan seseorang  yang tinggal atau berada di benua Eropa, cara komunikasi kita yang lebih murah adalah lewat surat. Namun, dari segi waktu, relatif lama. Surat yang kita kirim memakan waktu  yang lama. Ya, tibanya ke alamat bisa berbulan lamanya. Kalau mau cepat, harus menggunakan jasa  pos express dengan tarif yang mahal. Kalau mau berkomunikasi secara langsung lewat telpon bisa dilakukan tetapi sangat mahal. Kini dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, semua itu dapat dilakukan atau dicapai dalam waktu yang sangat cepat, mudah dan murah. nah, semua menjadi sangat efektif dan efisien.

Di sektor pendidikan, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tersebut, juga telah banyak menbawa perubahan yang sangat signifikan. Teknologi telah mempermudah proses pembelajaran di lembaga-lembaga pendidikan. Bahkan bukan hanya mempermudah dan mengubah banyak metodologi pembelajaran, tetapi ikut mengubah perilaku masyarakat belajar di sekolah. Salah satu perubahan yang terjadi adalah mulai hilangnya kebiasaan mencatat.-

Ya,  mencatat, yang kata dasarnya catat itu, dalam kamus besar bahasa Indonesia ( KBBI) diartikan sebagai tindakan menuliskan sesuatu untuk peringatan ( dalam buku catatan).  Berdasarkan pengertian tersebut,  merupakan sebuah aktivitas atau tindakan menulis atau membuat catatan tentang sesuatu yang dianggap penting agar ketika diperlukan akan mudah diingat atau dilihat kembali. Dengan demikian, tujuan kita mencatat agar apa yang kita dengar tidak hilang berlalu begitu saja. Mencatat agar tidak lupa dengan pesan atau sesuatu yang kita harus ingat. Maka, sebenarnya aktivitas mencatat itu penting adanya agar apa yang sedang dipelajari tidak lupa atau hilang begitu saja.

Jadi mencatat dalam sebuah proses belajar merupakan aktivitas penting, agar semua pelajaran yang diterima di bangku pendidikan tidak lupa. Ini adalah salah satu dari manfaat kita mencatat atau membuat catatan. 

Nah, sejalan dengan semakin berkembang teknologi informasi dan komunikasi yang serba canggih dimana keberadaan dan kehadiran alat komunikasi  gadgets secara massal dan masif, membuat budaya mencatat terasa semakin pupus dari keseharian kita. Kita semakin jarang menyaksikan para siswa dan bahkan mahasiswa mencatat apa yang mereka sedang pelajari. Mereka hanya mendengar apa Yang dijelaskan guru atau dosen. Kalau pun ada, mereka lebih cendrung memotret dengan gadgets. Tentu tidak salah, namun sebenarnya kekuatan untuk ingatan lewat memotret  apa yang ditulis guru atau dosen di papan tulis tersebut, tidak memberikan kesal ingatan yang kiat dibandingkan dengan mencatat dengan tangan. Karena selama ini terbukti bahwa semakin banyak yang kita catat, semakin banyak yang kita ingat. Kemudian, ketika kita rajin mencatat, sesungguhnya banyak untungnya. Misalnya, dengan seringnya kita mencatat, maka akan sering kita melatih kemampuan menulis kita. Semakin sering kita menulis akan semakin banyak manfaat yang kita petik. Sayangnya kini kebiasaan atau budaya mencatat itu mulai menghilang dari ruang kebiasaan kita. Mungkin inilah salah satu konsekwensi dari berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi saat ini. Disrupsi, bukan hanya terhadap lapangan kerja, tetapi juga pada kebiasaan sehari- hari. Bagaimana anda melihat hal ini?

ADVERTISEMENT

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Penulis
Tabrani Yunis

Bio Narasi

Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari.

Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”

Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak.

Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.