Delapan Ribu Rupiah untuk Sebungkus Nasi Tanpa Lauk

Oleh: Ririe Aiko
Pagi itu, seperti biasa saya berangkat menuju tempat kerja. Sebelum memesan ojek online, saya sempat scrolling Instagram. Di antara berbagai unggahan yang lewat, perhatian saya tertuju pada sebuah berita tentang nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Saya sempat terkejut ketika mengetahui nilainya kini berada di kisaran Rp18.037 per dolar AS, angka yang menandakan rupiah telah menembus level Rp18 ribu.
Saya yang hidup dengan empat pekerjaan ini mulai kembali memutar otak, mencari satu side job lagi demi bisa merasa sedikit aman di tengah kondisi ekonomi yang semakin mencekik. Sesekali saya menghela napas panjang menghadapi kenyataan bahwa nilai tukar rupiah yang katanya tidak berpengaruh bagi orang desa, pada faktanya membuat banyak orang, termasuk kelas menengah, mulai megap-megap.
Saat pikiran itu masih berkecamuk dalam kepala, pengemudi ojek yang saya pesan datang.
Bajunya lusuh. Wajahnya tampak lelah. Beberapa bagian motornya bahkan diikat menggunakan tali rafia.
Tentu kondisi itu bukan karena si bapak malas merawat kendaraannya. Itu adalah wajah lain dari kemiskinan yang memaksa seseorang bertahan dengan segala keterbatasan.
Jujur, awalnya saya agak ngeri melihat kondisi motornya. Tapi karena si bapak terus meyakinkan saya bahwa motornya masih aman digunakan, saya pun tetap naik.
Dan perjalanan itu pun dimulai.
Kali ini perjalanan bukan hanya tentang pergi dari rumah menuju tempat kerja.
Ini adalah perjalanan tentang delapan ribu rupiah.
Di tengah perjalanan kami mulai mengobrol.
Si bapak bercerita bahwa saya adalah penumpang pertamanya hari itu. Padahal waktu sudah menjelang siang, tapi ia baru mendapat orderan setelah menunggu hampir lima jam.
Tarif perjalanan saya sekitar dua belas ribu rupiah. Namun uang yang diterimanya setelah dipotong berbagai biaya aplikasi hanya sekitar delapan ribu rupiah.
Delapan ribu rupiah itu sangat ia tunggu.
Dengan uang itulah ia berencana membeli nasi untuk anaknya di rumah.
Saya sempat membayangkan, delapan ribu rupiah hari ini bisa membeli apa?
Barangkali hanya sebungkus nasi putih tanpa lauk.
Entah mengapa, membayangkan ada seorang anak yang menunggu sebungkus nasi tanpa lauk di rumah membuat dada saya terasa begitu sesak.
Si bapak lanjut bercerita bahwa harga kebutuhan pokok terus melonjak naik. Sementara penghasilannya sebagai pengemudi ojek kadang tidak sampai seratus ribu rupiah dalam sehari.
Dengan nominal penghasilan yang tidak stabil, si bapak sangat kesulitan menghadapi kebutuhan hidup yang terus meroket.
Sebagai pekerja dengan penghasilan harian, si bapak berada di posisi yang paling rentan ketika kondisi ekonomi memburuk. Saat harga-harga naik, ia tidak bisa serta-merta menaikkan penghasilannya. Ketika masyarakat mulai berhemat karena biaya hidup yang semakin mahal, orderan pun ikut berkurang.
Akibatnya, ia terjepit dari dua arah sekaligus. Pemasukan semakin sulit didapat, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Delapan ribu rupiah yang bagi sebagian orang mungkin terlihat kecil, hari itu menjadi sesuatu yang sangat berarti baginya.
Saya terdiam lama.
Entah kenapa cerita si bapak pengemudi ojek hari itu terasa jauh lebih berat daripada berita ekonomi yang saya baca pagi tadi.
Sedih.
Kecewa.
Geram.
Tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Itulah perasaan yang saya rasakan, dan mungkin juga dirasakan banyak orang saat ini ketika menghadapi kondisi ekonomi yang kian hari terasa semakin berat.
Sesampainya di tujuan, saya memberikan sedikit uang tambahan kepada si bapak.
Tidak banyak.
Namun yang membuat saya terkejut, matanya langsung berkaca-kaca.
Beberapa kali ia mengucapkan terima kasih sambil menundukkan kepala.
Saat itu saya sadar, yang membuatnya terharu bukan semata karena nominal uang yang ia terima.
Bagi dirinya, uang itu bukan sekadar uang.
Uang itu adalah nasi yang akan dibawa pulang.
Uang itu adalah sesuatu yang bisa membuat keluarganya makan hari itu.
Uang itu adalah hasil perjuangan yang sejak pagi ia tunggu.
Sesaat saya kembali teringat pada nilai tukar rupiah yang sejak tadi memenuhi kepala saya.
Ketika pemerintah berkata bahwa masyarakat desa tidak akan terdampak karena mereka tidak memakai dolar.
Ya, mungkin itu benar.
Mereka memang tidak membeli barang dengan dolar.
Tapi mereka membeli beras. Mereka membeli bensin. Mereka membeli minyak goreng. Mereka membeli kebutuhan hidup yang harganya perlahan ikut bergerak naik ketika nilai rupiah melemah.
Memang rakyat kecil tidak bertransaksi menggunakan dolar. Namun kehidupan mereka tetap terhubung dengan sistem ekonomi yang dipengaruhi dolar setiap hari. Ketika rupiah melemah, biaya impor bahan baku meningkat, biaya distribusi ikut terdorong naik, dan perlahan harga berbagai kebutuhan hidup ikut menyesuaikan.
Mungkin dampaknya tidak langsung terasa dalam sehari atau dua hari. Namun sedikit demi sedikit daya beli masyarakat akan tergerus. Uang yang dulu cukup untuk membeli beberapa kebutuhan, kini semakin cepat habis.
Dan kelompok yang paling dulu merasakan dampaknya adalah mereka yang hidup dari penghasilan harian. Mereka yang tidak memiliki gaji tetap. Mereka yang harus bekerja hari ini untuk bisa makan hari ini juga.
Karena itulah, pelemahan rupiah bukan sekadar angka yang muncul di layar berita ekonomi.
Pada akhirnya, dampaknya akan sampai ke pasar tradisional, ke warung beras, ke tangki bensin motor, hingga ke meja makan masyarakat.
Tentu saya tidak bisa mengatakan bahwa pelemahan rupiah adalah satu-satunya alasan mengapa si bapak hidup dalam kesulitan. Kemiskinan jauh lebih rumit daripada sekadar angka kurs mata uang. Namun pagi itu saya melihat bagaimana gejolak ekonomi yang tampak jauh di layar berita perlahan menjalar hingga ke kehidupan orang-orang kecil.
Bukan dalam bentuk grafik ekonomi.
Bukan dalam bentuk angka-angka yang tampil di layar berita.
Melainkan dalam mata seorang kepala keluarga yang berkaca-kaca karena semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya.













